Pagi tanpa puisi #2

#Untuk Mbak F.

Pagi …
rindu mati setengah
mengelupas, dan dikenang.

Pagi …
jeritan jantung yang pilu
di tepian pantai membiru.

Pagi …
air mani membasuh kedua mataku
rintih tertinggal di leher kiriku.

Pagi …
lumpuh tanpa suara
di hidungku pun kamu tidak ada.

Pagi …
aku mengasapi matahari yang sebatang kara
di dalam embusan rokokputih
di antara sesapan kopihitam.

Pagi …
lidah kaku, biar saja
agar tidak bercecer kata cinta
yang mati tanpa nama
tanpa makna apa-apa.

Pagi …
syair ini kupaksa mati dipelukku, bersamamu
sudahi saja bualan tentang jerit kamu dan aku.

Aku sengaja pagikan rindu yang gaduh
membangkitkan para hantu korban kekerasan masa lalu
menari bersama mereka hingga hari keduapuluhtujuh
sudahi saja bualan tentang jerit kamu dan aku.

Pungkas dipeluk pagi yang ngilu
sudahi saja: rindu dan kamu dan aku. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s