Teras rumah #2

Di teras rumah itu
ribuan senja yang lalu
kusentuh wajah dingin yang jahanam
sampai batin terdalam
di mana Semesta adalah satu hal
sementara kita adalah partikel remeh lainnya
yang tergelincir dari sabda Aphrodite.

Kita tetap saling melempar tawa
mengasah mata
merayakan yang sia-sia
: di dalam dada.

Kita bebas berlari sampai letih
menaklukkan satu per satu undakan
: tanpa harus tertatih.

Kita telah beranjak pergi
namun sesekali pulang ke tempat ini
: tanpa memilih musim. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s