Poof

Seluruh kenangan berhamburan
ketika pintu depan dibiarkan terbuka
kamu dan aku berdiri bergandengan
sibuk membagi-bagi luka
dengan berahi yang sengaja ditahan
tentang siapa yang mencurangi siapa
hingga tiba waktunya menyantap makanan
dan kamu sudah pergi tanpa aba-aba. {}

Advertisements

One thought on “Poof

  1. Perihal cinta bukan dongeng masa kecil yang selalu happy ending seperti pangeran dan putri ciptaan Hans Christian Andersen, yang dulu kadang dibacakan oleh ibumu sambil terkantuk dan sibuk mengusir nyamuk. Ini bukan waktunya menangis dan meratapi kenangan yang sebatas angan. Seperti gelembung permen karet yang meletus, kau bisa meniupkan luka itu lagi. Bahkan seribu kali kalau kau mau. Takkan ada air mata yang menetes dari matahari yang kau tatap dari pintu depan saat semua percakapan bimbang yang mengambang antara kita yang saling membuang. Yang tertinggal kini hanyalah coreng-moreng dan bekas tungku perapian tegak menyandang kenang yang sendiri menatap sepi sebelum aba-aba fasihmu kau itu hunuskan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s