#BanalitasHarian: euforia, emansipasi, dan bla … bla … bla …

Mari memulai catatan pekan ini dengan kabar membahagiakan: Juventus mempecundangi Barcelona tiga gol tanpa balas dalam pertandingan leg pertama babak perempat-final Liga Champions Eropa 2016/17 pada Rabu dinihari kemarin. Barcelona, dengan alien yang bisa bermain bola bernama Lionel Messi itu, tidak berkutik dan dibikin frustasi oleh Catenaccio dan pendekatan pragmatisnya Max Allegri. Sepasang gol Paulo Dybala di babak pertama, ditambah gol Giorgio Chiellini di babak kedua, disempurnakan oleh berbagai penyelamatan gemilang dari Gianluigi “Superman” Buffon, mampu membikin saya teriak-teriak kegirangan pada saat nonton bareng pertandingan ini di rumah kawan saya. Ini adalah pertandingan ke-48 Juve tanpa terkalahkan di Juventus Stadium, dan sekarang ini saya masih dibanjiri euforia kemenangan sedap Juve atas Barcelona itu.

(Sudah pantaskah Allegri disebut sebagai sang jenius taktikal sepakbola? Semuanya belum berakhir: leg kedua di Camp Nou pekan depan bisa jadi perang psikologis paling mengerikan bagi Juventus musim ini. Ah, apa pun itu, faktanya Juve kemarin mempecundangi Barcelona 3-0. Waktunya perayaan! [Meski begitu, ada satu kekecewaan yang tersisa dari Juventus vs. Barcelona kemarin: saya masih belum tahu kapan tepatnya Vergian Dimas — kawan saya yang mendukung Barcelona dan menjadi tuan rumah nonton bareng kemarin — bakal membayar kekalahan kesebelasan favoritnya itu dengan dua bungkus rokokputih seperti yang telah kami sepakati sebelumnya. Sial!])

Akhir pekan kemarin, sebelum meluluh-lantakkan Barcelona, Juventus terlebih dahulu mengalahkan Chievo Verona dengan skor 2-0 di Juventus Stadium. Buffon memainkan laga ke-616 di pentas Serie A Italia dan Gonzalo Higuaín mencetak brace yang semuanya dimulai dari goyangan aduhai Dybala. Lazio harus menanggung malu setelah dipermak Napoli di kandang sendiri pada Senin dinihari kemarin melalui brace Lorenzo Insigne dan sebiji gol dari José Callejón. Di Inggris, Sunderland dibikin malu di rumahnya sendiri oleh Manchester United. Aktor di balik itu semua adalah Marcus Rashford, Henrikh Mkhitaryan, dan Zlatan Ibrahimović, sementara di sepanjang pertandingan, saya dan Kang Wahyu membikin komentar dan guyonan sinis untuk Jesse Lingard yang baru saja memperpanjang kontrak di Manchester United dengan bayaran £100.000 per pekannya namun penampilannya masih saja medioker dan bikin geregetan. Semalam, giliran Bayern Munich yang harus malu di markas kebanggaannya setelah dikalahkan Real Madrid: Arturo Vidal bikin gol untuk Bayern Munich di menit ke-25 sebelum akhirnya gagal mengeksekusi penalti 20 menit kemudian dengan berusaha mengarahkan bola ke bulan yang bersinar di langit, bukannya ke gawang yang dijaga Keylor Navas; Javi Martínez diusir wasit pada menit 61; dan Cristiano Ronaldo bikin brace untuk memenangkan Real Madrid.

Setiap bulan April datang, gaung emansipasi selalu terdengar lebih keras ketimbang di sebelas bulan lainnya di sini. April identik dengan emansipasi, satu bulan dalam almanak tahunan di mana perjuangan mendapatkan persamaan hak bagi kaum perempuan diteriakkan di sana-sini. Dan ketika membincangkan emansipasi perempuan di bulan April, apa-apa yang dilakukan oleh Raden Adjeng Kartini selalu dijadikan rujukan dan inspirasi. Ada satu artikel menarik yang tayang di situs Detik dengan judul Konsep Usang Emansipasi. Dalam artikel itu, Hasanudin Abdurakhman mempertanyakan kembali konsep dan arti emansipasi perempuan di masa sekarang ini. Emansipasi bukan hanya tentang membolehkan perempuan berkarier di luar rumah atau sekadar mengapresiasi perempuan yang bisa melakukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh lelaki. Emansipasi adalah perjuangan untuk memanusiakan perempuan, sebagaimana lelaki. Emansipasi adalah, mengutip Hasanudin, “membangkitkan kesadaran bahwa perempuan adalah ibu bagi setiap manusia, sehingga tak ada ruang lagi untuk memandang mereka tidak setara dengan laki-laki”. Dan sudah seharusnya kita mulai mempertanyakan: “Bagaimana mungkin lelaki bisa lebih tinggi dari sosok yang melahirkannya?

Awal pekan ini di media-sosial sedang viral foto yang menunjukkan senyum dan ketenangan Saffiyah Khan ketika berhadap-hadapan dengan Ian Crossland, salah satu anggota EDL (English Defense League: sebuah organisasi ekstrem sayap-kanan yang rasis, anti-muslim, dan anti-imigran di Inggris). Saat itu Khan sedang membela seorang perempuan berjilbab yang dirundung oleh gerombolan EDL dengan sikap yang sebenarnya sederhana namun epik dan elegan: berdiri tenang sembari tersenyum manis dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana dan menatap Crossland yang sedang ngamuk-ngamuk tidak jelas. Sikap tenang dan simpul senyum manis itulah yang membikin foto aksi Khan menjadi viral. Dan dalam rentetan tradisi dan sejarah perlawanan perempuan yang berhasil diabadikan, kita tidak hanya mengenal Khan seorang: masih ada Ceyda Sungur, Leila Khaled, Jan Rose Kashmir, Zakia Belkiri, dan juga ratusan jepretan foro para “Kartini Kendeng” yang menyemen kaki mereka bulan lalu di depan Istana Negara Indonesia.

Blog Kami Perempoean menayangkan obrolan antara dua admin pengelolanya yang dikemas dengan apik dalam judul “Rayuan” menteri bertato Hello Kitty. Dalam artikel itu, Hilda dan Bibay begitu kesal dengan kerangka pikir seksisme (“Kenapa coba, giliran ibu-ibu yang hebat ini kerja, yang diperhatiin ya penampilannya?” […] “Kalau memang mau bahas penampilan, kenapa cuma menteri yang wanita yang dibahas penampilannya? Bapak-bapak kalaupun dibahas jarang banget.”) yang masih digunakan oleh media-media nasional dan internasional dalam menyajikan beritanya. Artikel itu menjadi bukti bahwa kita masih hidup di sebuah dunia yang tidak baik-baik saja. Omong-omong soal penampilan perempuan, ada sebuah artikel menarik yang tayang di situs tirto.id berjudul Apa Pandangan Orang Saat Kamu Memakai Cadar? di mana Aditya Widya Putri menuliskan pengalamannya bereksperimen memakai nikab seharian dan pergi ke sejumlah ruang publik di Jakarta untuk mengetahui bagaimana rasanya dipandang dengan tatapan penuh curiga secara berlebihan oleh orang-orang.

Sepekan terakhir ini saya menonton lima dari 13 sisa film unduhan yang ada di laptop butut saya. Film pertama yang saya tonton adalah This Can’t Happen Here (1950) tentang alegori politik antisemitisme yang disutradarai oleh Ingmar Bergman sementara naskah filmnya ditulis oleh Herbert Grevenius, mengisahkan seorang agen rahasia yang memata-matai para pengungsi Yahudi di Swedia. Ini salah satu film receh yang digarap oleh Bergman pada masa-masa awalnya sebagai sutradara. Pengambilan gambarnya buruk, atmosfer noir disajikan dengan asal-asalan, dan plot ceritanya saling tumpang-tindih. Bergman tampaknya mencoba untuk melucu dan menyajikan satire ketika membikin film ini yang sayangnya tidak lucu dan tidak menarik sama sekali.

Selanjutnya saya menonton Mexico Trilogy-nya Robert Rodriguez. Film pertama dalam trilogi ini judulnya El Mariachi (1992) yang menceritakan kisah tentang Mariachi (pemain gitar tradisional Meksiko) berpakaian dominan hitam dan membawa gitar ke mana-mana mencari pekerjaan di sebuah kota kecil di Meksiko. Kemudian seorang pembunuh tiba di kota dan pada hari yang sama, serta memakai setelan baju yang mirip dengan Mariachi. Yang ingin dilakukan oleh Mariachi di kota itu sangat sederhana: dia cuma ingin bernyanyi dan bermain gitar untuk menghidupi hidupnya. Namun ternyata Mariachi malah terjebak di tengah-tengah perseteruan berdarah orang lain dan harus berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup. Ini film apik yang terasa fokus dan berkomitmen penuh kepada plot ceritanya, terlepas dari pengambilan gambarnya yang terkesan amatir (biaya produksi film ini “hanya” $7.000). Film ini mendapatkan respons positif dari kritikus film ketika pertama kali dirilis, dan berhasil melambungkan nama Rodriguez di dunia perfilman.

Setelah sukses dengan El Mariachi, Rodriguez merilis film kedua dalam Mexico Trilogy dengan judul Desperado (berkisah tentang balas dendam Mariachi kepada bandar narkoba yang telah membunuh kekasihnya) pada tahun 1995 dengan biaya produksi yang lebih besar ($3 juta) dan membuktikan bahwa dia memiliki keterampilan menawan di bidang visual yang mampu membikin dan menyajikan rangkaian adegan menarik di layar sinema: Rodriguez paham bagaimana caranya menampilkan atmosfer kekerasan menjadi sebuah tontonan yang istimewa. Sayangnya, di film kedua ini Rodriguez gagal menyusun sebuah plot cerita yang keren sehingga saya hanya merasa terhibur dengan tampilan scene kekerasan ketimbang jalannya plot cerita dan karakternya. Ketika menonton film ini saya merasa senang dan terhibur oleh sudut penempatan kameranya, setup-nya, efek pencahayaannya, teknik editing-nya, dan penyajian fantastis adegan aksinya. Namun saya tidak peduli dengan karakter-karakternya, dan plot ceritanya tipis.

Rodriguez menutup Mexico Trilogy-nya dengan Once Upon a Time in Mexico (2003) yang menghabiskan biaya produksi mencapai $30 juta. Premis cerita film ini: Mariachi direkrut oleh CIA untuk membunuh pemimpin kartel narkoba yang merencanakan kudeta terhadap Presiden Meksiko dan pada saat yang bersamaan Mariachi berusaha membalas dendam kepada seorang jenderal korup yang membunuh istrinya. Sama seperti Desperado, film ketiga ini berisi rangkaian adegan aksi yang spektakuler, kumpulan gambar close-up, serta elemen kepahlawanan dan ratapan kesedihan, namun struktur plot ceritanya dibiarkan amburadul. Ada banyak sekali gambar indah di film ini, dan yang paling indah adalah rangkaian adegan sensasional di mana Mariachi dan istrinya, dalam keadaan tangan terantai, berusaha melarikan diri dari kamar apartemennya di lantai paling atas dengan cara mengayunkan diri melalui jendela demi jendela apartemen sampai ke jalanan.

Film terakhir yang saya tonton kemarin adalah Robinson Crusoe (1954) yang disutradarai oleh maestro surealisme, Luis Buñuel, yang mengadaptasi novel dengan judul yang sama karangan Daniel Dafoe, mengisahkan tentang pedagang budak di abad 17 bernama Robinson Crusoe yang kapalnya dihantam badai dan dia akhirnya terdampar di sebuah pulau terpencil dan harus bertahan hidup di sana seorang diri selama 28 tahun. Saya menyukai cerita Robinson Crusoe sampai titik di mana munculnya karakter bernama Friday yang akhirnya mengubah kisah heroik bertahan hidup Robinson serta kisah melodrama kesepian dan keputus-asaannya menjadi kisah perbudakan yang klise dan menjengkelkan. Namun film ini mampu menutupi kekurangannya dengan sisipan sindiran terhadap agama dan beberapa elemen surealis yang khas Buñuel. Meski saya masih bertanya-tanya mengapa Buñuel mau mengadaptasi cerita Robinson Crusoe ke layar sinema.

Akhir-akhir ini politik identitas dan segregasi semakin tumbuh subur di sini. Yang terbaru adalah klaim kepribumian yang diusung oleh para peserta Aksi Bela Islam 313 akhir bulan kemarin. Mengenai hal itu saya menemukan sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Zen RS dan tayang di situs tirto.id berjudul Pribumi Monyet dan Paradoks Kepribumian. Pada tahun 2017 ini, kampanye pemisahan mana yang pribumi dan mana yang non-pribumi mengalami kemunduran dan degradasi yang teramat parah di mana kampanye tentang hal itu, mengutip Zen dalam artikelnya, “kembali lagi kepada kategori rasial yang dikembangkan oleh cara berpikir kolonial”. Saya beranggapan bahwa klaim atau kampanye kepribumian ini cuma omong kosong banal, sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali, karena toh mereka yang meneriakkannya dengan mulut berbusa-busa itu masih menganggap para Pejuang Kendeng sebagai kumpulan petani pengganggu yang tidak nasionalis karena menolak pembangunan perusahaan semen BUMN, masih memandang orang-orang Papua yang berkoteka sebagai komunitas terbelakang yang biadab, serta pada saat yang bersamaan merasa senang dan bangga bersekutu dengan para politikus rakus dan kapitalis bangsat bau amis. Meminjam kata-kata Zen: “… kepribumian (saat ini) hanyalah tentang ‘kita’, tentang siapa yang sepaham dengan ‘kita’, dan bukan tentang ‘yang-lain’ yang tak dikenal — mirip dengan cara pandang kolonial terhadap orang-orang Jawa.

Sebelum mengetik kumpulan paragraf ini saya baru saja menghabiskan seporsi Nasi Goreng Jancok sembari membaca cerpen tulisan Yetti A. KA. berjudul Ribuan Ikan Berenang dalam Mata Itu, Daun-Daun Melayang dalam Mataku tentang seseorang yang punya kegemaran menunggu tanpa memedulikan apakah yang ditunggu itu bakal datang atau tidak.

Selain itu saya sedang mencoba menyelesaikan empat buku bacaan: Tamasya Bola (Darmanto Simaepa), Simulakra Sepakbola (Zen RS), Larung (Ayu Utami), dan Kelir Slindet (Kedung Darma Romansha). Juga sedang intens menikmati musik indie rock dalam sepekan terakhir: Warpaint – Warpaint (2014), The Trees & The Wild – Rasuk (2009), Of Monsters and Men – My Head Is an Animal (2012), Daughter – Not to Disappear (2016), dan The Antlers – Hospice (2009). Ditambah tiga album art rock dari grup musik kesayangan saya, Radiohead, bertajuk OK Computer (1997), In Rainbows (2007), dan A Moon Shaped Pool (2016). Serta masih kesengsem dengan album 33 Resolutions Per Minute-nya Postmodern Jukebox yang dirilis pada 5 Januari 2017 kemarin.

Oke, saya pikir cukup segitu saja. Sudah tengah malam dan saya mau mencoba untuk tidur nyenyak. {}

Advertisements

2 thoughts on “#BanalitasHarian: euforia, emansipasi, dan bla … bla … bla …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s