#BanalitasHarian: sepiring solidaritas dan secangkir duka “di bawah hujan bulan Maret”, serta setumpuk ceracau tentang hal-hal lainnya

Hari Selasa, 21 Maret 2017, salah satu “Kartini Kendeng” gugur dalam perjuangan menolak pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng demi menjaga keseimbangan alam dan memastikan agar anak-cucu tidak bakal mati berkalang semen di masa mendatang. Adalah Mbok Patmi, salah satu Pejuang Kendeng yang gigih menolak pendirian pabrik semen sejak awal. Perempuan pemberani berumur 48 tahun ini tidak mau menyerah tunduk pada aksi tipu-tipu negara dan intimidasi jahanam korporasi semen. Mbok Patmi mengembuskan nafas terakhir sebagai martir perjuangan: serangan jantung merenggutnya. Andre Barahamin menuliskan orbituari yang begitu indah dan menyesakkan dada, Candra Malik menuliskan surat syahdu untuk Mbok Patmi berjudul Di Bawah Hujan Bulan Maret, sementara gelombang solidaritas dan ucapan belasungkawa terus berdatangan dari segala penjuru. Pejuang seperti Mbok Patmi adalah sehormat-hormatnya, sebaik-baiknya manusia yang tidak bakal terlupa begitu saja. Semoga nyenyak tidur panjangmu, Mbok Patmi. Mengutip Andre: “Ada selaksa cara untuk mati. Begitu juga hidup. Dan mereka yang berjuang sepenuh hati ketika hidup, akan dijemput kematian dengan takzim dan penuh hormat.

Di depan Istana Negara, para Pejuang Kendeng melakukan aksi #DipasungSemen2 mulai tanggal 13 Maret lalu. Ini merupakan episode kedua dari aksi menyemen kaki. Tahun lalu, sembilan perempuan pemberani melakukan aksi serupa selama tiga hari, dan kini ada sekitar seratus petani berjemur di depan Istana Negara dengan sepasang kaki yang disemen. Penolakan petani terhadap pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng adalah aksi ekologis. Kesuburan tanah yang menjadi sumber penghidupan sehari-hari terancam rusak: pabrik semen yang akan mengeruk kapur penyimpan air tidak bisa dibiarkan berdiri. Para Pejuang Kendeng telah membulatkan tekad menjadi barisan terdepan untuk menyelamatkan sawah, alam, dan masa depan. Segala upaya telah dilakukan: dari mendirikan tenda aksi perjuangan, melayangkan gugatan hukum, meluaskan solidaritas, sampai berjalan kaki lebih dari seratus kilometer. Namun negara malah meludahi perjuangan warga Kendeng untuk memperjuangkan hidup. Sementara itu, warga di Riau, Pangalengan, Karawang, sampai Kalimantan Barat, juga melakukan aksi perjuangan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah mereka dari perampasan terselubung yang dilakukan oleh negara dan korporasi bangsat. Sampai kapan pun, solidaritas saya selalu bersama mereka yang keukeh berjuang melawan ketidak-adilan.

Dari 31 sisa film unduhan yang tersimpan di laptop, saya menonton lima film dalam sepekan terakhir. Yang pertama adalah Medea (1988), film televisi garapan Lars von Trier yang didasarkan pada naskah yang ditulis oleh Carl Theodor Dreyer ketika mengadaptasi drama Yunani Kuno dengan judul yang sama. Medea garapan von Trier ini adalah film yang suram dan muram di mana sepertiga bagian akhir filmnya diisi dengan rangkaian adegan tragis yang memilukan dan menyayat jantung. Yang kedua adalah Unbroken (2014), film yang disutradarai oleh Angelina Jolie dan berkisah tentang kehidupan atlet Olimpiade Amerika Serikat, Louis “Louie” Zamperini. Ketika Perang Dunia II berlangsung, Louie bertahan selama 47 hari di atas rakit setelah pesawat perangnya terjatuh di tengah laut dan kemudian dia menjalani hidupnya di kamp tahanan perang milik Jepang sampai Perang Dunia II berakhir. Sayangnya, Jolie tidak mampu menceritakan kisah hidup Louie dengan menarik: film ini hanya menjadi sekadar tontonan biasa, bukan suatu hal yang bisa memberikan pengalaman mengasyikkan atau memilukan. Saya tidak bersimpati sedikit pun terhadap Louie atau karakter-karakter lainnya yang ada di Unbroken. Satu-satunya hal yang saya ingat dari film garapan Jolie ini adalah rangkaian gambar melodius dari matahari terbit yang menjadi pembuka film ini.

Film selanjutnya adalah Ghosts of Abu Ghraib (2007), film dokumenter karya Rory Kennedy yang mencoba menelaah skandal pelecehan seksual dan berbagai penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat kepada tahanan penjara Abu Ghraib di Irak pada tahun 2004. Ini adalah film dokumenter konvensional di mana beberapa bagian filmnya ada yang menarik, sementara sebagian lainnya berisikan rangkaian gambar dan testimonial yang membosankan. Dan jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang skandal yang terjadi di Abu Ghraib, kamu lebih baik membacanya di sini. La Vie en rose (2007), film musikal biografi Prancis tentang kehidupan Édith Piaf, menjadi film berikutnya yang saya tonton kemarin. Piaf merupakan penyanyi Prancis yang paling terkenal dan paling dicintai abad ini. Piaf tumbuh dari kerasnya kehidupan jalanan Kota Paris: dia kecanduan morfin dan alkohol, bungkuk secara prematur, dan mati di usia 47 tahun. Tragedi dan sukacita terjadi secara simultan dalam kehidupan Piaf. Bagaimana caranya menceritakan kisah hidup Piaf yang kacau dan campur-aduk seperti itu? Olivier Dahan, sebagai sutradara film ini, mampu menyajikannya dengan cukup manis dan memilukan di layar sinema menggunakan rangkaian plot mosaik yang tidak membingungkan, serta Marion Cotillard yang mampu memberikan kinerja menakjubkan dalam memerankan Piaf.

Sebelum mengetik tulisan ini, saya menuntaskan A Ship Bound for India (1947): film Swedia yang disutradarai oleh Ingmar Bergman dan naskah film ini juga ditulis oleh Bergman berdasarkan pada drama bikinan Martin Söderhjelm. Film ini bercerita tentang kisah masa lalu dari karakter utamanya yang bernama Johannes Blom, dan relasinya dengan ayahnya yang kejam, ibunya, dan selingkuhan ayahnya. Film ini berisi rangkaian keputus-asaan dan penderitaan yang secara garis besar membahas tentang hubungan/relasi yang terjadi di dalam keluarga, suatu hal yang menjadi salah satu subjek utama dalam film-film bikinan Bergman selanjutnya.

Beberapa hari yang lalu saya nemu daftar kumpulan film menarik yang diposting di blog Tonight’s Special. Daftar itu berisi delapan film yang, mengutip isi artikelnya, “mungkin bisa memberikan sedikit perspektif untuk masa yang akan datang” agar kita bisa “mempersiapkan diri untuk hal-hal lebih buruk” pasca terpilihnya Donald Bebek, er maaf, Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat tahun lalu. Kamu bisa tengok film apa saja yang masuk dalam daftar itu di sini. Sementara di linimasa Twitter kemarin ini sedang ramai twit tentang “my favorite films from every year I’ve been alive” dan sebagai pemuda yang baik hati dan tidak sombong, saya juga ikutan memposting film-film favorit saya sejak hidup di dunia ini di antaranya Breaking the Waves (1996), 4 Months, 3 Weeks and 2 Days (2007), Cold Fish (2010), A Separation (2011), The Act of Killing (2012), Respire (2014), World of Tomorrow (2015), dan Istirahatlah Kata-kata (2017).

Saya sempat membaca beberapa artikel menarik dalam sepekan terakhir ini: (1) The Book That Killed Colonialism, esai dari Pramoedya Ananta Toer di The New York Times Magazine tentang buku karangan Multatuli yang berjudul Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company; (2) Resepsi Kawinan ala Wiji Thukul di situs Kumparan tentang keunikan acara perkawinan Wiji Thukul (penyair eksentrik yang dihilangkan oleh negara pada tahun 1998 dan sampai hari ini masih belum jelas nasibnya) dengan Dyah Sujirah (Sipon); (3) Total recall: the people who never forget tulisan Linda Rodriguez McRobbie di The Guardian yang menceritakan tentang beberapa orang dengan kondisi memori yang sangat langka di mana mereka mampu mengingat dengan jelas kejadian demi kejadian yang pernah mereka alami sepanjang hidup mereka; dan (4) artikel di blog Kang Bondan Satria Nusantara berjudul Slank, Iwan Fals, Wiji Thukul, dan Mati Ketawa ala Soeharto yang memotret pergeseran zaman dan dampaknya terhadap aksi perlawanan/protes (terutama yang dilakukan oleh Slank dan Iwan Fals) di Indonesia. Oh iya, kamu juga bisa buka blog-nya Cucukrowo Mekgejin jika butuh sesuatu yang informatif dan mengocok perut: cuma di blog itu kamu bakal menemukan artikel menarik tentang ulasan album musik yang bisa membikin buang air besarmu lancar tanpa hambatan. Sementara itu saya masih berusaha menghabiskan Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi karangan Jostein Gaarder sebelum Maret ini berakhir.

Gara-gara menonton video Rachel Sutanto yang meng-cover lagu Turn Your Lights Down Low, saya akhirnya mengunduh dan mendengarkan album Exodus dari Bob Marley and the Wailers yang dirilis tahun 1977 silam. Album ini berisikan materi yang cukup lembut dan halus macam Waiting in Vain dan Turn Your Lights Down Low yang sangat cocok diputar sembari menikmati rokok, kopi, dan senja di sorehari. Sementara lagu seperti The Heathen, Guiltiness, dan Exodus adalah semacam ajakan untuk bangkit dan melawan penindasan. Namun pesan yang ingin disampaikan album ini secara keseluruhan ada di dalam lirik lagu Three Little Birds (“Don’t worry about a thing || Cause every little thing gonna be all right”) dan One Love/People Get Ready (“Let’s get together and feel all right”). (Saya harap semua juga bakal berjalan baik-baik saja di dunia ini. Tapi, Bob ~) Marley adalah figur karismatik di mana api revolusionernya membara di atas panggung, bukan di dalam studio rekaman. Aksi politik dan pertunjukan konsernya yang membikin Marley menjadi legenda, bukan album-album musik rekamannya.

Saya kemarin juga mengunduh dan mendengarkan Aphasia-nya Filastine. EP yang rilis pada tahun 2014 ini dibuka dengan lapisan harmoni vokal dari Nova Ruth yang dipadukan dalam irama elektronik dan instrumen perkusi Grey Filastine di lagu berjudul Requiem 432: ini semacam musik yang dibikin khusus untuk menyambut dan merayakan kematian zaman materialisme. Sixty Cycle Drum diawali dengan musik lo-fi dan suara desisan dari senjata gas air mata, kemudian tempo musik berubah semakin cepat yang menggoda siapa saja untuk berjoget. Murka menjadi track yang paling saya suka, menggabungkan musik electro-folk dengan vokal pentatonis yang mampu membikin saya merinding dan terbuai pada saat bersamaan. Drone Silences menutup EP ini dengan kepekaan dan ritme dub yang telah menjadi ciri khas Filastine selama ini.

Oh iya, sebagai penutup, saya sarankan kamu menonton Respire. Tidak ada alasan khusus dan tidak usah terlalu memikirkan soal apa pun: hidup memang banal. Tonton saja film superkeren bikinan Mélanie Laurent itu.

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s