#BanalitasHarian: mengurung diri dan bermalas-malasan

Sepekan terakhir ini saya lebih banyak berdiam dan mengurung diri di dalam kamar kos saja. Bukan apa-apa, saya hanya berusaha memulihkan kondisi setelah pekan sebelumnya tiba-tiba ambruk dan malas untuk melakukan kegiatan apa pun. Di sela-sela meditasi itu saya berhasil menghabiskan dua buku bacaan. Yang pertama judulnya Kesetrum Cinta, buku yang cukup asyik dan menghibur tulisan Mas Sigit Susanto tentang gegar budaya yang dia alami setelah kawin dengan perempuan asal Swiss bernama Claudia Beck. Mas Sigit menceritakan kisahnya dengan kocak dan tidak jarang pula ada beberapa momen dalam bukunya yang bikin saya membatin “ciye…” gara-gara cerita romansanya yang menyentuh jantung. Buku kedua yang berhasil saya habiskan berjudul Sepak Bola Seribu Tafsir karya Eddward S. Kennedy yang mengafirmasi bahwa sepakbola adalah sebuah perayaan hasrat (perempuan) dan ketidak-sadaran (bir/alkohol) karena buku ini ditulis layaknya fans di tribun stadion sedang menonton pertandingan sepakbola sambil dirasuki ketidak-sadaran alkoholik. Selain itu, bukunya Eddward ini menjadikan sepakbola sebagai fenomena sosial yang layak dibahas secara ilmiah sekaligus bisa dibincangkan dengan kawan-kawan di warung kopi langganan. Sewaktu menulis ini, saya masih sampai di bab pertama buku Misteri Soliter: Filsafat Dalam Setumpuk Kartu Remi karya Jostein Gaarder.

Awal pekan ini di Malang dihiasi dengan aksi mogok para sopir angkutan kota sebagai bentuk protes mereka terhadap layanan transportasi berbasis online yang mulai ramai digunakan oleh penduduk. Solusi masih jauh panggang dari api, namun mulai sore tadi beberapa angkot sudah mulai beroperasi kembali. Sebelum para sopir angkot di Malang melakukan aksi mogok massal, Yang Dipertuan Rizal Hilmi selaku pemimpin sekte hura-hura saya sudah melakoni aksi mogok dengan alasan yang tidak jelas antara patah hati atau sekadar mencari inspirasi: yang jelas selama dua hari, Yang Dipertuan Rizal nyampah di kamar kos saya. Sialan!

Pekan ini juga ditandai dengan momen Hari Perempuan Internasional yang selalu dirayakan pada tanggal 8 Maret tiap tahunnya. Berbagai macam aktivitas kesetaraan gender untuk kaum perempuan kembali digaungkan, entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Simbol, poster, foto, atau artikel yang menyerukan persamaan hak antara perempuan dan lelaki tersebar di linimasa media-sosial, sementara aksi turun ke jalan sebagai bentuk perayaan seremonial momen ini juga dilakukan di banyak tempat di seluruh penjuru dunia. Untuk ikut merayakan Hari Perempuan Internasional, saya memilih untuk mengenang kiprah para perempuan perkasa dan pemberani dalam bidangnya dengan menuliskannya di sini, serta mencoba mengapresiasi keindahan sepakbola perempuan di sini.

Saya menonton kembali serial drama Dawson’s Creek: Season 1 (1998) dan saya baru menyadari bahwa Dawson Leery (James Van Der Beek) yang menjadi tokoh utama adalah seorang moviesnob yang tergila-gila dengan film-filmnya Steven Spielberg dan bercita-cita ingin menjadi sineas film. Seingat saya sewaktu pertama kali menonton serial drama ini di TPI 18 tahun yang lalu, Dawson hanyalah remaja lelaki labil dan tolol yang jatuh cinta kepada dua perempuan dan bingung harus memilih yang mana. Meski begitu, simpati saya terhadap Joey Potter — karakter yang diperankan oleh Katie Holmes — masih sama seperti dulu ketika menonton serial drama ini.

Untuk melengkapi nostalgia dengan Dawson’s Creek, saya sengaja mengunduh dua album soundtrack-nya yang berisikan 28 lagu alternative pop/rock, di antaranya ratapan cengeng Lose Your Way dari Sophie B. Hawkins dan Did You Ever Love Somebody-nya Jessica Simpson, lagu alternative rock dari Shooter berjudul Life’s a Bitch dan musik pop centil easy listening dari Heather Nova yang judulnya London Rain (Nothing Heals Me Like You Do), serta syair tragis Cry Ophelia dari Adam Cohen. Sebagian besar lagu yang ada di album soundtrack ini terkesan cukup receh jika dibandingkan dengan kompleksitas melodrama plot cerita dari serial dramanya. Meski begitu, Kiss Me-nya Sixpence None the Richer dan I Don’t Want to Wait-nya Paula Cole masih terdengar renyah dan menyenangkan di kuping saya.

Selain album soundtrack dari Dawson’s Creek, daftar putar Winamp di laptop butut saya berisikan lagu-lagu dari grup musik favorit saya sepanjang masa (Radiohead, Daughter, Godspeed You! Black Emperor, Stars and Rabbit, Sigmun, dan Warpaint) dan saya juga sengaja menambahkannya dengan lagu dari grup musik post-rock (You Can’t Explain Logic, There Will Be Fireworks, The Silver Mt. Zion Memorial Orchestra & Tra-la-la Band (with choir), sleepmakeswaves, Sigur Rós, Explosions in the Sky, Amiina) sebagai bagian dari upaya saya memulihkan kondisi tubuh. Saya percaya bahwa musik adalah terapi yang cukup ampuh karena memiliki semacam daya magis yang mampu membikin kondisi tubuh membaik dan otak bisa bekerja dengan normal kembali. Agar terapi dan meditasi berjalan lancar, saya tidak lupa menyandingkannya dengan asupan yang cukup dari kretek dan kopihitam.

Hari Sabtu kemarin saya juga menonton pertandingan sepakbola antara Manchester United vs. Bournemouth di kantor yang berakhir imbang 1-1 padahal Bournemouth bermain dengan 10 orang. Marcos Rojo bikin gol untuk Manchester United di menit ke-23 dan kawan kerja saya, Kang Wahyu Soketz, berteriak girang sebelum akhirnya semangat Kang Wahyu perlahan pudar setelah Joshua King mampu samakan angka melalui sepakan penalti. Sisa pertandingan pun kemudian diisi dengan penampilan heroik Artur Boruc di bawah mistar gawang Bournemouth yang membikin frustasi para pemain Manchester United (dan, tentu saja, Kang Wahyu), termasuk Zlatan Ibrahimović yang gagal mengonversi penalti menjadi gol. Keesokan harinya giliran saya yang frustasi dan geregetan ketika menonton pertandingan Udinese melawan klub kesayangan saya, Juventus. Laga Udinese vs. Juventus tidak ada ubahnya dengan horor-komedi bagi saya: Dani Alves sering menghilang dari posisinya di sisi kanan pertahanan Juve, sementara Leonardo Bonucci selalu telat mengcover lubang yang ditinggal Dani Alves, dan petaka itu terjadi di menit ke-37 ketika Gianluigi Buffon gagal menepis sepakan Duvan Zapata. (Lupakan era kelam Juve antara tahun 2007-2010, Dani Alves adalah pemain Juve yang paling tidak enak ditonton gaya mainnya sejak Fabian O’Neill!) Juve mampu menyamakan angka pada menit 60 setelah Bonucci sukses mengonversi umpan sepakan-bebas Paulo Dybala. Setelahnya, Juve nyaris tidak punya hasrat untuk memenangkan pertandingan: skor 1-1 bertahan sampai laga buyar. Bangsat!

Hari Kamis kemarin, ketika libur dari aktivitas membudak harian, saya mengisinya dengan bermalas-malasan di depan laptop dan menonton tiga dari 47 film yang berhasil saya unduh di awal bulan ini sembari menikmati camilan yang dibawakan oleh kawan perempuan saya. Film pertama, Hackshaw Ridge (2016) garapan Mel Gibson, tentang seorang pasifis yang mendapatkan Medal of Honor tanpa melepaskan satu tembakan pun ketika Perang Dunia II. Film ini receh dan terkesan seperti film propaganda perekrutan militer: daftarkan dirimu, bergabunglah dengan militer; seleksinya memang berat dan aktivitas hariannya tidak menyenangkan, tapi hei, kamu masih bisa membikin perbedaan dan melakukan sesuatu yang berguna bagi tanah air dan bangsamu dari kesatuan militer meski kamu menolak perang. Lihatlah Desmond Doss (karakter utama yang diperankan oleh Andrew Garfield) di film ini — dia berhasil selamat dari kejamnya Perang Dunia II tanpa menembakkan satu peluru pun, dan kamu juga bisa menjadi seperti itu. Ah, taik keong! Film ini lebih menarik sebagai bahan pembicaraan di sela-sela kegiatanmu ngopi bersama kawan ketimbang ditonton. Namun jika kamu adalah tipe pribadi yang religius dan, entah bagaimana caranya, juga menyukai kekerasan eksplisit di layar sinema, saya merekomendasikan film ini. Tonton saja dengan kekasih atau Pokemon peliharaanmu.

Film kedua yang saya tonton kemarin judulnya Always (1989) yang disutradarai oleh Spielberg. Ini adalah remake dari film drama romantis berjudul A Guy Named Joe (1943) namun Spielberg tidak memperlakukan film ini sebagai direct scene-by-scene repeat dari versi sebelumnya. Di film garapannya, Spielberg hanya menggunakan premis yang sama: arwah gentayangan dari pilot pesawat membimbing pilot junior yang menggantikannya, dan si arwah pilot senior menyaksikan pilot junior jatuh cinta dan menjalin hubungan intim dengan kekasihnya yang masih hidup. Secara keseluruhan film ini layak diejek sepuas-puasnya. Saya pikir Spielberg sedang bercanda ketika membikin film ini, dan sialnya, tidak lucu sama sekali. Yang ketiga adalah Such Is Life (2000), film Meksiko yang ditulis berdasarkan drama Yunani Kuno berjudul Medea. Judul asli film ini adalah Así es la vida dengan seluruh dialognya berbahasa Spanyol dan saya menontonnya tanpa subtitle terjemahan bahasa Indonesia/Inggris. Saya tahu cerita dasar dalam kisah drama Medea, namun selama 98 menit durasi filmnya, saya sama sekali tidak paham dengan apa-apa yang diomongkan oleh karakter-karakter dalam film ini. Ting-a-ling, hahaha!

Oh iya, saya juga mendengarkan EP dari duo indie asal Islandia, Of Monsters and Men, bertajuk Into the Woods (2011) yang berisikan empat materi lagu dengan instrumentasi kuat dan harmoni vokal perempuan-lelaki yang cukup manis. Jika kamu suka mendengarkan lagu-lagunya Arcade Fire, serta menikmati kombinasi suara terompet dan akordion dalam balutan musik indie rock, saya berani jamin bahwa kamu bakal dengan mudah menyukai karya-karya Of Monsters and Men. Tadi, di sela-sela jam membudak, saya menyempatkan diri membaca dua cerpen bagus bertema sepakbola: Sepakbola Hari Minggu karya Marina Burana dan Kenangan pada Sebuah Pertandingan yang ditulis oleh Thomas Sunlie Alexander.

Yang terakhir, saya sarankan kamu segera mengunduh single gratis Check Your People dari Morgue Vanguard x Doyz di situs Grimloc. Lagu itu memiliki pesan yang jelas dan tidak bertele-tele dalam liriknya: “Simpan doktrin kalian soal cinta tanah air | bagi mereka yang tak punya tanah dan selalu membeli mahal air | bagi mereka yang terusir dan menjadi martir | saat nasib dipaksa parkir di bawah cakar Garuda | dan berakhir hidup di bawah tanah serupa Moria | di bawah angkara aparat yang tercatat | sejak Rotor dan ‘Pluit Phobia’ | hingga tiba di era ekspansi menggurita | terekam oleh WatchDoc dengan kamera.

Dan karena besok adalah hari Sabtu, saya bakal menutup tulisan dengan ini: “… bahwa lutung-lutung itu dulunya adalah manusia dan mereka dikutuk menjadi gerombolan lutung karena tetap bekerja di hari Sabtu.

Tabik. {}

Advertisements

4 thoughts on “#BanalitasHarian: mengurung diri dan bermalas-malasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s