Jika bukan ini, lalu apa? #2

Biarkan aku menyelinap di antara kertas-kertasmu
mewujud kata yang menempel di senjamu.

Tidak mengapa meski hanya dua atau tiga baris saja:
untuk mengurai pekat bosanmu,
untuk menjaga hangat mimpi utopismu,
untuk membasuh peluh lelahmu.

Atau hanya sekadar berserakan di dalam sepatu kerjamu.

Sayangku…
aku adalah hitam yang mengimbangi putihmu
juga gelap yang menetes di setiap terang pagimu.

Tanpa membunuh apa-apa kecuali waktu. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s