#BanalitasHarian: pada satu titik dari sebuah perjalanan

Empat hari yang lalu perasaan saya campur-aduk antara puas, lega, dan sedih setelah akhirnya berhasil menuntaskan bacaan Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi. Butuh waktu nyaris sebulan mengikuti perjalanan Hans Thomas dan ayahnya ke Yunani untuk mencari sang ibu yang “tersesat dalam dongeng dunia mode”. Perjalanan itu diwarnai dengan kejadian-kejadian ajaib: seorang kurcaci memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar, seorang tukang roti memberikan sepotong roti berisi buku mini yang berkisah tentang pelaut yang terdampar di sebuah pulau aneh, setumpuk kartu remi mendadak hidup, dan Joker yang hampir tahu segalanya. Buku ini berisi kisah di dalam kisah; karakter yang mungkin nyata, mungkin cuma rekaan belaka; masa lalu dan masa depan: sebuah cerita yang menyajikan teka-teki dan eksplorasi kehidupan yang memukau, renyah, dan cerdas dengan berbagai elemen surealis dan fantastis yang bakal membangunkan anak-anak yang tertidur dalam jiwa setiap pembaca. Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi adalah bacaan apik yang ditulis oleh Jostein Gaarder untuk siapa saja yang ingin belajar filsafat dengan cara yang menyenangkan, tanpa harus mengerutkan keningnya.

Dari kumpulan cerpen mingguan di Jawa Pos yang berhasil saya kumpulkan dalam sepekan terakhir ini, saya mendapati kisah yang menarik berjudul Relikui Ibu karya Mashdar Zainal yang terbit pada 19 Februari 2017 kemarin. Mashdar berhasil membingkai kisah tentang kehilangan dengan cukup apik. Dalam cerpen yang menyayat jantung itu, kepergian seorang ibu dianalogikan sebagai luka terdalam yang tidak pernah bisa dibayangkan bagaimana cara menghadapinya. Ketika tubuh seseorang yang telah mati meninggalkan kita diletakkan di relung kubur, apalagi yang bisa kita dapatkan darinya selain sebuah luka dan kenangan yang terkadang mekar menjadi sebuah melankolia? Dan kita nyaris memiliki respons yang sama ketika dihadapkan dengan kehilangan: tidak pernah siap.

Belakangan ini saya kesengsem dengan Postmodern Jukebox setelah menonton videonya meng-cover lagu No Surprises-nya Radiohead dengan gaya vintage 1930an. Saya kemudian menonton nyaris semua video cover di akun YouTube-nya. Postmodern Jukebox adalah kolektif musik yang dibentuk oleh seorang pianis dan komposer, Scott Bradlee, pada tahun 2011. Kolektif musik ini meggubah ulang lagu-lagu populer masa kini ke genre vintage dengan sentuhan swing dan jazz yang khas awal abad ke-20. Kamu bisa cek video cover keren Postmodern Jukebox di sini. Sementara itu saya girang menonton ekspresi anak-anak kecil ketika diputarkan lagu-lagu hits dari Nirvana yang diposting oleh FBE di akun Facebook-nya. Oh iya, pada akhir bulan Maret kemarin Filastine merilis klip video terbaru mereka berjudul Perbatasan melalui channel resmi mereka di YouTube.

Akhir pekan kemarin Chelsea (bukan Islan) kalah di kandang sendiri melawan Crystal Palace dengan skor 1-2. Gol Cesc Fàbregas di menit ke-5 dibalas dengan dua gol dalam waktu dua menit oleh Wilfried Zaha (menit ke-9) dan Christian Benteke (menit ke-11). Setelahnya, Chelsea (bukan Islan) dan Conte tampak frustasi dan akhirnya gagal menyeimbangkan angka. Di Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) meraih gelar juara Coupe de la Ligue 2016/17 setelah berhasil mengandaskan AS Monaco melalui gol-gol yang dicetak oleh Ángel Di María, Julian Draxler, dan Edinson Cavani (dua gol), yang cuma mampu dibalas dengan sebiji gol dari Thomas Lemar. Senin diniharinya, karena telat bangun tidur, saya hanya bisa menonton babak kedua pertandingan Napoli lawan Juventus melalui layanan streaming. Pertandingan berakhir imbang 1-1 dengan Juve unggul lebih dulu melalui gol Sami Khedira di babak pertama, sebelum akhirnya berhasil disamakan oleh Marek Hamšík di babak kedua.

Di Malang ada kabar seorang lelaki yang mati bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kereta api dan seorang perempuan ditemukan tewas di kamar kosnya karena ambeien. Sementara itu kisah Fidelis Ari yang ditangkap dan dipenjara karena menanam ganja untuk mengobati istrinya yang mengidap Syringomyelia menjadi viral di dunia maya dan menjadi momentum melegalkan ganja untuk pengobatan penyakit.

Setelah mendengarkan kembali album keempat Oasis bertajuk Standing on the Shoulder of Giants yang dirilis pada tahun 2000 silam, saya semakin yakin bahwa Oasis memang tidak menawarkan kenikmatan apa pun setelah merilis Be Here Now (1997). Album keempat Oasis merupakan kumpulan rekaman musik modern medioker yang menggabungkan suara-suara dari synthesizer, siter elektrik, mellotron, dan loop drum, dengan tambahan sentuhan heavy psychedelic rock biasa-biasa saja yang membikin album ini terdengar sok eksperimental dan tidak nyaman di kuping. Saya sarankan kamu mendengarkan Pada Mulanya Adalah Gelisah, EP yang dirilis oleh Talamariam (sebuah unit musik dari Yogyakarta yang menjadikan puisi dan musik sebagai medium rasa dan pembacaan rutinitas hidup harian) pada tahun 2014 kemarin. EP ini berisikan lima materi dengan nada-nada minor gothic yang dilantunkan pelan, perlahan, untuk kemudian melesat seperti anak panah yang memburu dan menerkam sasaran tanpa ampun. Suara cadas vokalisnya ketika melantunkan bait demi bait syair yang bertemakan kritik sosial-politik berkelindan ngeri dengan efek suara elektrikal dari instrumen synthesizer: megah, epik, dan emosional.

Beberapa artikel menarik yang saya konsumsi dalam sepekan terakhir ini, di antaranya Aksi Petani Kendeng yang Anarkis tulisan Bima Satria Putra yang tayang di situs anarkis.org, menyoroti aksi #DipasungSemen2 yang dilakukan oleh para petani Kendeng di Istana Negara sebagai metode aksi anarki yang justru dipraktikkan dengan baik oleh orang-orang yang tidak mendaku diri sebagai anarkis. Di kesempatan yang lain, saya sempat membaca “Gotovo Je!” yang dipublikasi oleh CrimethInc.: sebuah refleksi dari praktik demokrasi-langsung yang digunakan dalam aksi protes massal rakyat Slovenia pada musim dingin tahun 2012-13.

Lantas ada Anomali Film Sepakbola Indonesia, Membentuk Budaya di Masyarakat tulisan Sandy Firdaus di situs Pandit Football yang ditutup dengan harapan untuk “membudayakan sepakbola yang baik di masyarakat lewat film” agar mampu menciptakan “masyarakat yang mencintai namun kritis terhadap sepakbola”. Lalu ada Mbak Niken Aridinanti yang memberikan tips sederhana dan menarik tentang dunia tulis-menulis ulasan film dalam artikel di blog-nya yang berjudul How to Write a Movie Review as Movie Blogger.

Menentang Standar Kecantikan Agar Tubuh Tidak Terjajah yang ditulis oleh Hening Wikan dan tayang di situs Magdalene menarik untuk dibaca, mengingat kaum perempuan saat ini kian terjebak dalam narasi tunggal standar kecantikan artifisial yang dibentuk oleh media. Menurut Hening, reproduksi ide mengenai standar kecantikan oleh media tidak ada ubahnya dengan “bentuk penjajahan bagi setiap keindahan yang terdapat pada manusia. Dengan membuatnya hanya sebagai narasi tunggal semata, saya menyadari bahwa terdapat relasi yang tidak setara antara media yang membuat ilusi itu menjadi nyata dengan para perempuan yang saya sayangi.” Hening menutup tulisannya dengan mengingatkan bahwa “kita menjadi korban karena kita tunduk membiarkan ide tersebut eksis” dan “tidak ada institusi apapun yang berhak mengatur bagaimana cara perempuan berbicara, bertindak, berbusana, terlebih dalam urusan mengatur tubuhnya”. Selain itu, saya sekarang ini sedang menikmati buku Simulakra Sepakbola yang ditulis oleh Zen RS.

Sepakan terakhir ini juga saya lewatkan dengan menonton lima film berikut: (1) The Revenant (2015) garapan Alejandro González Iñárritu yang didasarkan pada salah satu bagian dalam novel dengan judul yang sama karya Michael Punke, menceritakan tentang pengalaman Hugh Glass saat memandu rombongan pencari kulit hewan pada tahun 1823; (2) Smiles of a Summer Night (1955), film komedi-erotis tentang perselingkuhan yang ditulis dan disutradarai oleh Ingmar Bergman — ada banyak kelakar tajam, proposisi genit, dan hasrat membuncah di film superkeren ini, namun disajikan tanpa kesembronoan dan tanpa moralitas yang apalah itu; (3) Boy Interrupted (2009) karya Dana Perry, sebuah film dokumenter dari kisah emosional tentang kehilangan, perihal rasa nyeri yang terjadi puluhan tahun sebelumnya bisa datang menyerang kapan pun dan di mana pun hingga entah — penyajiannya sederhana, cenderung konvensional, namun itu bukanlah inti atau poin penting atau kekuatan utamanya, film ini brilian karena menceritakan kisahnya secara efektif dan penuh emosi yang tidak pretensius, ditambah dengan score musik muram di sepanjang film, mustahil untuk tidak bersimpati, what more is needed?; (4) El Bruto (1953), film melodrama bikinan Luis Buñuel tentang seorang tertindas yang berusaha mencari tempat untuk berpijak dan ini merupakan salah satu film yang terang-terangan mewakili pandangan politik Buñuel; (5) Hour of the Wolf (1968), film drama surealis psikologikal-horor, disutradarai oleh Bergman, tentang seorang seniman yang mengalami paranoid berlebihan dan kemudian menghilang entah ke mana — elemen horornya dibangun secara perlahan dan mencapai klimaks yang menakutkan di third act, dan ketika filmnya kelar, saya tidak bisa tidur karena ketakutan.

Saya mengetik tulisan ini di rumah ibu saya di kampung halaman ditemani secangkir kopihitam bikinan ibu yang asapnya masih mengepul dan beberapa camilan yang selalu disiapkan khusus untuk saya ketika pulang ke rumah. “Pulang”, bagi saya, adalah bentuk eskapisme yang paling syahdu: sebuah fase sederhana untuk mengambil jeda, untuk memahami keadaan, untuk memutar kembali cerita romantisme picisan yang pernah saya alami — semacam pemberontakan terhadap koridor-koridor rutinitas yang banal, layaknya helaan nafas yang panjang pada satu titik dari sebuah perjalanan ke entah-berantah.

Sudah tiga hari saya berada di sini, di “rumah”: sebuah tempat untuk mempersetankan ketergesaan, untuk merebahkan rindu dan harap, untuk mengistirahatkan lelah. Besok pagi saya harus kembali melangkah, meneruskan perjalanan, di jalur yang sebetulnya tidak berujung. Dan menjadi dewasa itu ternyata terlampau melelahkan. Saya dipaksa untuk berkompromi pada banyak hal yang kemudian membikin emosi saya terbatasi oleh hal-hal pragmatis.

Maksud saya — hidup bangsat macam apa ini? Ting-a-ling! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s