Metropolutan

Bising meronta
polusi suara senandungkan irama jalanan
ingatan cuma pada kemacetan,
mengaburkan hasrat pagi dalam deru laju kendaraan.

Mata sudah lupa hijau rimbun pepohonan
diganti warna-warni beton yang memilukan
potongan tubuh surga berlabel harga membeku
dipajang berderet dalam etalase urban.

Terang lampu kota itu mungkin saja palsu,
tapi wajah-wajah muram di bawahnya adalah kenyataan
beberapa mengais berahi dalam pelukan malam,
yang lainnya memperpanjang usia di balik remang nasib kehidupan.

Hujan membasahi kaus kutang para pengumpul remah-remah kehidupan
menggenangi dada dengan kenangan, dengan harapan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s