#BanalitasHarian: sebelum dan sesudah reuni tipis, serta remontada yang gagal

Hari Selasa kemarin saya menuntaskan janji temu kangen dengan salah satu kawan (yang dulu sama-sama sok idealis dan sama-sama congkak dengan mendaku diri sebagai) anarkis bernama Bella. Selepas membudak, saya memacu motor matic pinjaman ke tempat ketemuan yang telah kami sepakati sebelumnya: sebuah warung kopi lumayan asyik yang dipenuhi dengan anak-anak muda yang sibuk dengan gadget mereka masing-masing di sekitaran Pasar Merjorasi, Malang. Setelah memesan secangkir kopi ijo tanpa gula untuk saya dan segelas teh susu panas untuk Bella, kami memilih spot yang kami anggap paling pas untuk merayakan mendung sore itu dan kemudian mulai berbincang dan menggosipkan tentang apa pun — mulai dari saling bertukar kabar dan bernostalgia dengan meromantisir masa lalu, masa-masa di mana kami masih unyu-unyu serta terlampau naif dan (sok) idealis, bergosip tentang kabar kawan-kawan seperjuangan dulu, bercerita tentang film-film yang pernah kami tonton dan buku-buku yang telah kami baca, hingga membahas isu-isu kekinian (dari sudut pandang [sok] anarkis masing-masing) macam Pilkada Jakarta, perlawanan para pejuang konflik agraria, dan momen seremonial tahunan Hari Kartini.

Yang intinya adalah saya dan Bella sepakat bahwa kami memang tidak “sekenceng” dan tidak (sok) garang seperti yang dulu. Setelah dihajar kenyataan dengan sedemikian bangsatnya, kami sekarang lebih selow dan mulai menertawakan diri masing-masing, namun kami masih keukeh untuk tidak meremehkan ketololan mayoritas dan kebanalan massa. Pembodohan macam itulah yang membikin Donald Bebek, er maksud saya — Donald Trump, menjadi Presiden Amerika Serikat. Kami berusaha setia dengan “keanarkisan” kami, berupaya mempraktikkan “anarki” dengan cara masing-masing, dan mencoba mendekonstruksi hidup masing-masing dengan “seanarkis” mungkin di sela-sela rutinitas harian yang semakin banal.

Setelah membunuhi berbatang-batang rokok dan menandaskan minuman masing-masing, kami mengakhiri sore itu dengan janji bertemu kembali yang entah kapan. Saya memacu kembali motor matic pinjaman, bergabung dengan wajah-wajah lesu akibat kemacetan lalu lintas, menuju toko buku milik kawan saya lainnya. Dan sial bagi saya, toko buku kawan saya tutup pada hari itu. Entah karena apa, mungkin kawan saya itu sedang berlibur ke Jakarta dan sok-sokan membela salah satu pasangan calon gubernur di pilkada. Entahlah.

Dengan perasaan kecewa dan malas-malasan, saya merayap di sela-sela jalanan yang masih macet menuju pulang ke kamar kos untuk kemudian membuka laptop dan mulai menonton film Crimson Tide (1995) garapan Tony Scott. Film ini mengambil latar belakang selama periode kekacauan politik di Federasi Rusia di mana para ultranasionalis Rusia mengancam untuk meluncurkan rudal nuklir ke Jepang dan Amerika Serikat. Fokus film ini terletak pada perselisihan pendapat antara wakil komandan kapal selam nuklir Amerika Serikat dan komandannya yang lebih berpengalaman, terkait interpretasi masing-masing atas perintah untuk menembakkan rudal mereka: sebuah pertempuran internal antara dua kehendak yang berlainan. Yang unik dari Crimson Tide adalah film ini tidak menawarkan pilihan yang jelas antara “mana yang betul/baik” dan “mana yang salah/jahat”. Sang komandan kapal selam nuklir mungkin melanggar prosedur dan kode etik militer, namun dia punya alasan yang kuat dan bagus untuk mendukung tindakannya. Sementara wakil komandannya, yang takut dengan kemungkinan terjadinya perang nuklir, bisa saja membikin Amerika Serikat luluh-lantak dihantam rudal nuklir Rusia. Perselisihan pendapat ini ditangani dengan brilian oleh Scott hingga mampu memunculkan atmosfer menegangkan dan rasa ingin tahu di sepanjang filmnya. Crimson Tide adalah jenis film perang langka yang tidak hanya membikin tegang siapa pun yang menontonnya, namun juga mendorong penonton untuk benar-benar memikirkan dan membahas isu permasalahan yang ditampilkan film ini usai menontonnya.

(Saya masih ingat sewaktu kecil dulu saya selalu langsung mematikan televisi dan bergerak malas-malasan ke kamar tidur ketika Crimson Tide ditayangkan di program Layar Emas RCTI atau Bioskop Trans TV. Saya, dari dulu sampai sekarang, sebenarnya kurang begitu suka menonton film perang. Saya bakal menggerutu dan mengumpat sembari rebah di kasur jika mendapati hiburan malam di televisi cuma berisikan film perang macam Saving Private Ryan (1998) atau Crimson Tide. Dan, berpuluh-puluh tahun kemudian, saat akhirnya mulai tertarik dengan dunia sinema, saya harus menarik umpatan itu. Crimson Tide ternyata film perang yang bagus, nyaris menyamai level kerennya Das Boot [1981], The Hurt Locker [2008], dan Inglourious Basterds [2009].)

Beberapa hari sebelumnya, saya menonton dua film berjudul Susana (1951) karya Luis Buñuel dan La Belle Verte (1996) garapan Coline Serreau. Susana berkisah tentang seorang gadis dengan ketidak-stabilan mental yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa ke sebuah perkebunan di mana dia berhasil mengganggu rutinitas para pekerja perkebunan dan mengacaukan relasi keluarga pemilik perkebunan. Susana dipenuhi dengan simbolisme unik dan sentuhan surealisme khas Buñuel. Karakter protagonisnya, Susana, adalah seorang gadis yang cantik, menggairahkan, dan selalu menggoda dengan menurunkan bajunya untuk memperlihatkan kemulusan kulitnya; ini adalah simbolisme dari Buñuel yang ingin bilang: “Dalam sebuah tatanan sosial masyarakat yang menindas secara seksual, seks bisa menjadi senjata yang cukup efektif untuk bertahan hidup.” Pada akhirnya, Susana menjadi bukti bahwa karya roman picisan Buñuel juga memiliki jiwa surealisme dan keunikan yang sangat khas. Di rangkaian adegan klimaks Susana, saya sayup-sayup mendengar Buñuel berbisik: “Viva la Muertita!

Sedangkan La Belle Verte menceritakan tentang pengalaman seorang utusan perempuan dari sebuah planet utopia ketika mengamati kehidupan di Bumi. Utusan perempuan bernama Mila ini menganggap bahwa orang-orang di Bumi hidup dalam kondisi yang buruk dan mengerikan, salah duanya adalah penggunaan uang sebagai alat tukar dan pemakaian mobil sebagai alat transportasi; di planetnya yang utopis, semua orang terlihat bahagia dengan kehidupan yang berbasiskan (kembali ke) alam. Serreau juga menceritakan bahwa tokoh penting dalam sejarah kehidupan manusia di Bumi — macam Yesus dan Johann Sebastian Bach — ternyata berasal dari planet utopianya Mila. Di rangkaian adegan penutup film yang tidak terlalu klimaks, La Belle Verte mengajukan solusi agar orang-orang Bumi bisa terlepas dari kehidupan distopia mereka: menyingkirkan segala hal yang selama ini telah membahayakan dan merusak kehidupan di Bumi, misalnya dengan membuang peralatan elektronik, mobil, dan uang dalam sebuah aksi protes massal di jalanan. Berani?

Semalam, sepulang dari membudak, saya menonton dua film lain dari lima sisa film yang ada di laptop butut saya. Film karya Buñuel berjudul Death in the Garden (1956) saya habiskan sembari menggasak seporsi Nasi Goreng Jancok langganan. Mengambil setting di tengah-tengah gejolak revolusi para pekerja tambang di perbatasan Brasil, film ini menceritakan tentang sekelompok buronan — seorang petualang aneh, seorang pelacur lokal, seorang misionaris, seorang pekerja tambang berlian dan putrinya yang tuli dan bisu — yang melarikan diri ke hutan. Dengan kelaparan, kelelahan, dan kehilangan identitas, kelompok buronan ini mengembara dan bertahan hidup di hutan sembari berharap bisa menyebrangi perbatasan dan memulai hidup baru yang membahagiakan. Death in the Garden difilmkan pada masa Buñuel mengasingkan diri ke Meksiko dan namanya mencuat sebagai salah satu figur penting dalam sinema surealisme. Film ini dianggap sebagai bayangan cermin psikologis dari Spanyol era Jenderal Francisco Franco yang sangat dibenci oleh Buñuel dengan menyiratkan pesan bahwa kita harus tahu bagaimana caranya membangun dan menghidupi hidup kita berdasarkan fakta yang ada. Death in the Garden merupakan film kedua dari trilogi Buñuel yang mencoba untuk mengobservasi moralitas aksi revolusi bersenjata yang didahului oleh Cela s’appelle l’aurore (1956) dan ditutup dengan La Fièvre Monte à El Pao (1959).

Setelahnya saya menonton Autumn Sonata (1978), film drama keren yang menjadi satu-satunya kolaborasi antara dua Bergman paling kondang di dunia sinematik: Ingmar Bergman, sutradara jenius yang pernah membikin film keren macam The Seventh Seal (1957) dan The Silence (1963), dan Ingrid Bergman, aktris monumental yang pernah membintangi film-film keren seperti Casablanca (1942) dan Gaslight (1944). Di Autumn Sonata, Ingrid berperan sebagai seorang pianis klasik yang dingin (Charlotte Andergast) dan mampu mengimbangi pesona mengagumkan dari Liv Ullmann yang berperan sebagai anak yang telah diabaikan (Eva Andergast) demi karier di dunia musik. Selama sehari semalam yang panjang dan menyakitkan, Eva dan Charlotte menghabiskan waktu bersama setelah berpisah sekian lama hanya untuk meluapkan kegelisahan, kebencian, amarah, dan perselisihan pahit tentang hubungan mereka berdua. “Pas de deux” ini direkam dengan evokatif dan brilian oleh sinematografer hebat, Sven Nykvist. Autumn Sonata merupakan penampilan terakhir Ingrid di layar lebar, dan juga menjadi film terakhir yang dibikin oleh Ingmar untuk dirilis di bioskop; film-film garapan Ingmar setelah Autumn Sonata, meski akhirnya diputar di bioskop, pada dasarnya dibikin untuk penayangan televisi.

Menyoal perayaan Hari Kartini yang selalu jatuh tepat pada 21 April tiap tahunnya, saya merasa bahwa acara seremonial itu selalu diwarnai dengan debat pro dan kontra — tidak ada bedanya dengan debat perayaan-perayaan lainnya di sini. Hari Kartini selalu saja menjadi debat usang yang terus-menerus didaur-ulang sedemikian rupa setiap tahunnya perihal siapa dan apa peran penting Kartini, pantas atau tidak Kartini disebut sebagai pahlawan nasional, dan — ini yang paling menyebalkan — tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap. Dari sekian banyak debat yang selalu mewarnai perayaan Hari Kartini, entah di media-sosial atau di kafe-kafe mewah, ada empat tipe kelompok yang selalu terlibat. Dan setelah melakukan ritual menyantap satu porsi Nasi Mi Telor Keprek, mengisap sebatang-dua rokokputih, menyeruput kopihitam, menggoda kekasih yang sedang sibuk bekerja, serta menonton video klip musik Radiohead dan Daughter, saya langsung menuliskan hasil riset murahan saya tentang empat tipe kelompok yang selalu memeriahkan debat Hari Kartini di bawah ini:

(1) Kelompok yang mengultuskan tokoh-tokoh perempuan yang pergi berperang dan menganggap Kartini kurang heroik. Yang termasuk dalam tipe ini adalah perempuan-perempuan yang kerap menyebut dan menjadikan Cut Nyak Dhien atau Leila Khaled sebagai inspirasi, dan menganggap diri mereka superkeren ketika mampu melakukan hal-hal yang mayoritas dilakukan oleh kaum lelaki — atau, dengan kata lain, mereka yang termasuk dalam tipe ini menganggap bahwa perempuan feminin itu sama sekali tidak keren. Namun mereka lupa bahwa Khaled dan Cut Nyak Dhien memilih angkat senjata sebagai metode perjuangan karena pilihan itu memang ada dan tersedia bagi mereka berdua. Sementara pilihan bagi Kartini — atau bagi para aktivis perempuan di Arab Saudi, misalnya — sangat terbatas. Kampanye para aktivis perempuan Arab Saudi agar diperbolehkan menyetir mobil sendiri sudah bisa saya anggap sebagai aksi revolusioner untuk sebuah gerakan perlawanan yang berada di tengah-tengah masyarakat dengan budaya yang masih mengekang perempuan, yang hanya mengizinkan perempuan untuk maju-mundur-cantik di dalam rumah atau ketika bepergian keluar rumah harus ditemani pasangannya yang sudah muhrim. Sedangkan kaum lelaki yang masuk dalam kategori tipe ini adalah mereka yang biasanya menganggap bahwa perempuan mandiri dan kuat itu keren, namun tidak mau menjalin relasi atau hubungan apa pun dengan perempuan-perempuan mandiri. Lelaki tipe ini sadar dan paham bahwa mereka sebenarnya adalah pengecut yang diuntungkan oleh budaya patriarki. Ngehek betul, kan?

(2) Kelompok yang mengultuskan sifat keibuan. Yang termasuk dalam tipe kedua ini adalah orang-orang hasil didikan zaman Orde Baru. Mereka menelan mentah-mentah doktrin bahwa kaum perempuan memang sudah seharusnya feminin. Boleh bekerja di luar rumah, namun urusan dapur dan selangkangan pasangan tidak berantakan. Harus bisa merias diri, asalkan tidak terlalu menor agar tidak dianggap sebagai pekerja seks. Mereka juga termasuk orang-orang yang terlalu protektif dan terlampau posesif: yang perempuan memperlakukan lelaki layaknya anak kecil bandel yang harus diawasi dengan superketat, sedangkan yang lelaki memandang perempuan sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi dan dibela (selain dihormati). Ngehek betul, kan?

(3) Kelompok yang mengultuskan kemurnian Kartini. Orang-orang dalam tipe ini biasanya bakal melakukan aksi protes perihal perayaan Hari Kartini yang cuma menjadi ajang pamer kebaya dan konde terbaru. Mereka yang termasuk di dalam kelompok ini biasanya akan memposting berbagai macam kutipan dari surat Kartini dan mencoba menafsir-ulang tentang perjuangan Kartini agar sesuai dengan banalitas kondisi hidup harian saat ini. Jika dibandingkan dengan dua tipe sebelumnya, tipe ketiga ini terkesan (sok) intelektual dan (sok) idealis. Ngehek betul, kan?

(4) Kelompok yang mengikuti dan menikmati perdebatan tentang perayaan Hari Kartini sembari ngopi, ngudud, dan makan camilan, termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang membaca catatan ini sambil senyum-senyum sendiri. Bagi mereka yang ada di kelompok keempat ini: “Peduli setan! Mau Kartinian, mau enggak, atau apa pun itu, yang paling penting adalah bisa piknik unyu di taman kota, atau nyemil-nyemil cakep di kafe ternama.Ngehek betul, kan?

Ah, sudahlah…

Sepekan terakhir ini saya menamatkan dua buku bacaan. Yang pertama judulnya Simulakra Sepakbola, berisi kumpulan esai tentang sepakbola yang ditulis oleh Zen RS sambil memberikan pertanyaan: “Jika saat ini pornografi mulai dianggap lebih sensual ketimbang aktivitas seks, maka bisakah tayangan sepakbola di stasiun televisi sekarang ini dianggap lebih ‘sporty’ daripada permainan sepakbola itu sendiri?

Buku bacaan kedua yang berhasil saya tamatkan kemarin judulnya Kelir Slindet yang ditulis oleh Kedung Darma Romansha dengan keliaran tertentu untuk membalas dendam pada tanah kelahiran yang sangat dicintainya. (Zina, umpatan, tragedi, sinis, mabuk, kemarahan, sejarah nenek moyang, petuah leluhur, mitos yang masih dipercaya, kenangan tentang kampung halaman, latar yang semrawut dengan kenestapaan langit pedesaan: semua bersilang-sengkarut di buku ini.) Safitri yang sedang hamil dan Mukimin kabur: pergi meninggalkan rumah yang nyaris rapuh dimakan waktu, pergi meninggalkan kepongahan lingkungannya, pergi meninggalkan segala hal yang telah menggerogoti sebagian hidupnya, pergi meninggalkan lembar dongeng yang lupa ditutup — entah bersama, entah sendiri-sendiri.

Sekarang ini saya masih sampai pada bab awal dari Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola tulisan Darmanto Simaepa, sementara Larung-nya Ayu Utami masih terbungkus rapi di atas meja serbaguna di kamar kos saya. Selain itu, saya mencoba menikmati waktu dalam pekan banal kemarin ini dengan daftar putar yang berisikan album-album musik pop: Warm House (2015) – MarcoMarche, Telisik (2014) – Danilla Riyadi, Talking Days (2016) – Christabel Annora, Seluas Harapan (2015) – Endah N Rhesa, Menyanyikan Puisi (2015) – AriReda, Merah Bercerita (2015) – Merah Bercerita, The Masterpiece of Rinto Harahap (2010), Intersisi (2016) – Musikimia, In Medio (2009) – Anda Perdana, Home (2014) – Mocca, A Head Full of Dreams (2015) – Coldplay, Happy Coda (2013) – Frau, En t’attendant (2011) – Mélanie Laurent, Dunia Milik Kita (2016) – Dialita, Distance (2015) – Cabrini Asteriska Widiantini, Anarchy (1994) – Chumbawamba, dan Ada Apa dengan Cinta? (2002) – Melly Goeslaw.

(Saya sengaja menggunakan frasa “menikmati waktu” dalam paragraf sebelum ini. Karena saya tidak mungkin memakai frasa “menghabiskan waktu”: dengan cara apa kita bisa menghabiskan waktu? Memangnya waktu bisa dihabiskan, huh? Bukankah, pada akhirnya, hidup kita sendiri yang bakal habis dilahap waktu? Sebab manusia adalah fana, sementara waktu itu abadi, jadi mari kita nikmati.)

Dan, tadi pagi, kabar menyenangkan itu (“Tim bola kesayanganmu lolos ke semifinal UCL musim ini, kampret! Aku nonton dari awal sampai Messi nunduk lesu di akhir pertandingan. Kamu kok sepi? :p”) tiba dengan cara yang teramat mengesalkan: pesan WhatsApp dari sang kekasih. Iya, Juventus — kesebelasan kesayangan saya — tidak senasib dengan Paris Saint-Germain (PSG) yang kaya dan congkak itu. Juve, dengan kerendahan-hati dan kecerdikannya, mampu membungkam hasrat remontada Barcelona di Camp Nou dan memastikan diri lolos ke babak semi-final Liga Champions Eropa 2016/17. Yang saya sesalkan adalah saya melewatkan pertandingan perempat-final leg kedua itu gara-gara ketiduran sehabis menonton Autumn Sonata dan baru bangun jam lima pagi. Bangsat! Asu! Bangsat yang keasu-asuan! Asu yang kebangsat-bangsatan! Saya mengetik tulisan ini dengan perasaan sesal dan kesal yang masih menggunung karena hal itu, sembari menikmati parade kesedihan dan pembelaan dari pendukung Barcelona atas kegagalan remontada dan kematian “sepakbola indah” di Camp Nou semalam. Yang terpenting bagi siapa pun yang mencintai Barcelona adalah jangan lupa makan! Ingat, meratapi kekalahan itu juga membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Ting-a-ling, hahaha! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s