Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

#Untuk D.

Kita pernah terikat dalam buaian malam
menyaksikan bulan dan bintang menjadi muram
meresapi dingin yang suram:
terjebak dalam hati yang sepi,
di antara nyanyian lampu kota yang tidak bisa dimengerti
lupa bagaimana caranya merayakan pagi.

Hening …

Sunyi …

Emosi mulai mengering, hampir mati,
bersembunyi dalam jantung berbentuk persegi.

Aku selalu saja mati saat mentari mulai tergelincir
di antara sujud senja dalam lindungan petir
— sebuah titik menuju akhir yang getir.

Langkah sang waktu terlalu cepat untuk kuimbangi,
sementara kamu masih saja berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti
meninggalkan diri yang dikutuk untuk terus mencaci hati.

Jendela tua itu masih saja menyembah subuh
sembari mengucap harap agar kita tak lagi jauh,
agar hasrat kita menjadi utuh
dan berhenti mengeluh:
tentang hidup yang begitu biru,
tentang aksara untuk sebuah nama yang telah beku,
tentang aku yang masih merindumu.

Ketahuilah bahwa aku tidak pernah bereksistensi
aku hanyalah imajinasi
di setiap senyum doa dan kutukan
yang kamu panjatkan
ketika malam mulai mendatangi jiwa yang menyepi.

Sementara pagi masih menunggu untuk dinikmati. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s