Menjadi manusia juga perkara menerima hal yang tidak bisa direngkuh

/1/

Jadi kita tidak akan pernah menjadi suami-istri?” || “Apakah kita tidak bisa selamanya menjadi sepasang kekasih?”

/2/

Maksudnya?” || “Apa kita harus menjadi suami-istri?” || “Tidak, jika kamu tidak menginginkannya.” || “Tapi kamu ingin kita seperti itu.” || “Iya.” || “Dan kamu sudah tahu apa yang kupikirkan tentang hal itu.” || “Iya, tapi aku tidak mengerti.” || “Sebab kamu tidak mau untuk mencoba mengerti.” || “Mungkin. Tapi kamu juga tidak mau memahamiku, kan?

/3/

“Bisakah kita membicarakan hal lain?” || “Tentang apa?” || “Apa saja, asalkan bukan tentang itu.” || “Kenapa?” || “Aku hanya tidak ingin membicarakannya sekarang.” || “Kapan kita akan membicarakannya?” || “Entahlah, yang pasti tidak sekarang.”

/4/

Kenapa kamu tidak pergi saja waktu itu?” || “Aku tidak pernah berpikiran dan berhasrat untuk meninggalkanmu.” || “Aku tidak akan sakit hati jika kamu melakukannya. Aku tidak akan menyalahkanmu.” || “Baiklah.” || “Apa maksudmu ‘baiklah’?” || “Mencoba memahamimu.” || “Terimakasih.

/5/

Mulai saat ini aku tidak akan meminta dan memberi apa-apa lagi kepadamu, dan itu berarti kita telah mencapai akhir.” || “Berarti kita tidak bisa hanya menjadi sepasang kekasih, selamanya?” || “Sayang…

* * * * *

Jingga mewujud di pucuk cakrawala saat kita mulai mengatur langkah untuk tersesat dalam pergi masing-masing. Saya tidak tahu harap apa yang mesti dirapal saat kita berpisah. Sebab, bagi saya, mengharapkan kamu bakal menemukan yang lebih baik sama saja seperti membuka Kotak Pandora. Kenangan demi kenangan bakal bermunculan tidak terbendung untuk menyiksa agar luka dapat sembuh perlahan. Namun luka tetaplah luka: tidak bakal pernah bisa sembuh sempurna.

Kita berakhir secara baik-baik, menyelesaikan semuanya dengan kecup dan saling melambaikan tangan. Namun ini tetap saja tidak masuk akal bagi saya: “Bagaimana mungkin dua orang yang saling cinta bisa mengakhiri hubungan secara baik-baik saja?

Ah, entahlah. {}

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi manusia juga perkara menerima hal yang tidak bisa direngkuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s