Hitam

/1/

Hitam bukan hanya sekadar putih yang menggelap kelam
ia adalah sekelumit kisah dari sang manusia
yang rajin memetakan rindu di setiap malam
kepada pagi, dengan tatapan polos penuh damai,
ia melayarkan tumpukan hasrat untuk menggenapi dendam
menyelimuti kalbu kasih senja yang mulai memudar diterkam padam.

/2/

Kapan ia akan datang untuk bersandar? Bukankah di setiap pagi sayapnya selalu terbakar? Ringkih dan linglung seperti dilempar oleh perasaannya yang semakin liar?

Ah biarlah sekarang ia tidak berkabar. Biarlah suara angin kian menampar. Dan burung pemakan bangkai melayangkan senyum kemenangan berlembar-lembar. Hati sudah terlanjur terbiasa memeluk sukar. Sekali lagi, biar.

/3/

Lirih suara denting jam
monoton dan menebar kesan kejam
tidak ada apa-apa, rembulan pun telah padam.

Ia masih saja menyibukkan diri dalam kelam
entah mencari apa, atau sekadar menghirup udara malam
dingin merentangkan tangan memeluk kepala
mengisap hangat hingga tanpa sisa
ditemani denting lirih suara jam
dan siul angin yang mematikan; ia masih tetap hitam.

/4/

Apakah ia masih suka berjongkok dengan wajah penuh syukur menghadap semburan api yang menyala-nyala? Jangan tanya kenapa atau untuk apa. Itu adalah bentuk keindahan yang tidak banyak manusia bisa memahami dan menikmati, katanya. Apakah rindu masih membikinnya tampak menantang takdir dan berbahaya? Entahlah. Biar saja ia tetap seperti itu, menjadi dirinya sendiri yang selalu menjebak mimpi dalam lipatan memori di antara romantisme labirin nostalgia. Sekali lagi, biar saja.

/5/

Matanya terpejam.

Menunggu moksa membangunkannya,
entah dengan belaian atau tamparan,
dan mengajaknya melampaui batasan samsara.

Ia mati, dengan belati di tangan kiri
wajahnya tertutup damai dan bahagia
dengan secuil senyum di pojokan jantung perseginya.

Kematian adalah suaka yang membebaskannya untuk menjadi seutuhnya manusia bebas. Kemerdekaan diri merupakan penghargaan tertinggi yang bisa didapat oleh sang manusia dari segala rindu dan cinta dalam kehidupan. Ia dipeluk sukacita, sepenuhnya mengabadi.

Ia telah mati,
telah mati,
mati. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s