Membunuh kata

Ada yang berdiam di balik setiap kata
ketika satu per satu syair terbuka
lantas kamu membacanya serupa doa.

Lebam membekas di atas kertas.

Dan kamu sibuk menyulam perjalanan
membuka hujan yang pernah berlalu dari tubuhmu
pada saat itu, kata seperti rekah menjelma kematian
bertahan, menampung jejak murung hasratku.

Tanpa mesti menghitung makna atau rajah kata yang pernah rumit di bawah kulit.

Habis sudah,
kita telah membunuhnya. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s