Ah sudahlah. Mari kita merokok saja, sayang…

Smoking time: Salvador Dalí dan Coco Chanel berbagi rokok. (gambar: "Reddit")
Smoking time: Salvador Dalí dan Coco Chanel berbagi rokok. (gambar: “Reddit”)

Apa sih enaknya merokok? Bukannya rokok itu membahayakan kesehatan ya?” ucapmu dengan wajah cemberut ketika memberikan pesanan saya: satu bungkus Lucky Strike yang harganya, menurutmu, sangat tidak masuk akal itu. Ah sayang, saya di sini tidak akan membela harga yang tidak seberapa dari satu bungkus rokokputih favorit saya itu jika dibandingkan dengan “biaya kecantikan” yang rutin kamu keluarkan tiap akhir pekan itu. Tidak, bukan itu. Saya tidak punya niat sedikit pun untuk mendebat kebiasaanmu mengeluarkan uang tiap akhir pekan demi terlihat cantik, yang sialnya tidak bisa saya nikmati setiap harinya.

Kanjeng Ratu F, sayang. Saya setuju denganmu bahwa rokok memang berbahaya, malahan sangat berbahaya. Karena, pada sejatinya, merokok itu tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa; kamu mungkin bisa minum, mandi, makan, berangkat ke kantor, atau bahkan berjalan menuju pelukan saya dengan cepat dan tergesa-gesa, tapi hal itu — tergesa-gesa, atau “kesusu” kata orang-orang Jawa — tidak bisa diterapkan untuk merokok. Ngudud atau merokok harus dilakukan dengan tenang, perlahan, dan menikmati setiap momennya: isap dalam-dalam, santai, rasakan, embuskan perlahan, dan nikmati asapnya yang melayang-layang layaknya gerak balerina di udara — caranya seperti itu, terus-menerus, hingga rokok yang ada di sela-sela jari tangan itu benar-benar habis dan pergi menemui ajal. Setiap isapan rokok adalah ketenangan dan kebersantaian di antara jutaan ruang ketidak-mungkinan rutinitas yang selalu bergerak cepat dan kian banal.

Merokok bukanlah sebuah aktivitas yang bisa dilakukan dengan serampangan, sayang. Dibutuhkan setidaknya 27 isapan untuk menghabiskan satu batang rokok di tangan, dan jika ada seorang perokok — saya, misalnya — menghabiskan 10-15 batang per hari, berarti ada minimal 270 momen menikmati ketenangan dan kebersantaian tiap harinya. Dan bayangkan juga ada seseorang yang menjalani hidupnya seperti itu, hidup dengan momen-momen yang bisa membikin tenang dan tajam dalam memandang hidup. Makhluk yang terbiasa dengan ketenangan dan kebersantaian itu bakal dipenuhi dengan daya pikir dan imajinasi yang cemerlang dan brilian serta jernih dalam menghadapi setiap hal dalam hidupnya. Thom Yorke, Sigmund Freud, Salvador Dalí, Pablo Neruda, Mélanie Laurent,  Jonny Greenwood, Jean-Paul Sartre, Che Guevara, Ernest Hemingway, Albert Camus, Luis Buñuel; banyak pemikir dan seniman yang muncul dari kalangan perokok. Lagipula apalah artinya Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar tanpa kreteknya, sayang? Bisa dipastikan tulisan dan syair-syair elok tidak bakal pernah ada kan? Dan saya juga yakin bahwa Friedrich Nietzsche sedang santai menikmati rokok di kamar kerjanya ketika menemukan ide untuk membunuh tuhan beserta moral absolutnya.

Jadi, saya setuju bahwa rokok itu memang berbahaya, sangat berbahaya malah. Sebab setiap momen yang dihadirkan oleh asap putih itu bakal merangsang untuk kemudian melahirkan pemikiran dan sudut pandang hidup yang benar-benar berbeda dari kebanyakan; mereka akan dengan senang hati mengangkangi dan melampaui setiap batasan. Dan juga karena yang paling berbahaya dari setiap makhluk hidup itu bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikirannya.

Ah, sudahlah kanjeng ratu kesayangan. Mari kita merokok saja, menikmati momen yang kita miliki bersama saat ini juga. Oiya sayang, saya menulis ini ditemani dengan satu bungkus rokokputih yang kamu belikan dan kopihitam yang rasanya lebih aduhai ketimbang yang kamu seduh tadi sore.

Isap dalam-dalam, tenang, santai, rasakan, embuskan perlahan, dan nikmati asapnya yang melayang-layang di udara layaknya gerak balerina itu.

Tabik.

NB: Saya masih mencintaimu dengan cara sederhana yang mudah kamu kenali.

NB, lagi: Kartu ATM punyamu ketinggalan di kamar kos saya (dan saya tahu PIN-nya). Ting-a-ling! HA! HA! HA! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s