Pulang

#Untuk V: bagi sebagian orang, pulang ke rumah berarti kembali pada kenyataan yang getir atau kemiskinan yang menyambut tepat di depan pintu.

Pernahkah kamu merasa tidak tahu harus pulang ke mana, seolah-olah kamu tidak punya rumah yang bakal membasuh lelahmu? Tidak punya teras tempat kamu bisa berdiri seharian menikmati secangkir kopihitam sembari menunggu seseorang yang rajin membawakanmu sekoper rindu. Tidak punya kamar dengan jendela yang bisa menghiburmu dengan panorama sebuah taman kecil berlatar-belakang senja dan sesekali kupu-kupu singgah di sana untuk sekadar menyapamu.

Pernahkah kamu merasa benar-benar sendiri? Hidup dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Dengan perasaan yang mudah berganti di setiap pagi. Dengan kekacauan emosi yang tidak pernah bisa kamu hindari. Tidak punya siapa-siapa hanya untuk sekadar berbagi hati di malamhari.

Pernahkah kamu merasa telah melepaskan satu demi satu hasrat dan impianmu, menukarnya dengan sekarung kebosanan yang tidak akan habis dimakan rayap? Melepaskan bagian-bagian dalam hidup yang sangat kamu cintai karena tidak terlalu keras berusaha hingga pada akhirnya semua itu lenyap ditelan udara perkotaan yang pengap.

Pernahkah, kamu, meretas pulang demi sebuah pagi yang pandai meletakkan rindu di pojokan jantung berbentuk persegi milikmu untuk segera dinikmati? Lalu menjemput mati dengan belati yang tertanam di dada kiri.

Ah, pernahkah kamu merasa tidak tahu lagi harus pulang ke mana seolah-olah kamu tidak punya rumah? {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s