Kehilangan

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta — semua dari kita, makhluk hidup, nyaris memiliki respons yang sama ketika dihadapkan dengan kehilangan: tidak pernah siap.

Rayna, sayang,.

Seluruh makhluk hidup pasti pernah mengalami kehilangan, entah itu dalam skala kecil atau besar. Satu di antara berjuta-juta makhluk yang hidup saat ini pasti pernah memaknai kehilangan tersebut dengan berlebihan. Bagi saya, itu tidak mengapa, karena pada dasarnya, seperti yang saya ketik di awal tulisan ini, kita selalu merespons kehilangan dengan ketidak-siapan.

Mereka yang hilang bakal tetap hilang dan tiada. Namun kita — saya dan kamu — sejatinya masih bisa merasainya dalam labirin kenangan atau bahkan memaknainya sebagai awal untuk kembali menemukan, agar kita lebih siap nantinya. Toh semua hal, apa pun itu, pada akhirnya bakal hancur, mati, dan tergantikan — dan semoga saja akan menjadi memori hidup yang hangat layaknya secangkir kopihitam di pagihari dan senyummu.

Kita jatuh cinta, mengalami patah-hati, kita menemukan kemudian kehilangan; hidup adalah drama tanpa naskah dengan berjuta kejutan dan klise yang tidak akan pernah bisa kita taklukkan. Sebuah pengulangan yang terus-terusan menggerus dan membentuk hari-hari kita. Mengutip Friedrich Nietzsche: “Hidup adalah perulangan abadi. Tidak ada jalan kembali.” Keabadian adalah kutukan dalam lingkaran samsara, Ray.

Pengalaman memang seringkali mengajarkan kita untuk semakin takut dalam menghadapi kenyataan hidup. Namun, seperti yang sudah-sudah, pengalaman juga merupakan guru terbaik. Ia tidak memberikan kita semacam cetak-biru atau buku panduan tentang pelajaran apa yang harus kita petik dari sebuah tragedi, melainkan kita sendiri yang harus peka dan terus belajar mencari tahu sendiri maknanya bagi diri kita.

Rayna, sayang. Kehilangan adalah proses dari menemukan, entah itu menemukan “yang baru” atau menemukan sebuah cara untuk mendapatkan “yang lama”. Kita masih punya kebebasan untuk mempersetankan itu semua dan menjadikannya sekadar bagian dari hidup yang bakal membikin kita lebih kuat dan lebih siap dalam menghidupi hidup kita.

Dan karena kebahagiaan tidak bisa ditetapkan sebagai “yang itu” dan “yang ini”, kita masih bisa merasainya melalui pengalaman apa pun bahkan yang paling pahit sekali pun. Mari melecehkan kemapanan sebuah kehilangan, mari merayakan kehilangan: sebuah keberanian untuk mengafirmasi kehidupan kita seutuhnya; yang tragis dan yang manis.

Semesta menyertaimu — dan masa depan belumlah tertulis, Ray kesayangan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s