Yang tidak bisa dinamai

/1/

Puan.

Kamu mungkin membenci ketidak-hadiran lelaki itu. Kamu membencinya karena ia dengan sengaja meletakkan langkah kakinya sejauh mungkin, sejauh jarak dan waktu yang tidak sanggup dilipat olehmu — bahkan oleh dirinya sendiri. Mungkin memang seperti itu adanya.

Dalam ingatanmu, lelaki itu adalah makhluk keras kepala. Tapi kamu mungkin lupa bahwa ia terkadang menjadi sangat sentimental dengan segala rasanya kepadamu. Dan kini kamu membenci ketidak-hadirannya tanpa mau mengerti bahwa ini tidak akan pernah mudah baginya: untuk dengan sengaja menciptakan jarak yang tidak bisa dilipat dan menoleransi kenyataan dengan ikhlas bahwa ia tidak bisa menikmati tawamu setiap harinya.

Ia memang bukan lelaki yang sempurna, namun ia adalah lelaki yang sangat mencintaimu tanpa mengada-ada, jauh sebelum dunia menyapa kedua mata teduhmu itu. Ia mencintaimu meskipun tidak ada kata-kata cinta yang jatuh dari lidahnya ke pundak kirimu.

Tidak cukupkah waktu yang ada untuk membuktikan bahwa kamu begitu dicintai lelaki itu melebihi apa pun? Selama ini ia begitu gigih untuk merangkul suka dan dukamu. Tidak peduli apa pun — selama masih ada kopihitam, rokokputih, dan sekantong senyum senjamu di setiap lembaran harinya.

Hidup adalah perihal kepergian dan kedatangan. Bagi lelaki itu, kepergiannya diharap menjadi kedatangan untuk bahagiamu. Ia kerap berharap dalam setiap embus nafasnya agar semesta memelukmu seterusnya dan seutuhnya. Ia bersuka-cita dengan hati yang akan lama berduka.

Kamu bakal tetap menjadi bintang paling terang di langit utaranya.

/2/

Tuan.

Kamu mungkin membenci ketidak-hadiran perempuan itu. Kamu membencinya karena ia dengan sengaja tidak menahan langkah kakimu yang terus menjauh, sejauh jarak dan waktu yang tidak sanggup dilipat olehmu — dan juga oleh dirinya sendiri. Mungkin memang seperti itu adanya.

Dalam ingatanmu, perempuan itu adalah makhluk yang paling sentimental. Tapi kamu mungkin lupa bahwa ia terkadang juga menjadi sangat keras kepala dengan segala rasanya kepadamu. Dan kini kamu membenci ketidak-hadirannya tanpa pernah mau mengerti bahwa ini benar-benar tidak mudah baginya: untuk dengan sengaja merelakan setiap langkah kakimu dan menoleransi kenyataan dengan ikhlas bahwa ia tidak bisa menikmati pelukmu setiap harinya.

Ia memang bukan perempuan yang sempurna, namun ia adalah perempuan yang begitu mencintaimu tanpa mengada-ada, jauh sebelum dunia menyapa kedua mata kerasmu itu. Ia mencintaimu meskipun tidak ada kata-kata cinta yang jatuh dari lidahnya ke jantung persegimu.

Tidak cukupkah waktu yang ada untuk membuktikan bahwa kamu begitu dicintai perempuan itu melebihi apa pun? Selama ini ia begitu gigih untuk mengawini suka dan dukamu. Tidak peduli apa pun — selama masih ada tehmanis dan sekantong pelukmu di setiap lembaran harinya.

Hidup adalah perihal merelakan dan mendapatkan. Bagi perempuan itu, merelakan langkah kakimu menjauh adalah upaya agar kamu mendapatkan bahagiamu. Ia seringkali berdoa dalam setiap sujudnya agar semesta memelukmu seterusnya dan seutuhnya. Ia bersuka-cita meski hatinya akan lama berduka.

Kamu akan tetap menjadi kupu-kupu paling indah di pelataran senjanya.

/3/

Kehadiran merupakan hal yang sangat mereka nantikan. Mereka saling membenci, sebab mereka saling mencintai. Dalam hening mereka selalu saja saling memuja diam-diam, dan semesta akan merekamnya sebagai karya abadi yang tidak terdefinisikan.

/4/

Kesayangan. Selamanya. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s