Au revoir

#Untuk Kanjeng Ratu F: saya akan baik-baik saja — sepertimu.

Surat ini tidak akan pernah sampai di alamat kotak suratmu, atau berakhir di inbox ponsel-cerdasmu. Saya lebih memilih menyimpannya di sini, bersama segala keruwetan bernama perasaan cinta untukmu.

Mbak F, sayang.

Jika kamu ingin pergi, silakan. Saya tidak memiliki niat untuk menahanmu hanya untuk saya saja. Saya tidak ingin “kita” terlihat (sok) dramatis layaknya film-film Hollywood dan berakhir di layar superbesar hanya untuk ditertawai dan ditangisi oleh orang banyak. Tempuh saja jalan yang sudah kamu bangun dengan segenap mimpi dan harapanmu itu. Meski sebenarnya saya juga tidak ingin kamu pergi, sebab saya sangat jarang menemukan seseorang yang pengertian, dan kamu adalah salah satu dari yang “sangat jarang” itu. Terimakasih untuk itu, namun saya tetap tidak bakal mencoba untuk menahan langkahmu. Pergilah. Terbanglah. Berbahagialah.

Saya tidak akan berada di sana untuk menahanmu, atau bahkan hanya untuk sekadar menemanimu di terminal bus keberangkatan. Biar saja saya dan kamu menikmati betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan dengan sendiri-sendiri. Tidak ada peluk dan kecup mesra perpisahan, tidak ada seseorang yang melihat jejak langkah semakin hilang ditelan kenyataan, tidak ada sepotong harapan yang sengaja dititipkan agar masing-masing dari “kita” tetap kuat setelahnya, tidak ada lambaian tangan, dan tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak ada apa-apa. “Kita” merayakan perpisahan dengan cara yang paling sunyi dan sendiri, mbak.

Seiring berjalannya waktu, kamu bakal terbiasa dengan luka dan segalanya akan kembali baik-baik saja.

Namun jika nantinya hal itu tidak mampu mencukupkan “kita” berdua, mari mempercepat langkah demi sebuah perjumpaan. Dan karena perjumpaan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, maka saya bakal datang menjemputmu di sana — di terminal bus kedatangan sialan itu. Dengan peluk dan kecupan, dengan rindu dan harapan, dengan ucapan selamat datang dan sebuah senyuman.

Hidup hanya menunda kekalahan,” ujar Chairil Anwar dalam satu kesempatan, dan bagi saya, kamulah salah satu “si penunda kekalahan” itu dalam hidup banal saya. Saya bakal mengistirahatkan kata-kata saya di sana, di pojokan jantung persegi milikmu.

Sebab cinta tidak akan pernah benar-benar berakhir, hanya “kita” yang beranjak pergi menuju mati.

Au revoir, mbak. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s