Harap yang enggan merapuh

Berapa banyak waktu yang harus dibunuh?

Ketika langkahku adalah lipatan jarak
yang kamu simpan di saku celana
ketika peluk adalah pengabaian
yang masih kita puja bersama
ketika hadirmu adalah angin
yang aku tampung dengan sebuah payung
di dalam batok kepala.

Aku ingin menyelami kedalaman jantungmu
barangkali, di situ, aku temukan diriku
sedang menyeduh senja
dengan secangkir kenangan pekat
atau barangkali, di situ, aku temukan diriku
yang kian membiru tragis
karena kerap bercinta dengan ragu.

Aku ingin mengecup teduh matamu
dengan harapan yang tidak akan melayu oleh waktu.

Namamu, puan betinaku, merupakan deretan sabda
yang terus kurapal ikhlas di pangkal lidahku
enggan tergerus apa pun
meski lelah seringkali gaduh di depan pintu. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s