Karena saya makan nasi, bukan semen!

#Surat solidaritas untuk Ibu-ibu Pemberani dan Petani Pejuang Kendeng di Rembang.

Dengan penuh cinta yang menggelora, saya menulis surat singkat ini untuk bersolidaritas dengan para pejuang yang menentang berdirinya pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah: untuk berterima-kasih karena telah menampar jiwa pengecut saya dengan menunjukkan bahwa api perjuangan dan perlawanan bakal selalu berkobar, tidak akan pernah bisa padam. Saya juga dilingkupi amarah yang membara ketika menulis surat ini, rasa marah yang terakumulasi dan kian membesar sejak Jumat malam, 10 Februari 2017, kemarin. Apa lacur? Ketika sebagian besar perhatian publik tertuju ke Jakarta mengikuti omong kosong dan debat Pilkada, intimidasi dan aksi kekerasan terhadap kalian, para ibu pejuang dan petani pemberani di Pegunungan Kendeng, semakin gamblang. Pada hari Jumat malam kemarin, saya mendapati kabar bahwa tenda perjuangan dan musala (di dalamnya berisi perlengkapan salat dan Al-Qur’an) yang kalian dirikan sejak 16 Juni 2014 dibakar oleh sekelompok orang.

Saya sedih, sekaligus marah! Ketika kalian, ibu-ibu dan petani pemberani yang berjuang untuk mempertahankan tanah tumpah darah dan lahan sumber penghidupan keluarga, melakukan aksi damai dan simpatik selama bertahun-tahun di dalam tenda perjuangan, mendadak sekitar 50 orang saklek berdatangan sembari berteriak, mengintimidasi, mengusir, dan kemudian membakar tenda serta musala kalian yang selama ini menjadi tempat menggantungkan harapan dan keadilan. Ini TOLOL dan GILA!

Perjuangan yang dilakukan melalui berbagai macam aksi damai dan simpatik, ditambah dengan perjuangan melalui jalur legal hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negara ini, selalu mendapatkan cibiran dan balasan yang teramat keji. Mulai dari teror dan intimidasi, propaganda ngehek di media-sosial, penipuan dokumen izin lingkungan dan AMDAL (Analisis dampak lingkungan), sampai pengabaian terhadap putusan hukum yang dimenangkan oleh para petani Kendeng di Mahkamah Agung, merupakan sederet kebejatan yang diterima oleh para petani pejuang Kendeng. Akademisi mencederai para pejuang Kendeng dengan melakukan aksi tipu-tipu dalam membikin dokumen AMDAL, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak sekali-dua mengangkangi keputusan hukum.

Setelah menerima perlakuan keji berkali-kali, kalian para ibu pejuang dan petani pemberani Kendeng keukeh tidak mundur selangkah pun dari aksi penolakan pendirian pabrik semen di atas tanah hidup kalian. Ketika tanah kelahiran dan rumah diusik, terancam kehilangan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan, kalian masih terus menjaga kewarasan untuk tetap melawan. Kalian kasih tunjuk kepada saya bahwa ikatan spiritualitas dan kultural antara manusia dengan alam tempat di mana kalian lahir dan dibesarkan itu tidak bakal pernah bisa diganti dengan uang. Teror, kekerasan, intimidasi, dan fitnah yang dilakukan oleh negara dan kapitalisme, kalian hadapi dengan elegan demi tanah tumpah darah yang harus dipertahankan sekuat-kuatnya upaya dan sekeras-kerasnya tenaga. Ketabahan yang kalian miliki, bagi saya, merupakan ketabahan paripurna. Kalian terus melawan dan berjuang dengan tabah, dengan sehormat-hormatnya, dengan sebaik-baiknya, dalam waktu yang tidak sebentar.

Perjuangan kalian, ibu-ibu pemberani dan para petani pejuang, menjadi suplemen berharga di tengah-tengah kekalahan saya untuk menghidupi hidup dalam cengkeraman otoritas negara dan kapitalisme yang penuh kegagalan dan kebohongan. Sebuah masyarakat yang terdominasi, yang hanya paham caranya untuk membungkuk secara alamiah, yang tolok-ukur kebahagiaannya adalah uang, sudah selayaknya takut (dan malu) pada semangat perlawanan kalian di Pegunungan Kendeng. Pada saat yang lain sibuk dengan warna baju tertentu, sibuk dengan fashion apa yang paling up to date, sibuk mengunggah foto makanan di sebuah restoran mewah, sibuk membela ulama dan agama, sibuk ikut-ikutan debat Pilkada, kalian — para ibu pemberani dan petani pejuang — masih tetap teguh berdiri melawan segala teror busuk dari duet jahanam negara dan kapitalisme untuk tetap bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, mempertahankan tanah kalian agar masih bisa ditanami dengan padi, palawija, ubi, tembakau, bukannya diperkosa secara biadab oleh limbah-limbah beracun hasil perkawinan negara dan kapitalisme. Berperang dengan kasih sayang melawan bebalnya kepala-kepala pemodal dan penguasa.

Berbanggalah, kalian para ibu pejuang dan petani pemberani Kendeng!

Berbanggalah, karena mulai saat ini ketika mendengar nama-nama kalian disebut, saya bakal langsung ingat kepada “para pejuang yang tidak kenal rasa takut”. Berbanggalah, karena kalian berjuang di atas tanah yang kalian perjuangkan, bukan seperti saya yang hanya bisa berkoar-koar sumpah serapah di internet. Berbanggalah, karena kalian telah berhasil menyentuh hati persegi milik saya untuk sekadar mengirimkan solidaritas dan rasa hormat yang sebesar-besarnya karena untuk saat ini masih belum bisa berdiri berdampingan dengan kalian di sana. Berbanggalah, para ibu pemberani dan petani pejuang, karena telah menginspirasi saya!

(Menyadari semua itu, seluruh rasa cinta dan amarah saya sebenarnya terakumulasi menjadi malu. Saya malu karena cuma bisa merutuk sumpah serapah dan memaki di dunia maya menyaksikan apa-apa yang dialami oleh para ibu dan petani pejuang di Pegunungan Kendeng. Atau mungkin kamu malah menganggap saya sebagai pribadi yang tidak realistis, terlampau utopis dan munafik? Silakan saja. Sumpah demi apa pun, saya tidak keberatan dianggap sebagai orang yang munafik, yang anti-pembangunan, yang tidak ingin bangsa ini maju — terserah! Yang jelas, saya masih ingin menjadi manusia waras yang berdiri berdampingan dengan manusia-manusia yang keukeh membela hak hidupnya demi kehidupan yang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih bermakna ketimbang hari ini, meski saya sekarang ini hanya bisa mendukung dan mengirim solidaritas dari tempat yang jauh.)

Terimakasih, karena telah menunjukkan kepada saya bahwa semangat perjuangan untuk melawan penindasan dan ketidak-adilan masih terlukis nyata di udara, seperti cahaya harapan di antara kepalsuan gemerlap globalisasi peradaban modern. Terimakasih, karena telah mengingatkan saya bahwa negara dan kapitalisme adalah musuh yang harus dihancurkan secara bersamaan.

(Ada tarian dan musik yang luar biasa indah dari setiap perlawanan dan pemberontakan yang selalu mampu membikin diri saya terjaga dari busuknya peradaban dunia tua saat ini. Peradaban usang ini bakal segera mencapai senjanya; dan ketika momen itu tiba, jiwa-jiwa bebas bakal merayakan suka-citanya dengan sebuah balada dan tarian senjakala.)

Sekali lagi, terimakasih dan solidaritas dengan kalian para ibu pejuang dan petani pemberani yang tidak kenal rasa takut untuk mempertahankan tanah kehidupan kalian! Dan juga maafkan saya karena cuma bisa melakukan aksi solidaritas sebatas surat pendek ini. Maaf, para ibu pemberani dan petani pejuang Kendeng.

Saya juga mendedikasikan surat ini untuk para pejuang kebebasan di Gemulo, Kulonprogo, Papua, dan di seluruh penjuru dunia.

Selalu waspada dan tetap kuat, tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s