Pagi tanpa puisi

#Untuk F: “kita” memang pernah ada, mbak.

Katamu, pagi tanpa matahari adalah pagi tanpa puisi.

Pada pagi tanpa matahari (atau tanpa puisi, entahlah) itu kita berada dalam kamar dengan diam yang mendominasi. Sesekali, kita hanya saling menatap diselipi beberapa anggukan kecil tanpa banyak berbasa-basi. Saya hanya ingin memastikan tidak akan pernah melupakan sorot matamu itu, dan mungkin kamu pun begitu; ingin menertawakan apa-apa yang tidak abadi di dunia ini.

Dingin pagi tanpa matahari memanggil, menyisakan gigil. Masih banyak kenangan yang harus dibungkus dan ditata rapi dalam kotak kita masingmasing. Kamu tidak pernah percaya “cinta tanpa peresmian”, sementara saya menolak “peresmian dari cinta”. Setelah ini mungkin kita bakal saling jatuh cinta diamdiam, kemudian terluka diamdiam. Kita harus terbiasa dengan ini, ujar senyummu. Perayaan, saya menyetujui.

Ah, namun kita bukanlah remaja belasan tahun. Bukankah kita sudah tidak lagi memperlakukan cinta layaknya drama receh bikinan Hollywood itu, mbak? Kita sudah samasama mengerti bahwa akan tiba suatu masa di mana kita nantinya (jika terpaksa) bakal pisah di tengahtengah langkah untuk menyesap kopihitam dan menikmati hidup sendirian. Dan sesekali mendongaklah pada langit sorehari. Mungkin saya akan berbagi senja denganmu di sana.

Di luar sana, pagi masih tanpa matahari — tanpa puisi. Sepenuhnya melankoli.

Selamat jalan, mbak. Semoga bahagia. 🙂 {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s