#BanalitasHarian: no alarms and no surprises

Tempo hari Filastine — duo musisi multimedia lintas-negara (Nova Ruth [vocalist/designer] dari Indonesia dan Grey Filastine [director/composer] dari Amerika Serikat) yang kerap membikin komposisi musik dari perpaduan irama elektronik kontemporer dan bebunyian instrumen perkusi/akustik — merilis karya audio-visual terbaru mereka yang berjudul Los Chatarreros yang menceritakan tentang para pemulung besi tua di Kota Barcelona, Spanyol. Single ini merupakan episode keempat dari proyek Abandon: serial audio-visual yang bertemakan tarian pembebasan dari kelas pekerja yang tertindas. Setiap karya audio-visual dalam serial ini menggambarkan tarian katarsis yang unik dan direkam di lokasi-lokasi yang berbeda sebagai simbol protes terhadap dunia kerja yang seringkali menanggalkan kemanusiaan. Proyek serial Abandon bisa disebut juga sebagai kolaborasi seni video, musik, dan film dokumenter yang mencoba mengeksplorasi bagaimana manusia rela menjual apa pun demi bisa bertahan hidup di Bumi. Filastine mampu menyajikan profil pemberontakan pekerja dengan konsep audio-visual yang unik. Tiga episode awal dari serial Abandon ini adalah The Miner (tentang pekerja tambang di Indonesia), The Cleaner (tentang pekerja kebersihan di Portugal), dan The Salarymen (tentang pekerja kantoran di Amerika Serikat). Sementara dari situs Film School Rejects saya baru tahu ada yang mengedit serial drama Breaking Bad (2008-2013) menjadi film dengan durasi 127 menit dan mengunggahnya ke Vimeo.

Akhir pekan kemarin Juventus menang dramatis lawan AC Milan setelah Paulo Dybala sukses mengonversi sepakan penalti kontroversial pada menit 90+7. Saya tersiksa sewaktu menonton layanan streaming pertandingan itu gara-gara koneksi internet yang tidak lancar. Hari Minggu, 12 Maret 2017, Arema FC menjuarai Piala Presiden 2017 setelah di pertandingan final sukses menggulung Pusamania Borneo FC. Gol dari Hanif Sjahbandi dan gol bunuh diri dari Michael Orah melengkapi hattrick yang dicetak oleh Cristian Gonzáles untuk Arema FC, sementara Pusamania Borneo FC cuma bisa membalas dengan sebiji gol dari Firly Apriansyah. Pertandingan macam Pusamania Borneo FC vs. Arema FC itu yang selalu ingin saya tonton di sebuah final turnamen sepakbola: seru dan banyak gol. Dan final Piala Presiden 2017 kemarin itu menjadi bukti bahwa El Loco bukan sekadar nama julukan untuk Gonzáles. Pentagol di babak semi-final dan trigol di partai final: Gonzáles betul-betul “gila”!

Setelah final Piala Presiden 2017, saya lanjut menonton pertandingan Serie A Italia antara Inter Milan vs. Atalanta di mana Inter Milan (yang tidak keren itu) bisa unggul empat gol dalam 30 menit. Pertandingan itu ditutup dengan kemenangan telak 7-1 untuk Inter Milan. Mauro Icardi dan Éver Banega cetak hattrick dan satu gol Inter Milan lainnya dicetak Roberto Gagliardini, sementara Atalanta cuma bisa membalas lewat sepakan Remo Freuler. Jujur, saya tidak sepenuhnya percaya dengan hasil pertandingan itu. Apa lacur? Atalanta merupakan tim paling menarik gaya mainnya di Serie A Italia musim ini, dan Inter Milan adalah — ah, saya selalu menganggap bahwa Inter Milan adalah klub Italia paling konyol sepanjang masa. Sisa malam itu saya habiskan dengan menonton pertandingan sepakbola lainnya: Liverpool yang kebobolan gol di menit-menit awal namun bisa membalikkan angka dengan dua gol yang dicetak oleh Georginio Wijnaldum dan Emre Can.

Beberapa hari terakhir ini publik dunia maya diramaikan dengan tagar #RinduORBA. Saya cuma bisa mengelus dada kawan perempuan saya ketika tahu ada beberapa orang yang merindukan zaman fasisme Orde Baru pimpinan Soeharto yang mengawali era kediktatorannya dengan menjagal orang-orang “merah”, orang-orang yang “kemerah-merahan”, dan orang-orang yang dicurigai (atau dituduh) “merah”. Setengah juta, satu juta, atau entah berapa juta “merah” yang menjadi korban guyonan tidak lucu Soeharto untuk memandikan Indonesia dalam kubangan amis darah. Ada tulisan menarik dari Kokok Dirgantoro yang dipublikasi oleh situs Mojok pada hari Senin kemarin. Dalam artikel itu Kokok menuliskan masing-masing dua hal tentang apa yang dia rindukan dan yang tidak layak untuk dirindukan dari zaman Orde Baru. Kokok mengakhiri tulisannya dengan imbauan dan gantungan satire yang menggelitik: “Saya percaya, setiap generasi berhak menorehkan tinta sejarahnya masing-masing. Jika suatu saat generasi ingin membangkitkan kembali Orba, itu sah dan haknya sebagai warga negara. Juga kepada yang berteriak kencang untuk mendirikan khilafah menurut saya tetap harus dihormati. Mau itu semua dogmatis, hanya ikut-ikutan, atau nurut buta pada senior, itu adalah pilihan. Bagi yang mengedepankan logic, bottomline, dan siap dengan perbedaan, wajib untuk tidak diam. Beradulah logika agar apa pun yang terjadi di masa depan didasari logika kuat untuk kemenangan dan kejayaan bersama. Bukan karena diplokoto politisi atau tekanan sektarian. Oke, Orba boleh bangkit, ide khilafah harus dihormati. Kalau Sosialisme-Komunisme? Maaf space tulisan saya habis. Lain kali aja ya dibahasnya.

Sementara dari Istana Negara ada kabar bahwa Raisa Andriana (salah satu godaan lelaki masa kini) dapat hadiah sepeda dari Presiden Jokowi. Video Raisa yang menatap Jokowi dengan lembut dan penuh arti saat perayaan Hari Musik Nasional di Istana Negara kemarin itu bikin saya gemas. Bukan gemas melihat sikap Jokowi dalam merespons atau membikin situasi penegakan hukum menjadi kondusif, namun yang bikin menggemaskan adalah wajah Raisa. Duh gusti, kapan saya bisa ditatap seperti itu oleh Raisa? Hal receh lain yang saya lakukan setelah menonton video Raisa-Jokowi adalah sibuk mantengin video cover lagu dari Rachel Sutanto dan scrolling akun Instagram-nya. Hahaha!

Selain #RinduORBA dan Raisa-Jokowi, hal absurd lain yang ramai dibicarakan adalah tentang dugaan korupsi e-KTP, program nanggung bertabur kontroversi. Katanya, surat dakwaan kasus ini setebal 24.000 halaman dan setinggi dua-setengah meter. Nilai korupsinya juga yang tertinggi, yakni mencapai 2,3 triliun rupiah — bandingkan dengan rekor yang sebelumnya dipegang Kasus Hambalang sebesar 706 miliar rupiah. Uang pajak saya dan kamu — kita semua — dirampok oleh orang-orang yang katanya pelayan kita semua. Ada jauh lebih banyak hadits dan ayat yang menyebutkan bahaya korupsi ketimbang perihal pemimpin muslim, dan nyaris tidak ada perbedaan tafsir/pandangan antar-ulama soal korupsi. Namun, hingga kemarin para pentolan Aksi Bela Islam tidak banyak mengonsolidasikan umatnya untuk bergerak. Padahal, menurut saya, kasus ini lebih layak dijadikan sasaran demonstrasi. Jika demo soal penistaan agama saja, katanya, diikuti tujuh juta orang, seharusnya kasus korupsi e-KTP ini bisa menarik sekitar 15 juta orang turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi. Sebab isunya lebih layak diperjuangkan, dan yang dirugikan juga jauh lebih banyak: bukan cuma Islam yang dinistakan, namun semua agama yang ajarannya tidak membenarkan korupsi juga ikut dinistakan. Sekali lagi, sampai saya mengetik tulisan ini, tidak ada tanda-tanda bakal ada aksi dari pihak manapun. Yang ada hanyalah gerutu samar-samar.

Maksud saya — tanpa adanya tekanan dari masyarakat, kasus ini pasti bakal mudah diredam dengan isu-isu receh lainnya seperti yang selama ini selalu terjadi di sini meskipun kasus, mengutip BBC Indonesia, “megakorupsi e-KTP” ini ditangani oleh KPK. Saya yakin tekanan masyarakat masih cukup ampuh dalam mengawal penanganan kasus biadab macam korupsi e-KTP ini. Korupsi jauh lebih membahayakan dan lebih merusak kehidupan sosial masyarakat ketimbang penistaan agama. Namun, bagi saya, setidaknya ini menunjukkan bahwa aksi-aksi yang terjadi di penghujung tahun kemarin itu didesain untuk menguntungkan kepentingan kelompok tertentu saja ketimbang murni menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Dalam sepekan terakhir, saya menonton 11 dari 42 sisa film yang saya unduh bulan ini. Snowden (2016) garapan Oliver Stone jadi film pertama yang saya tonton hari Sabtu kemarin selepas membudak harian di kantor. Film ini menceritakan tentang Edward Snowden, salah satu teknisi NSA yang membocorkan rahasia busuk Amerika Serikat dan melarikan diri ke Rusia. Film ini lebih layak dianggap sebagai versi dokumenter dari Captain America di mana Snowden digambarkan layaknya seorang bocah pramuka dengan idealisme patriotik kuno yang mencoba berdamai dengan kebusukan Amerika Serikat di abad ke-21. Dan sama seperti Captain America: Civil War (2016), Snowden diakhiri dengan karakter utama dan pasangannya mengasingkan diri ke Rusia. Snowden mungkin bisa menjadi film drama-thriller yang menarik andai saja kronologis kisahnya diceritakan menggunakan plot linear, bukannya melalui struktur kilas-balik.

Chungking Express (1994) dan Él (1953) adalah film yang saya tonton selanjutnya. Chungking Express, disutradari Wong Kar-wai, berfokus pada dua polisi menyedihkan yang baru saja dicampakkan oleh kekasih masing-masing dan menderita patah hati berlarut-larut, namun kemudian keduanya jatuh hati kepada dua perempuan lain. Empat karakter utamanya didorong oleh keputus-asaan dan kesepian dalam menjalani kehidupan harian mereka. Poin utama film ini bukanlah pada apa-apa yang terjadi dengan keempat karakter itu: film ini tentang perjalanan atau proses kemenjadian dalam hidup masing-masing karakternya, bukan tentang tujuan akhir mereka. Sementara Él adalah komedi-hitam yang muram dan brilian dari Luis Buñuel, seorang maestro surealis di dunia sinematik. Karakter utama film ini, Francisco Galván de Montemayor, adalah seorang bajingan tua gila dengan ketertarikan terhadap kaki perempuan dan tingkat kecemburuan terhadap pasangannya begitu besar. Film ini pernah dijadikan subjek pembelajaran tentang paranoia oleh Jacques Lacan dalam salah satu kelasnya. Dan jika ingin tahu lebih banyak soal Buñuel, kamu bisa membaca biografinya yang ditulis oleh Dominique Russel di Senses of Cinema.

Selain tiga film itu, saya juga menonton: Wild Strawberries (1957), tentang seorang profesor tua yang mencoba berdamai dengan kesalahan di masa lalu dan keniscayaan bahwa manusia bakal mati suatu hari nanti; Rescue Dawn (2006), tentang kisah nyata dari seorang pilot Jerman-Amerika bernama Dieter Dengler yang menjadi tahanan simpatisan tentang Viet Cong saat terjadinya Perang Vietnam; Personal Effects (2008), tentang dua orang yang berusaha mengatasi rasa sakit dan frustasi akibat kehilangan orang-orang yang mereka sayangi; Happy Feet Two (2011), film animasi-musikal tentang kehidupan kumpulan penguin di Kutub Selatan yang terancam oleh perubahan iklim.

Saya merekomendasikan empat film ini sebagai tontonan jika kamu tidak punya rencana di akhir pekan besok:

Tony Takitani (2004) garapan Jun Ichikawa yang didasarkan pada cerpen berjudul sama karangan Haruki Murakami. Film ini berkisah tentang mengakrabi kerinduan, keterasingan, dan kehilangan sebagai kondisi hidup manusia. Ini adalah sebuah perayaan kehampaan yang dilakukan dengan begitu khidmat dan asyik: sebuah prosa lezat untuk para masokis pecinta kesunyian dan kesendirian dalam kehidupan yang serbabanal. Selain isi cerita yang brilian, film ini semakin lengkap karena teknik pengambilan gambarnya yang keren dan latar belakang musik dari Ryuichi Sakamoto yang menyayat jantung.

Persepolis (2007), film animasi-biografi karya Marjane Satrapi dan Vincent Paronnaud tentang seorang gadis muda (Satrapi) yang tumbuh-besar dengan latar belakang kekacauan politik di era Revolusi Iran. Durasi 98 menit mungkin terasa kurang lama untuk menceritakan kehidupan masa muda Satrapi, namun film ini berhasil mengisahkannya dengan cermat, penuh cinta, dan gaya sinematik yang keren. Ini adalah film yang jauh lebih menarik ketimbang kisah coming-of-age tolol yang sering ada di film animasi Hollywood.

Saving Face (2012), film dokumenter tentang korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Pakistan yang disutradarai oleh Sharmeen Obaid-Chinoy dan Daniel Junge. Para perempuan yang menjadi korban KDRT di film ini wajahnya rusak karena disiram air keras oleh suami-suami (atau kerabat) mereka. Alasannya beragam — namun satu yang jelas: para suami (atau kerabat) yang menyiram air raksa ke wajah para perempuan itu sinting. Film ini mengonfirmasi bahwa kita masih hidup dalam dunia yang tidak baik-baik saja dan tidak ramah dengan perempuan. Ambil contoh Rukhsana, salah satu perempuan yang menjadi korban KDRT di film ini: setelah disiram air raksa oleh suaminya, Rukhsana kemudian disiram bensin oleh kakak iparnya, lantas kemudian ibu mertuanya menyalakan korek api untuk membakar Rukhsana hidup-hidup. Ini bukan hanya sinting, namun jahanam bangsat! Saya sedih, merinding, geregetan, dan marah ketika menonton film ini.

Leviathan (2012), film dokumenter-eksperimental karya Véréna Paravel dan Lucien Castaing-Taylor yang berkisah tentang industri perikanan Amerika Utara. Film ini tanpa voiceover, testimoni, narasi, latar belakang musik manipulatif, atau hal-hal yang biasanya ada di film dokumenter konvensional — hanya deretan gambar yang surreal, gelap, dan abstrak yang memberi kesan menakutkan dan menyenangkan pada saat yang bersamaan. Ini adalah tentang bagaimana alam disajikan, dilihat, dan didengar tanpa banyak sensor atau filter. (Lalu: “Film ini tidak masuk akal, tidak jelas, tidak punya makna apa-apa.” Lihat dan perhatikan sekelilingmu, kampret: tidak ada yang masuk akal! :p) Sembari mengunduh film ini, kamu mungkin bisa membaca wawancara dengan sutradara film ini yang dipublikasi oleh situs Gawker di sini.

Hari Sabtu kemarin, saya membaca salah satu artikel dari The Guardian yang menyebutkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi krisis kemanusiaan terburuk sejak 1945 dengan lebih dari 20 juta manusia di empat negara mengalami kelaparan. Di Kota Damaskus, Suriah, serangan bom mematikan 46 orang dan sekitar 120 orang mengalami luka parah. Sementara itu drama politik Korea Selatan memasuki episode baru. Sudah 19 akhir pekan yang dihabiskan warga Korea Selatan untuk membanjiri jalanan Kota Seoul menuntut presidennya, Park Geun-hye, lengser. Jumat, 10 Maret 2017, keinginan itu mewujud nyata namun demo akhir pekan itu tetap dilakukan oleh warga Korea Selatan, namun kali ini mereka membawa tuntutan yang berbeda: Geun-hye harus dijebloskan ke penjara. Dari artikel di koran Jawa Pos yang saya baca, warga Korea Selatan menuding Geun-hye memanfaatkan kekuasaan dan wewenangnya sebagai presiden untuk memaksa korporasi-korporasi raksasa Korea Selatan “menyumbang ke organisasi non-profit K-Sport” yang dikelola sahabatnya bernama Choi Soon-sil. Sebagai gantinya, korporasi-korporasi yang menyumbang bakal mendapatkan keuntungan sesuai dengan permintaan mereka. Dan Rabu dinihari, Juventus berhasil lolos ke babak perempat-final Liga Champions Eropa 2016/17 lewat sebiji gol dari sepakan penalti Dybala ke gawang FC Porto yang dijaga oleh Iker Casillas. Pertandingan leg kedua itu tidak seru dan tidak menyenangkan seperti yang saya harapkan, padahal FC Porto harus main dengan 10 orang karena Maxi Pereira diusir pada menit 40: Juve hanya memutar bola kesana-kemari tanpa pergerakan ciamik, tanpa tujuan yang jelas. Asu!

Saya baru saja menggasak seporsi nasi goreng dan segelas teh susu hangat ketika mengetik kumpulan paragraf ini, ditemani album bertajuk Selftitled (2013) dari Layur yang berisikan tujuh materi ambient yang menenangkan. Lagu A little piece (Sepotong kecil) memadukan kicau burung dan suara sama-samar dari percakapan beberapa anak kecil dengan beberapa baris melodi yang syahdu. Kombinasi musik yang tergesa-gesa dan menyentak dalam Someday we’ll leave our walls behind seperti ingin mengingatkan bahwa kita nantinya bakal melampaui batasan yang telah kita tetapkan sebelumnya, yang disambung dengan melodi tenang dan segar dari lagu Sway yang mengajak kita beristirahat sejenak sembari sesekali menengok ke belakang untuk mengingat dari mana kita berasal dan seberapa jauh jarak yang telah kita tempuh agar bisa sampai pada titik sekarang ini. Ada secangkir kopihitam dan beberapa batang rokokputih yang harus dihabisi terlebih dahulu dalam I’m not forcing my way into anything and you don’t have to tell me everything sebelum kita harus beranjak pergi meneruskan langkah ke entah-berantah.

Kemarin saya mendengarkan kembali album Her (Original Motion Picture Soundtrack) (2014), musik score untuk film Her (2013) hasil gubahan Owen Pallett dan Arcade Fire. Sama seperti filmnya, album soundtrack ini berbicara tentang emosi manusia: ada dorongan untuk melakukan kontemplasi di materi Song on the Beach, ada rasa penasaran/ingin tahu yang aneh dalam Sleepwalker, ada pahit dan manis yang dicampur sedemikian rupa dalam Photograph, ada kepiluan yang menyayat jantung di lagu Loneliness #3 (Night Talking), dan semua itu diakhiri dengan harapan dalam Dimensions. Selain itu, saat ini saya sedang intens mendengarkan Present Tense, No Surprises, dan Desert Island Disk dari Radiohead, serta Perth/Ready for the Floor-nya Daughter.

Akhir-akhir ini saya keranjingan membaca kisah kocak Wiji dan Diman di blog Wong Edan Suroboyo serta cerpen terjemahan di blog-nya Mas Arif Abdurahman. Dan, oh iya, di sela-sela rutinitas membudak harian saya juga sedang berusaha menghabiskan Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi karangan Jostein Gaarder sebelum bulan Maret ini selesai.

Selebihnya … selama masih ada rokokputih dan kopihitam, saya bakal baik-baik saja. Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s