Merayakan Kartini

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: jadilah perempuan yang memiliki hati sekuat jati dan isi kepala yang terus berotasi.

Dan apa yang diketahui anak tersebut dari kehidupan perempuan-perempuan itu membangunkan jiwa dalam hatinya untuk memberontak terhadap ke-Raden Ayu-an; adat yang berabad-abad selalu dijunjung tinggi: gadis-gadis harus kawin, harus menjadi milik lelaki, tanpa bertanya apa, siapa, dan bagaimana!
— R. A. Kartini

Rayna, sayang,.

Kaum perempuan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, layak bersyukur karena memiliki sosok perempuan bernama Raden Adjeng Kartini yang pernah mendobrak zaman dengan tulisan-tulisannya yang mengabarkan kepedihan nasib perempuan di bawah budaya feodal-patriarkis yang sangat kental di lingkungan sosialnya pada saat itu. Kartini kemudian disandingkan dengan sosok pahlawan dari kaum perempuan lainnya — baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia — seperti Martha Christina Tiahahu, Estella Zeehandelaar, Leila Khaled, Dewi Sartika, hingga Megawati Sukarnoputri, di mana semua perempuan itu dianggap sebagai sosok yang mampu membawa pencerahan tentang emansipasi kaum perempuan.

Ide tentang emansipasi dan kesetaraan hak bagi kaum perempuan mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya jumlah perempuan yang ikut bergiat dalam ranah publik saat ini. Pada zaman dahulu, Ray sayang, perempuan selalu “disimpan”, hanya menjadi “konco wingking”, dan martabatnya cuma setara dengan benda-benda yang melambangkan kejantanan seorang lelaki, namun kini kaum perempuan perlahan mulai mampu lepas dan bahkan melampaui stereotip tersebut.

Lalu, apakah semuanya menjadi baik-baik saja? Tentu saja tidak, Ray! Dengan peradaban yang masih menerapkan sistem berbau feodal-patriarkis-kapitalistik, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk benar-benar bisa meraih kebebasan dalam kehidupan manusia saat ini, khususnya bagi kaum perempuan di seluruh dunia. Hal ini tidak bisa lepas dari pola pikir yang kemudian dimapankan dalam sistem kehidupan harian, baik oleh perempuan, lelaki, maupun transgender.

Pada abad 19, keadaan masyarakat Indonesia masih sangat terbelakang, khususnya kaum perempuannya yang masih terkurung oleh adat nenek moyang. Kaum perempuan pada masa itu “hanya” dibebani kewajiban untuk mengurus dan mengatur rumah tangga serta mengasuh anak-anaknya saja. Sejak masih kecil, kaum perempuan sudah dididik untuk berbakti dan menurut kepada kaum lelaki; kaum perempuan harus sabar, pasrah, dan menyerah dalam segala hal, Ray.

Lalu muncullah Kartini yang memandang adat yang berlaku pada saat itu sebagai suatu tradisi yang kaku dan mati. Kartini menganggap bahwa kaumnya pada saat itu tidak memiliki — atau bahkan tidak mengenal — hak apa pun sebagai manusia: yang tersisa hanyalah ketertundukan, ketaatan, dan kepatuhan total yang sudah usang dan menyesatkan. Kartini pun berusaha keras untuk merombak adat-istiadat yang membelenggu kaum perempuan pada saat itu.

Ironisnya adalah hal-hal esensial yang pernah diperjuangkan oleh Kartini menguap menjadi sesuatu yang sia-sia jika melihat perkembangan “Kartini” pada zaman modern saat ini, terutama saat perayaan Hari Kartini di Indonesia. Hari Kartini yang diperingati pada tanggal 21 April (sesuai dengan tanggal kelahiran R. A. Kartini) setiap tahunnya hanya menjadi sekadar perayaan seremonial tahunan yang tidak memiliki arti apa-apa, dengan hasrat dan implementasi yang sebenarnya justru mengkhianati apa-apa yang diperjuangkan oleh Kartini. Hal ini terlihat dalam pengultusan (secara paksa) simbol-simbol Jawa seperti mengenakan pakaian adat kebaya untuk merayakan Hari Kartini di lingkungan sekolah dan institusi formal lainnya. Setiap orang juga bakal bergaya layaknya seseorang dari kalangan ningrat Keraton Jawa. Asal kamu tahu, Ray, pada masa Orde Baru, Soeharto berhasil memanfaatkan sentimen Jawa yang penuh dengan aroma mistis untuk membangun imperium keningratan yang otoriter dan sangat kaku.

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Kartini lebih menyukai berbicara menggunakan bahasa Belanda ketimbang bahasa Jawa. Saat-saat di mana Kartini menerima pelajaran kerajinan tangan dari seorang perempuan asal Belanda diakuinya sebagai momen kenikmatan karena pada jam-jam perlajaran itulah Kartini memiliki kesempatan untuk berbicara dalam bahasa Belanda. Bagi Kartini sendiri, bahasa Belanda merupakan simbol kemajuan dan pencerahan, sementara bahasa Jawa merupakan simbol belenggu.

Rayna, sayang. Kartini menentang keras praktik feodalisme, namun para perempuan masa kini justru melestarikannya. Kartini memberontak terhadap kungkungan adatnya, namun ironisnya kaum perempuan masa kini yang katanya mewarisi semangat juang dan berusaha mewujudkan cita-citanya malah berjalan mundur serta mengamini segala hal yang dulu dilawan oleh Kartini.

Kartini juga tidak mengharuskan agar perempuan menjadi pemimpin — Kartini “hanya” menuntut kesetaraan hak antara kaum perempuan dan lelaki. Dalam konteks ini, saya pikir para feminis terkadang terlalu berlebihan yang seakan menuntut balas dendam sejarah dengan berusaha untuk menundukkan dan mendominasi kaum lelaki di bawah selangkangan perempuan.

Ide tentang emansipasi dan kesetaraan hak kaum perempuan bukannya berjalan tanpa konsekuensi. Dalam peradaban neoliberal dan kapitalisme global saat ini bisa saja hal itu hanya akan berujung pada surplus tenaga kerja perempuan murah yang tentu saja akan selalu menguntungkan kaum pemodal bangsat dalam kerangka ekonomi kapitalistik. Dan Ray, saat ini sudah waktunya untuk tidak hanya berbicara mengenai relasi kontrol antara lelaki dan perempuan saja, melainkan jauh lebih luas: relasi sosial, politik, dan ekonomi antarmanusia serta organisme lainnya.

Dan oh iya, untuk mama, kamu, dan para pejuang perempuan pemberani di luar sana: selamat Hari Kartini, dan juga Hari Bumi. {}

Advertisements

3 thoughts on “Merayakan Kartini

  1. Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta

    Rayna, putri yang suci
    terus isaplah puting susu ibumu
    yang kesuciannya lebih murni dibanding merek susu kebinatangan
    agar kelak mata-mata bajingan tak melecehkanmu
    dan buah dadamu tidak dilumat hina oleh pemuda berwatak titan

    Primastiti, sang dewi abdi
    jangan kauragu berada di bawah ketiak ayahmu
    hirup aromanya segenap jiwa
    sebab itulah aroma kehidupan yang mesti kautahu
    bahkan, tahi ayahmu jauh lebih wangi
    dibanding bau ketidakadilan di bumi saat ini

    Aku sungguh tidak ingin kau menjadi gadis manja, Rahajeng
    merengek keras untuk boneka palsu tak bermutu
    sebab saat manja itu kaulakoni
    di saat itu jugalah, jutaan saudaramu diperkosa paksa oleh serigala berkoloni
    entah di atas meja sidang, di atas meja jenderal, di atas meja sembahyang bahkan di atas meja makan yang penuh tulang ikan

    Bagusta, teruslah berjalan
    lewati saja jalan-jalan sempit yang dikencingi kumpulan biadab pesi
    perjuangkan apa-apa yang menyesakkan jantung persegimu
    jangan takut–jangan pernah ragu
    meskipun itu adalah mati–karena mati adalah hal pasti.

    Berjuanglah, Rayna: Lawanlah–lawan!

    -Dea(th)

    : Puisi ini saya persembahkan khusus untuk Rayna–yang dari teruntuk namanya–dihasilkan tulisan yang menyentuh batok dan jantung persegi. Panjang umur Rayna, panjang umur perlawanan!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s