Saya mengandaikanmu serupa arak

Saya mengandaikanmu serupa arak yang saya tenggak waktu malam berkelindan dengan hitam, lalu barisan jangkrik — yang beradu dengan derum mesin-mesin peradaban — menginjak sepi di batok kepala, sementara dingin luruh lepas dari jangat dan jatuh ke lembah sempit menggasak bunyi suara masa yang telah lalu.

Saya mengandaikanmu serupa arak yang saya tenggak saat malam berkelindan dengan hitam, lantas senyum dalam potret usang menikam dendam hingga enyah gigil kali ini, meski kekalahan masih bersembunyi di balik desah nafas dengan belati yang siap menghunus bagian tubuh sebelah kiri.

Saya mengandaikanmu serupa arak yang saya tenggak ketika malam berkelindan dengan hitam, kemudian wajahmu tegak menjunjung rindu di ingatan, dan kini saya punya alasan untuk terus berdiri menantang kenyataan dan masa depan tanpa rasa takut terbunuh sia-sia di lembar takdir yang getir. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s