Kita menjadi tua, dan lupa memulangkan peluk serta merumahkan kecup

Kita menuju tua, sayang;

mengayuh sepeda ke kota
enggan pulang dan kembali menjadi “kita”
seperti terlahir dan dibesarkan hanya untuk diasingkan rindu
satu meja warung kopi dibiarkan berdebu
di atasnya tergeletak tumpukan surat tertanggal zaman yang telah lalu
memanggil nama kekasih bersayap kupu-kupu.

Kita mewujud tua, sayang;

mendadak kita sudah tidak punya kata-kata
untuk mengukir peta
agar tahu jalan pulang dan kembali menjadi “kita”
lupa caranya menangis dan berbahagia
menjebakkan langkah di antara banalitas kehidupan kota
tempat di mana teror dan hierarki dan dominasi dipelihara
tidak ada senja.

Kita menjadi tua, sayang;

moralitas, ah sudahlah
tuhan telah mati dan bangkainya membusuk di altar pemujaan, kataku
tuhan masih ada dan sibuk berkelahi demi apa-apa yang disebut kesucian, katamu
nyaris terhapus, mereka masih keukeh bernyanyi meski tanpa suara
menyemai luka di saku celana
: mari pulang dan kembali menjadi “kita”.

Aku bahagia karena tetap menyimpan utopia di kotak harapan, mengabadikan ‘kita’.

Tapi … kita genap menua, sayang;

mengamini gerak menuju mati yang sama sekali tidak menarik
memerkosa kenangan di bawah hujan rintik
menggigil di pulau yang tidak berpenghuni
di antara yang paling sunyi. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s