Syair kematian

Aku bakal memeluk kematian yang memesona
menyeret kebenaranku sendiri yang sempat tercuri
kebenaran yang sengaja diredupkan oleh mereka
kebenaran yang diasingkan dan dikebiri
semesta memelukku serupa bocah manja — aku merdeka
dari tipuan mahkota, kesopanan yang pura-pura dan iri hati.

Oh ayah…

Pada hari yang tidak kuharapkan
engkau tidak menyisakan satu pun alasan
aku menghidupi harap dalam kesendirian
kalah oleh bujuk rayu kesenyapan
namun aku tetaplah pemberontak yang pernah engkau ciptakan
tidak pernah takut dieksekusi kematian.

Kini hatiku sempurna purnama dalam kebebasan
sepenuhnya memeluk kegembiraan pembangkangan
dalam pertempuran demi pertempuran
dalam kesedihan menyesakkan akibat kekalahan
dalam sensasi menggairahkan dari kemenangan.

Oh ayah…

Kita memang hanya bermain-main dengan nasib
setinggi-tingginya tembok yang didirikan, kematian tetaplah kawan karib
ia datang menangkup tawa demi tawa kita
lantas membawa sepotong nama kita ke seberang dunia.

( Biarlah aku tertidur dalam kesakitan,
bukan di atas singgasana kekuasaan
atau ranjang kekayaan! )

Aku bebas, memeluk kematian yang memesona
aku membangun piramidku sendiri dan mengubur kebenaranku di dalamnya
aku membilasnya dengan senyuman, menghiasnya dengan air mata.

Saat sepi berselimut cahaya bulan
sekali lagi aku kenang hari-hari masa mudaku
ketika dunia seolah-olah gampang untuk ditaklukkan
dan kini piramid jahanam itu tersenyum bersiap memangsaku. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s