Merayakan perjuangan perempuan #2

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: berjuang bisa dilakukan dari dapur (bahkan katanya grup musik Oasis, revolusi bisa berawal dari kasur), namun tidak harus selalu dari dapur (atau kasur).

I have learned that a woman can be a fighter, a freedom fighter, a political activist, and that she can fall in love and be loved. She can be married, have children, be a mother. Revolution must mean life also; every aspect of life.
— Leila Khaled

Rayna, sayang,.

Omongan dari Leila Khaled yang saya kutip di atas itu menegaskan bahwa perempuan memiliki kesetaraan hak untuk mengatur hidupnya sendiri, untuk menuliskan takdirnya sendiri, untuk menjadi pemeran utama dalam plot cerita drama kehidupannya sendiri — entah itu sebagai pejuang kebebasan, aktivis politik, ibu dari anak-anak yang lucu dan menggemaskan, atau bahkan menjadi ketiga-tiganya. Lantas, siapakah Leila Khaled? Khaled adalah seorang perempuan pejuang Palestina yang tergabung dalam Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang menganut paham ideologi komunisme, dan dia pernah melakukan aksi pembajakan pesawat untuk membebaskan tahanan Palestina. Khaled merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan Palestina yang berjuang sekuat-kuatnya upaya dan sekeras-kerasnya tenaga demi mewujudkan kemerdekaan dan perdamaian bagi bangsanya. Khaled (dan para perempuan pejuang Palestina lainnya) telah lebih dahulu berjuang demi kemerdekaan ketimbang kebanyakan kaum lelaki yang cuma bisa merendahkan keberadaan perempuan. Khaled telah membuktikan bahwa memperjuangkan hak hidup merupakan sebuah aksi yang merobohkan sekaligus melampaui batas-batas semu yang selama ini dibangun dan dipertahankan sedemikian rupa atas-nama gender dan peradaban patriarkis.

Alasan kenapa saya menceritakan hal itu kepadamu, Ray, karena hari ini, 8 Maret, saya sedang merayakan Hari Perempuan Internasional. Dan dalam momen spesial ini ada baiknya kita mengingat para perempuan yang tidak kenal takut dalam memperjuangkan hak-haknya — salah satunya adalah Leila Khaled. Mungkin ini adalah sebuah selebrasi banal semata, perayaan seremonial yang nyaris tidak memiliki nilai dan makna apa pun selain ajang ikut-ikutan. Namun bagi beberapa orang — termasuk saya — Hari Perempuan Internasional adalah momen yang tepat untuk kembali mengingat-ingat dan membela hak-hak hidup kaum perempuan sebagai manusia yang bebas dan setara. Meski begitu, saya percaya bahwa kaum perempuan tidak perlu dibela kapasitasnya sebagai manusia: mereka — dan itu termasuk kamu, Ray sayang — memiliki kualitas kemampuan yang jauh lebih baik dalam banyak hal ketimbang lelaki.

Hal ini, tentu saja, bukan sekadar omong kosong glorifikasi belaka Ray. Para perempuan yang bekerja, bereksistensi, dan memperjuangkan apa-apa yang diyakininya merupakan suatu hal yang wajar. Kecuali otakmu masih belum berada di posisi yang benar dan belum berfungsi dengan baik sehingga setuju dengan anggapan Felix Siauw yang pernah ditulis melalui akun Twitter-nya ini: “bila wanita habiskan untuk anaknya 3 jam sedangkan kantor 8 jam | lebih layak disebut ibu ataukah karyawan?

Apakah ada cara yang lebih baik untuk merayakan Hari Perempuan Internasional selain mengenang kiprah para perempuan perkasa dan pemberani dalam bidangnya? Pilihan jawaban untuk pertanyaan itu sangatlah sederhana, Ray: (1) merendahkan totalitas dan niat baik mereka, atau (2) mengapresiasi kerja keras mereka setinggi-tingginya, sehormat-hormatnya. Saya berpikir bahwa kamu tidak akan menjadi manusia seperti Felix dan pengikutnya. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kamu, Rayna sayang, masih memiliki otak yang tidak berhenti berotasi dan berpikir bahwa kaum perempuan layak dimuliakan — terlepas dari profesi yang mereka pilih. Dalam pikiran dan bayangan saya, kamu adalah gadis cilik periang dan cerdas yang tidak bakal terjebak dalam argumen dangkal seperti yang dilakukan oleh Felix dan siapa pun yang setuju dengannya.

Sonita Alizadeh, misalnya, seorang rapper muslimah dan aktivis perempuan asal Afghanistan berusia 20 tahun yang giat menyebarkan pesan propaganda menolak perkawinan di bawah umur. Asal kamu tahu, Ray, 15 juta anak perempuan di Afghanistan tiap tahunnya selalu dipaksa kawin. Mereka — anak-anak perempuan di Afghanistan — tidak memiliki banyak pilihan, tidak sempat memikirkan kehidupan pribadi, dan tidak berhak mengembangkan diri, apalagi punya kesempatan untuk bermain hujan sepertimu Ray. Alizadeh yang mendapatkan kesempatan “kabur” ke Amerika Serikat untuk bersekolah terus-menerus berkampanye agar kaum perempuan (terutama di Afghanistan) memperoleh kesetaraan dan kebebasan berpendapat.

Atau Asmaa Mahfouz, perempuan asal Mesir yang dianggap sebagai salah satu sosok revolusioner yang berpengaruh dalam Revolusi Mesir pada tahun 2011 kemarin. Mahfouz tidak takut sedikit pun ketika membikin video yang diunggah di blog-nya untuk menginisiasi kerja-kerja pembebasan di Tahrir Square. Mahfouz merupakan anggota dari Coalition of the Youth of the Revolution dan menjadi salah satu figur penting dalam Revolusi Mesir. Sebuah pencapaian yang tidak mungkin didapatnya andai Mahfouz cuma berdiam diri di rumah, mengasuh anak dan memasak di dapur, ketika dia menyadari bahwa negaranya sedang dalam kondisi darurat.

Pada saat yang sama, Ray, masih banyak lelaki yang berpikiran prahistoris (atau bahkan tidak berpikir sama sekali!) dengan beranggapan dan mengatakan bahwa kodrat perempuan mestilah memasak di dapur dan mengasuh anak di dalam rumah. Kamu bakal mendapati banyak lelaki ngehek yang berargumen bahwa perempuan yang mandiri dan kuat adalah sosok yang menyeramkan. (Omong-omong, itu juga merupakan komentar dari Felix.) Saya tidak bakal menyalahkan mereka yang mungkin saja masih bingung bagaimana caranya berjalan dengan tegak serta mengalami kesulitan untuk membikin otaknya berfungsi dengan baik dan benar. Saya malah berterimakasih kepada kedunguan dan kedangkalan berpikir yang seringkali dipertontonkan oleh orang-orang macam Felix itu.

Mungkin Felix dan orang-orang yang sepemikiran dengannya lupa jika semua perempuan harus bersikap lemah lembut dan pendiam maka seorang pahlawan perempuan dalam Pertempuran Uhud macam Nusaybah binti Ka’ab tidak bakal pernah ada. Nusaybah adalah perempuan yang bertugas membawakan air untuk para pejuang di Pertempuran Uhud dan dialah yang melindungi Muhammad dari serbuan panah dan tombak musuh. Nusaybah akhirnya mati setelah mengalami 12 luka.

Ada juga perempuan bernama Amani Al-Khatahtbeh yang usianya masih terbilang muda, 24 tahun. Al-Khatahtbeh adalah pendiri sebuah situs progresif bernama MuslimGirl. Al-Khatahtbeh melalui situsnya itu ingin mengajak para perempuan (khusunya ukhti-ukhti muslimah) di seluruh dunia agar berani bersuara tentang segala hal, mulai dari kultur populer sampai peristiwa terhangat yang sedang terjadi. Al-Khatahtbeh mengajak seluruh perempuan di dunia untuk menulis agar bisa membela diri mereka sendiri dengan kesadaran berwacana. Al-Khatahtbeh dan MuslimGirl selalu siap melakukan konfrontasi kepada stereotip negatif terhadap perempuan dan selalu mengupayakan kebijakan yang berkaitan dengan perbaikan nasib kaum perempuan. Apa yang dilakukan oleh Al-Khatahtbeh ini sungguh keren, Ray!

Juga masih ada para ibu petani pejuang dan pemberani di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah yang sampai hari ini masih keukeh menjaga kewarasan untuk tetap melawan dan menolak pendirian pabrik semen di atas tanah hidup mereka. Teror, kekerasan, intimidasi, dan fitnah yang dilakukan oleh negara dan kapitalisme dihadapi oleh Ibu-ibu Pejuang Rembang dengan elegan demi tanah tumpah darah yang harus dipertahankan sekuat-kuatnya upaya dan sekeras-kerasnya tenaga. Para ibu pemberani di Rembang masih serta akan terus melawan dan berjuang dengan tabah, dengan sehormat-hormatnya, dengan sebaik-baiknya. Ketabahan dan keberanian yang dimiliki oleh Ibu-ibu Pejuang itu adalah jenis ketabahan dan keberanian yang paripurna.

Sementara, Ray, sekarang ini sudah banyak tersebar majalah atau situs perempuan yang begitu banyak jumlahnya namun isinya didominasi oleh iklan kosmetik kecantikan, tren fashion, dan ramalan zodiak. Artikel-artikel yang ada di dalamnya hanya berisikan tips bagaimana cara bergaul dan bergosip dengan baik dan benar atau kiat memilih salon kecantikan yang murah namun kualitasnya jempolan — bukan tentang topik yang begitu penting untuk mengakali kehidupan yang semakin kejam dan banal. Ray sayang, di tengah gemerlapnya zaman kebebasan saat ini, kaum perempuan — tanpa sadar — masih tetap terkurung oleh hal-hal yang artifisial.

Hal-hal macam itulah yang menjadi penyebab mengapa eksploitasi tubuh perempuan tetap laris dan tumbuh subur sebagaimana dicitrakan oleh papan reklame di sepanjang jalan raya, iklan televisi, berbagai macam film, atau sponsor di sebelah kanan beranda Facebook. No one cares unless you pretty (or dying). Kata “seksi” atau “cantik” selalu menjadi identitas utama dari tajuk berita tentang perempuan, mulai dari perempuan yang suka tampil berbikini sampai yang mengenakan hijab syar’i. Perempuan masih dianggap tidak pantas untuk menyandang predikat “pintar” dan “cerdas” atau sejenisnya.

Di banyak kota di Indonesia, misalnya, atau bahkan mungkin di tempat yang cuma berjarak 15 km dari rumahmu, Ray, anak-anak perempuan desa yang terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang setelah sekolah dasar adalah fakta. Para orangtua bakal menjual sawah demi anak lelakinya agar bisa menjadi tentara atau polisi lengkap dengan paket amunisi sepeda motor bermerek Kawasaki Ninja atau Honda CB150R agar nantinya si anak lelaki bisa pamer kesombongan di depan publik. Anak perempuan seringkali hanya diberikan opsi kawin setelah dianggap cukup dewasa. (Namun saya janji dan bakal berupaya sekuat-kuatnya tenaga agar kamu tidak menjalani nasib seperti itu, Ray sayang.)

Rayna kesayangan. Permasalahan selanjutnya adalah bahwa menjadi “pintar” atau “cerdas”, apalagi memiliki mimpi setinggi langit dan berupaya menciptakan kesempatan agar mimpi itu menjelma kenyataan, atau menumbuhkan keberanian untuk memperjuangkan hak-hak hidup, merupakan perkara keinginan untuk mengaktifkan akal sehat yang ada di batok kepala. Sukinah (salah satu ibu pejuang dan pemberani yang melakukan aksi penolakan pendirian pabrik PT. Semen Indonesia di Rembang) mungkin memang tidak pernah sekolah dan oleh karena itu dianggap “bodoh” oleh para kapitalis bau amis dan pejabat bangsat. Namun mengasah akal sehat bukan perkara rajin ke sekolah, Ray, sebab akal sehat Sukinah diasah melalui kesadaran panca indranya bersama alam semesta. Saya yakin bahwa Sukinah tidak pernah update status menye-menye di media-sosial yang isinya cuma analogi menggelikan (sekaligus memuakkan) tentang para perempuan yang belum berhijab itu setara dengan buah apel busuk yang diperebutkan lalat atau curhat karena galau ditinggal sang kekasih selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Intinya, Ray sayang, adalah kamu dan kaum perempuan di seluruh penjuru dunia juga merupakan makhluk hidup dan memiliki kesetaraan kesempatan dengan kaum lelaki serta kalian, wahai para perempuan yang ditinggikan oleh semesta, sudah semestinya bisa memanfaatkan penggunaan akal sehat dan hati nurani untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kehidupan — bukan hanya sibuk mengurusi apakah hijab dan baju yang kalian pakai itu sudah bersertifikat halal MUI (dan mengikuti tren masa kini) atau tidak!

Karena kaum perempuan butuh kecerdasan, bukan sekadar label (atau cuma ingin dimengerti seperti kata Ada Band)! Titik!

Terlepas dari itu semua, Ray, saya sebetulnya sudah muak dengan berbagai macam istilah seperti feminis, maskulinis, sosialis, komunis, demokratis, anarkis, apalagi seksis, agamis, kapitalis, dan moralis. Terlalu banyak label yang kesannya malah sloganistis dan ujung-ujungnya hanya sibuk meneguhkan posisi, repot berputar-putar pada definisi, lantas kemudian meminta jatah bulanan ke pasangan sampai akhirnya saling serang antarkolektif dan berupaya untuk mengangkangi sesama — terlebih bertekad untuk menundukkan lelaki di bawah selangkangan perempuan. Dunia ini sudah terlalu banyak label, Ray. Dan dari sekian banyak label itu sebenarnya tidak jelas siapa/apa yang dibela. Jika kamu tidak percaya, nanti saya bakal kasih tunjuk kumpulan zine dari berbagai macam kolektif anarko-feminis-anti-seksis yang saya punya di mana isinya cuma perihal curahan hati karena pernah dianiaya pasangan dengan kekerasan (baik fisik maupun non-fisik) dan sumpah serapah terhadap kaum lelaki, tanpa ada keinginan untuk memperjuangkan nasib dan haknya sendiri. Jika sudah seperti itu, siapa sebenarnya yang seksis?

Dan Rayna: tetaplah kamu menjadi bocah nakal yang memiliki jantung dan kaki kuat seperti jati, serta juga isi kepala yang tidak lupa berotasi. Jangan pernah lelah, apalagi kalah. Semoga tanah, api, angin, dan air memberkatimu; semesta bakal selalu menjaga keceriaanmu. Saya dan cinta selalu mengelilingimu, sayang!

Selamat merayakan Hari Perempuan Internasional.

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s