Di hadapanmu, telah kuberikan segalaku

Kuberikan segalaku ke hadapanmu
tataplah wajahku,
wajah yang tidak lagi menyimpan penyesalan
tidak ada lagi kesia-siaan
sebab seluruhnya telah kabur tanpa sisa
: baik itu masa lalu maupun masa depan, tentang kita.

Aku telah berdamai dengan senyap dan sepi
dengan kain lusuh yang setia pada kucur airmata
sementara senyum senjamu yang pucat
ialah rangkuman kisah usang
yang ditolak detak waktu peradaban.

Kuberikan segalaku ke hadapanmu
tanpa ada yang tersisa
tataplah wajahku lekat-lekat,
wajah yang sering kamu sambangi dengan rindu yang pekat
kini semakin legam menghitam — berkarat.

Sebagaimana gerbong kereta api tua itu
tidak ada yang berarti
dari yang bakal pergi berperang
dan yang hendak pulang!

Maka, tikamkan tatapanmu pada wajahku
telah kuberikan segalaku ke hadapanmu
: sebagai ketiadaan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s