Pergi pagi, pulang petang

Pergi pagi pulang petang,
menapaki liku jalan panjang
tidak ke hutan, bukan pula ke ladang
sebab ladang dan hutan telah lama hilang
tertimbun bangunan tinggi menjulang.

Pergi pagi pulang petang,
di dalam bangunan itu ia membudak banting tulang
di antara deru nyanyian mesin yang sumbang
demi mempertahankan hidup yang gamang
mulai dari pangan hingga sandang berupa kaos kutang.

Tersisa sedikit keriangan saat pulang
dengan bahu yang masih tegang
dan air mata berlinang,
ia menyantap habis sepiring utang.

Ketika perut sudah kenyang,
ia menuju lelap supaya esok bisa pergi saat pagi menjelang
dan kembali pulang ketika petang menjulang. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s