Di hadapan tubuhmu

(pada satu sore…)

Saya mendongak ke atap mencari-cari celah dari mana senja bakal mewujud, sementara sepotong ranting bergoyang serupa pinggulmu yang kerap merayu.

Pojokan bibirmu yang ranum seringkali saya jadikan tambatan hening agar menjelma kenangan tentang tawa dan luka, serta sepenggal percakapan yang menyerap darah.

Kulitmu yang menguning menyimpan jejak masa silam dan harapan yang tunduk dan bungkam pada banalitas kenyataan.

Apakah tanah yang kamu pijak sudah terlampau lelah?” ujarmu sembari menyisakan senyum untuk saya, sebelum akhirnya beranjak melangkah pulang ke entah-berantah.

Di hadapan tubuhmu yang mulai menjauh — saya tidak hanya menatap sepotong keindahan yang mencukupkan, melainkan juga bayangan jiwa yang menegakkan rindu tanpa pernah mengeluh. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s