Lelaki dan gigil pagihari

“… Mentari pun bersalaman dengan purnama. Kala kita di peron kereta senja, dua tangan melambai di antara bising klaskon dan porter yang bergegas. Sambil beranjak kau patut bertanya, di stasiun mana seharusnya cinta ini berakhir.
Dea(th)

Pagi melambai di antara gerbong kereta api
masih sepi
tidak terdengar peluit yang mengabarkan kedatangan,
atau bahkan keberangkatan.

Pada bangku di ruang tunggu
antara loket karcis bernomor satu
dan pintu masuk berwarna biru
ada peluk yang sengaja ditinggal,
juga kecup yang terus mengekal.

Di peron sebelah utara
seorang lelaki mendapati gigil di sepatunya
membayangkan sepasang mata
yang selalu basah karena rindu … dan luka.

: Apakah ini sudah pagi,
atau hanya malam yang berganti warna? {}

Advertisements

One thought on “Lelaki dan gigil pagihari

  1. sekoloni imaji lantas membentuk unggunan angan antara si betina dan lelaki yang tengah gigil dalam pagi berwarna temaram; menyusupkan sunyi ke tubuh yang sekedar tubuh di antara keduanya. Erotisme berpadu dengan suara camar di balik jendela kereta senja; mencuit kenang membuat pagi menggelinjang di antara masa lalu dan masa depan.
    Putus peluit perpisahan seketika, menghanyutkan diri pada haiku dari segentong arak ilusi. Penyair liar yang terjebak dalam tubuh si betina ini lantas menutup luka dengan pasir sisa jejak langkah sepatu gigil si lelaki.
    Ketika segalanya mendadak jauh terengkuh, menjelma keduanya menjadi menawan; menguak anggun kebinatangan perihal kata-kata. Si betina dungu dan lelaki gigil lantas menanti datangnya Sang juru Selamat yang mampu berjalan di atas air kata yang memuakkan. Keduanya merajuki kilau kemilau yang entah purnama atau mentari–dalam gelap cahaya bisa dari apa saja–terjebak antara fatamorgana bersatu atau oase saling mendua. Bisa, menggerogoti jantung si betina menaikan hasrat umpatan anggun seolah gonggongan liar di tengah malam penemani birahi dalam kegelapan. Sekeras apapun betina menggonggong kenang, si gigil sejatinya menjelma menjadi seinsan penggigil. Tak mendengar, tak melihat, tak merasa. Berkeping-keping seketika asmaradana si betina bersama kereta senja yang membawa lelaki gigil dengan angan tak bernyatanya itu. {}

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s