#BanalitasHarian: tidak ada yang istimewa

To live or to die: the choice is yours.
Kymatica (2009)

Tidak banyak yang terjadi dalam sepekan terakhir yang bisa ditulis di sini. Saya hanya melewatinya begitu saja: pergi membudak, membaca buku, mengunjungi seorang kawan yang baru pindah kontrakan, ngopi dan bercanda di toko buku milik kawan saya lainnya, serta hal yang biasa-biasa saja untuk dilakukan, mulai dari makan, tidur, sampai menonton film. Tidak ada yang istimewa. Dan sama sekali tidak keren ya?

Saya mengetik tulisan ini setelah menonton serial Game of Thrones (season 1) (2011) dan masih malas untuk sekadar keluar kamar kos. Akhirnya saya menuntaskan sepuluh episode musim pertama dari Game of Thrones yang saya unduh dua bulan lalu. Bagi yang belum tahu, Game of Thrones adalah serial drama fantasi yang mengadaptasi seri novel A Song of Ice and Fire karangan George R. R. Martin. Mengambil latar belakang di tempat fiksi, Westeros dan Essos, Game of Thrones berjalan di atas beberapa plot cerita dan dimainkan oleh ensambel cast yang cukup banyak. Sepuluh episode di musim pertama Game of Thrones yang tayang pada tahun 2011 menceritakan konflik dari beberapa dinasti yang meributkan Iron Throne dari Seven Kingdoms, sementara klan/keluarga bangsawan lainnya berjuang untuk kenyamanan mereka sendiri. Seks, kekuasaan politik, dan kekerasan menjadi tema sentralnya, ditutup dengan perang besar antara Klan Stark dan Lannister, serta kebangkitan Klan Targaryen untuk melakukan balas dendam, di episode terakhir musim pertama Game of Thrones. Dari seluruh plot dan karakter yang ada di Game of Thrones (season 1), saya bersimpati dengan Arya Stark dan penasaran dengan Tyrion Lannister. Sampai tulisan ini saya ketik, serial drama Game of Thrones sudah menyelesaikan tujuh musim/season.

Film lainnya yang saya tonton di tengah-tengah kondisi mood dan dompet menipis dalam sepekan terakhir:

Esoteric Agenda (2008) garapan Benjamin Stewart. Film dokumenter ini coba mengekspos aspek yang berbeda dari New World Order yang berkaitan dengan kontrol/pengurangan populasi, Serangan 11 September 2001, ramalan kuno tentang kiamat pada 21 Desember 2012, Perang Teluk, simbol masonik, serta agama pagan dan hubungannya dengan semua agama modern macam Kristen dan Islam. Di akhir film ada bagian yang membahas tentang spiritualitas, arti sebenarnya dari kehidupan di dunia, dan bagaimana alam bekerja, sesuai dengan kemanunggalan tertinggi. Ada semacam Agenda Esoteris yang bekerja di balik setiap segi kehidupan, dan film dokumenter ini menggunakan penelitian dari para profesional di setiap bidangnya untuk mencoba mengekspos agenda rahasia tersebut. Film ini cocok untuk kamu yang tertarik dengan teori konspirasi.

Kymatica (2009), sekuel dari Esoteric Agenda yang juga disutradarai oleh Stewart. Film dokumenter ini berfokus pada sistem kesadaran manusia dan menunjukkan penyakit psikis yang menyebabkan manusia menciptakan berbagai macam ilusi sinting yang diduga menjadi penyebab utama dari rasa sakit dan penderitaan yang dialami oleh manusia di Bumi. Film ini mencoba mengupas lebih dalam tentang aspek metafisika dari realitas serta berusaha menghubungkan sejarah dan mitos-mitos kuno dengan cara hidup masyarakat modern dan keputusan politik. Film ini berargumen bahwa para pemimpin korup bukanlah sesuatu yang terpisah: mereka ada karena sebagian besar manusia tidak memiliki keberanian untuk menghidupi hidup sendiri dan malah menggantungkan hidup kepada para pemimpin korup; kondisi ini bakal terus berlangsung sampai manusia berani dan mau mengambil-alih hidupnya sendiri. Mengutip kalimat yang ada di bagian akhir film yang saya tuliskan di bagian pembuka tulisan ini: “To live or to die: the choice is yours.

Selma (2014), drama-historis tentang perjuangan hak warga sipil di Amerika Serikat pada dekade ‘60an yang disutradari oleh Ava DuVernay. Film ini bukanlah melodrama receh dua dimensi “jahat vs. baik” yang sering mengumbar moralitas usang. Ini adalah tentang bagaimana menyajikan sebuah sejarah yang terjadi di masa lalu dengan tulus dan masih terasa relevan sampai saat ini. Perselisihan/bentrokan ideologis dalam kompleksitas sebuah aksi perjuangan disajikan dengan pas, cermat, dan tidak didramatisir secara berlebihan. Film ini didasarkan pada peristiwa Selma to Montgomery marches, sebuah aksi protes untuk menuntut persamaan hak ras kulit hitam yang dipimpin oleh Hosea Williams, Martin Luther King, Jr., John Lewis, dan James Bevel. Film ini bakal membekas di batok kepala saya karena dipenuhi dengan rasa optimis, harapan, kinerja akting yang menghibur, serta rangkaian adegan yang benar-benar tulus dan memilukan. Saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton karena sekarang ini praktik rasisme dan diskriminatif masih belum sepenuhnya hilang.

The Bridge (2006), film dokumenter yang kuat, kelam, jujur, dan berani garapan Eric Steel yang terinspirasi oleh artikel berjudul Jumpers tulisan Tad Friend yang dipublikasi oleh The New Yorker: merekam 23 dari 24 aksi bunuh diri di Jembatan Golden Gate pada rentang tahun 2004 serta menampilkan wawancara dengan kerabat dan keluarga dari beberapa orang yang melakukan aksi bunuh diri di jembatan tersebut. Film dokumenter ini melihat kehidupan manusia dari sudut yang lain: menunjukkan momen sebelum kematian, dan kemudian bekerja kembali dari sana untuk mencoba mencari tahu jawaban dari pertanyaan “apa yang membikin seseorang berani melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke dalam kekosongan?”. Dan karena para pelaku bunuh diri di film ini memilih cara yang terbuka di tempat umum untuk mengakhiri hidup mereka, saya merasa tidak punya masalah etis dengan pendekatan yang dilakukan oleh sutradara film ini dalam merekam aksi bunuh diri tersebut.

The Rock (1996) garapan Michael Bay yang menceritakan tentang seorang ahli kimia FBI dan mantan kapten SAS ditugaskan pergi ke penjara Alcatraz untuk menghentikan sekelompok Force Recon Marines yang telah mengambil-alih penjara tersebut dan menyandera beberapa warga sipil, serta mengancam bakal meluncurkan roket berisi gas beracun yang mematikan ke Kota San Francisco kecuali Pemerintah Amerika Serikat membayar uang tebusan sebesar $100 juta. Film action macam The Rock ini selalu berjalan dari satu rangkaian adegan action ke adegan action lainnya dan terkadang tidak terlalu memedulikan apakah rangkaian adegan tersebut cocok (atau punya keterkaitan) dengan rangkaian adegan yang mengikutinya. Plot cerita berisikan adegan tembak-tembakan, ledakan bom, perkelahian tangan kosong, interogasi, penyiksaan, dan omong kosong ilmiah, di mana semuanya merupakan elemen standar yang selalu ada di setiap film action-thriller. After all, it’s Michael Bay’s movie: action, action, action, with a little dry humor.

Ada artikel menarik dari tirto.id yang berjudul Presiden yang Tak Kunjung Padam tulisan Dea Anugrah, sebuah upaya untuk menguji kemahiran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam berkata-kata. Seperti yang telah diketahui, SBY menjabat sebagai Presiden Indonesia selama satu dekade dengan repertoar keluhan yang satu ke keluhan yang lainnya dan berhasil merilis empat album musik. Dan sekarang, ketika masa jabatannya sebagai presiden telah habis, SBY masih rutin menyebarkan keluhan-keluhannya melalui media-sosial. Dea merasa perlu untuk memeriksa pilihan kata SBY sebagai contoh untuk menguji daya gugah dan kekokohan kalimat siapa pun, mengutip artikel yang ditulisnya: “Keterampilan berbahasa seseorang semestinya tak diukur berdasarkan ‘kesantunan’ atau ‘keindahan’ kata-kata yang ia pilih (sebab makna kata tidak ajek), melainkan ketepatan penggunaan kata-kata tersebut. Juga bukan apakah ia lebih senang bicara secara langsung atau memutar, melainkan daya gugah dan konsistensi logika internal kalimat-kalimatnya.

Sepulang dari toko buku milik kawan saya beberapa hari yang lalu, dan tanpa ada alasan khusus apa pun, saya memutar kembali album pertama dan terakhir dari grup musik Oasis. Definitely Maybe, album pertama Oasis yang dirilis pada tahun 1994 silam, merupakan sebuah album musik yang memacu revitalisasi musik pop Inggris di tengah-tengah dominasi musik grunge pada era ‘90an. Ketika pertama kali dirilis, album ini mendapatkan respons positif dari kritikus musik di seluruh dunia karena mengusung rasa optimisme sebagai tema dasar. Album ini tercatat sebagai tonggak kebangkitan genre Britpop dan telah muncul dalam berbagai publikasi “daftar album musik terbaik”. Sebelas track yang ada di album ini terdengar klasik dan memadukan antara distorsi gitar yang cukup keren, ketukan musik yang mengajak untuk menari, serta kumpulan lirik chorus yang mengesankan dan gampang diingat. Pada saat itu, Oasis merupakan harapan kaum muda Inggris setelah dihajar sedemikian rupa oleh kediktatoran rezim Margaret Thatcher. Boleh dibilang bahwa album ini merupakan perwakilan suara dari orang-orang yang terpinggirkan. Penggalan lirik dalam lagu pembuka album ini cukup suram: “Live my life in the city, there’s no easy way out.” Namun lagu itu diberi judul Rock ‘n’ Roll Star dan berbicara tentang kemungkinan (atau keinginan) untuk melarikan diri dari kehidupan yang keras dan banal. “In my mind my dreams are real,” Liam Gallagher menyanyikan lanjutan liriknya, dan siapa yang bisa menyangkal kalimat itu? Mimpi memainkan peran yang besar dalam kehidupan seseorang, begitu juga dalam album ini yang mampu mengubah Oasis menjadi suatu keniscayaan yang mereka benci di masa muda.

Rilis pada tahun 2008, Dig Out Your Soul menjadi album terakhir Oasis. Seluruh karya musik yang dirilis Oasis setelah album Be Here Now (1997) bisa dimasukkan dalam dua kategori: (1) balada yang diumbar dengan cara yang sombong dan arogan; dan (2) musik rock yang menjadi semakin lamban. Untuk sebuah grup musik yang menjadikan ketenaran rock ‘n’ roll sebagai eskapisme dari rutinitas harian yang membosankan, Oasis tumbuh dan berubah menjadi sebuah unit musik yang menikmati ketenaran rock ‘n’ roll sebagai rutinitas harian mereka. Membubarkan diri adalah satu-satunya hal menarik yang dilakukan oleh Oasis setelah merilis Be Here Now. (Sementara satu-satunya hal menarik yang saya lakukan dalam sepekan terakhir ini adalah mencoba menyelesaikan bacaan Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi karya Jostein Gaarder. Masih ada 126 halaman lagi yang harus dilahap sebelum Maret ini benar-benar usai.)

Saya mengetik kumpulan paragraf ini dalam posisi duduk yang paling nyaman sembari ditemani secangkir kopihitam, beberapa batang rokoputih sisa kemarin malam, serta daftar putar dari Godspeed You! Black Emperor, Filastine, dan Efek Rumah Kaca. Hujan mulai turun menderas di luar kamar kos.

Ah iya, saya girang setelah mendapat kabar Rayna kesayangan saya sembuh dari penyakit radang tenggorokan jahanam yang dideritanya dalam tiga pekan terakhir. Buku ceritanya menyusul ya, Ray…

Vita brevis. Carpe diem. Rekahlah.

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s