Belanja terus hingga mampus!

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: maaf karena saya terlalu sibuk sendiri dengan banalitas hidup harian yang sampai detik ini gagal menepati janji untuk memberimu buku bacaan yang bisa kita bagi bersama sebelum terlelap (serta kebahagiaan yang seutuhnya selagi kita dekat). Ah, kini saya harus memikirkan caranya melipat jarak dan waktu hanya untuk benar-benar menyapamu.

Atas bujukan setan, hasrat yang dijebak zaman … Kita belanja terus sampai mati!
— Efek Rumah Kaca

Rayna, kesayangan,.

Seiring dengan berjalannya sang waktu, manusia saat ini terasa semakin membebani Bumi. Masalahnya bukan terletak pada kuantitas manusia yang semakin bertambah banyak sekarang ini. Masalah yang sebenarnya, Ray, yang semakin membikin Bumi ini tidak baik-baik saja untuk ditinggali adalah gaya hidup konsumtif dari manusia, yang mendaku diri sebagai makhluk beradab, di zaman yang katanya sudah modern ini.

Paul J. Crutzen, seorang ilmuwan yang mendalami kimia asal Belanda, mencatat perubahan drastis kondisi Bumi dengan istilah Anthropocene yang menggambarkan zaman ketika dampak kehadiran manusia benar-benar terasa membebani Bumi. Crutzen menyebutkan bahwa era Anthropocene mulai terjadi pada akhir abad ke-18 di mana dia beranggapan bahwa kadar karbon dioksida meningkat secara teratur (sejak James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1784) akibat dari aktivitas global manusia. Sementara itu, Ray, ada beberapa ilmuwan lainnya yang mencoba mengukur dampak manusia terhadap kondisi Bumi dengan menggunakan formula I = PAT, yang jika dijabarkan dalam kata-kata berarti “dampak manusia (Impact) ditentukan oleh jumlah penduduk (Population), tingkat kemakmuran (Affluence), dan perkembangan teknologi (Technology) yang menyertainya”. Namun, Ray, formula I = PAT itu terkesan mengabaikan elemen subjektif manusia yang justru berperan besar dalam upaya mereka untuk memerkosa Bumi, yaitu aktivitas konsumsi yang sudah kelewat menjijikkan.

Seorang filsuf Prancis, Jean Baudrillard, mengatakan bahwa ada dua logika yang sedang bekerja dalam aktivitas konsumsi manusia sekarang ini: logika sosial dan logika hasrat. Aktivitas konsumsi saat ini bukan melulu soal pemenuhan kebutuhan untuk bisa sekadar bertahan hidup. Melampaui itu, Rayna sayang, konsumsi sekarang ini terkait erat dengan status sosial, pengakuan kolektif, atau identitas seseorang. Bahkan hasrat konsumtif yang terus dirawat dengan penuh kasih sayang oleh manusia modern saat ini bisa saja semakin tumbuh dari meniru orang lain.

(Pada saat seorang bintang film atau bintang olahraga merepresentasikan sebuah produk, kita diharapkan merespons pada imaji mereka sebagai seseorang yang ideal, dan lantas mengemulasikan hal tersebut untuk mengasosiasikan diri kita sendiri dengan imaji yang mana para bintang tersebut mengasosiasikan dirinya, Ray, melalui pembelian produk yang direpresentasikan oleh para bintang tersebut. Contohnya, ketika Dian Sastrowardoyo mengenakan kaus kaki panjang sebagai seragam sekolah SMA-nya di mana dia terasosiasikan dengan karakter Cinta yang manis dan cantik dalam film Ada Apa dengan Cinta? (2002), nyaris seluruh perempuan SMA di kampung halaman saya dulu yang membeli dan mengenakan kaus kaki panjang sekaligus pergi ke salon kecantikan untuk mengasosiasikan diri mereka dengan imaji Dian Sastro yang mereka anggap sebagai seseorang yang ideal.)

Sementara itu, iklan yang tidak henti-hentinya menyerang manusia dari segala sisi semakin mendorong hasrat konsumtif sampai titik yang paling tidak masuk akal, sehingga ketamakan mendapatkan waktu dan ruang aktualnya untuk menampilkan wujudnya. “Keserakahan manusia,” katanya Chelsea Islan (atau, er, Mahatma Gandhi … ah, entahlah, kita anggap dari mulut mungilnya Chelsea saja, oke Ray?), “adalah faktor utama yang membikin Bumi ini terasa tidak cukup untuk memuaskan dan membahagiakan segelintir orang.

Hasrat konsumtif yang semakin menjijikkan itu sebenarnya tidak lahir begitu saja, Ray. Mekanisme ekonomi kapitalisme-lah yang sejatinya telah memanipulasi definisi tentang kebutuhan manusia untuk sekadar bertahan hidup hingga manusia pada akhirnya terjebak dalam lingkaran setan kebutuhan hidup yang palsu. Dalam masyarakat kapitalistik, segala sendi kehidupan — mulai dari sosial, politik, pendidikan, kebudayaan, hingga agama — sengaja dikemudikan untuk mencapai tujuan demi keberlangsungan budaya masyarakat kapitalistik yang serbakonsumtif. Manusia modern dipaksa untuk beradaptasi dengan jalur yang dibangun oleh sistem kapitalisme jahanam ini. Surplus: Terrorized into Being Consumers (2003), film bikinan Erik Gandini, memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai dampak kerusakan yang mengerikan dari hasrat untuk terus menghidupkan budaya konsumtif ini.

belanja-itu-menyedihkanKapitalisme terus-menerus menggenjot produktivitas barang dan jasa (komoditas), bersamaan dengan upaya untuk mendongkrak budaya konsumsi. Dunia spektakel sengaja diciptakan dan dilengkapi dengan senjata utama berupa iklan yang mengubah pengertian sederhana tentang kebutuhan dan kebahagiaan dalam hidup. (Misalnya, iklan di televisi yang menampilkan sebuah keluarga sedang berkendara dalam sebuah mobil dengan bahagia sepanjang perjalanan, kemudian “bersenang-senang” dalam ruang lingkup mobil yang sempit, namun seakan mampu menghadirkan kebahagiaan — sesuatu yang begitu didambakan oleh manusia modern. Mobil dalam iklan tersebut disajikan sebagai sebuah konteks yang paling menyenangkan: imaji mobil yang lantas disambungkan dengan imaji “bersenang-senang” menyarankan sebuah kebutuhan untuk membeli mobil sebagai sebuah cara untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Namun, pada faktanya, ketika iklan tersebut dipertontonkan, jutaan orang tidaklah berbahagia hanya karena memiliki mobil untuk kemudian berkendara bersama keluarganya masing-masing. Hal ini belum ditambah dengan fakta bahwa jutaan hektare hutan dibabat habis yang kemudian diganti dengan jalanan aspal untuk mengakomodasi gaya hidup menggunakan mobil.) Dan sialnya, Rayna sayang, iklan secara diam-diam juga mengenalkan konsep baru tentang komoditas usang yang ketinggalan zaman untuk semakin mendorong hasrat konsumtif manusia modern.

Louis Fox, dalam film animasi-pendeknya yang berjudul The Story of Stuff (2007), mengutip sebuah data dari American Academy of Pediatrics yang menyebutkan bahwa warga Amerika Serikat (kebanyakan anak-anak kecil seusiamu, Ray sayang, dan remaja) diberondong 3.000 iklan per harinya melalui siaran televisi, papan reklame di pinggir jalan, majalah, dan internet. Serangkaian iklan itulah yang akhirnya membikin warga Amerika Serikat menjalani kehidupan yang tidak tenang, selalu gelisah. Mereka — warga Amerika Serikat itu, Ray — didikte untuk terus mengikuti irama produksi komoditas baru, untuk terus berbelanja sampai mampus.

Sementara itu, barang dan jasa (komoditas) diproduksi oleh proletariat — yang juga menjadi bagian aktif dari dunia spektakel — untuk dijual kembali kepada proletariat yang memproduksi komoditas tersebut adalah sebuah pola yang didorong oleh mekanisme ekonomi kapitalis: dengan iklan dan dorongan konsumsi yang membludak. Aktivitas konsumsi komoditas menjadi satu-satunya bentuk konsumsi. Semakin lama, Ray sayang, semakin sedikit pertukaran yang tidak dilakukan tanpa eksistensi uang. Kapital adalah tuhan material, dan spektakel adalah agama (ideologi) materialnya.

(Pengalienasian para spektator demi kepentingan objek kontemplasinya, dapat diekspresikan dengan mengutip Guy Debord [seorang penulis, filmmaker, filsuf, dan anarkis Prancis, sekaligus salah satu pendiri organisasi revolusioner, Situationist International]: “Semakin dia berkontemplasi, semakin kurang dia hidup; semakin dia menerima dan menemukan dirinya dalam imaji kebutuhan dominan, semakin dia tidak memahami eksistensinya dan hasratnya sendiri. Dalam hal tersebut, semua gerak-geriknya tidak lagi menjadi miliknya melainkan milik ‘semua yang lain’ yang merepresentasikan diri dalam seseorang tersebut.”)

Rayna, sayang. Ada dua hal yang lenyap dari kesadaran manusia modern dalam kegiatan konsumsi (dan menyampah) yang dilakukan setiap harinya. Yang pertama adalah hilangnya kesadaran bahwa Bumi juga memiliki batas akhir jika terus-terusan dikeruk sumber daya alamnya. Dan, yang kedua, adalah lenyapnya kesadaran bahwa komoditas yang dikonsumsi dengan gila-gilaan itu sebagian besar bukanlah prioritas utama untuk bertahan hidup dan bakal berakhir menjadi sampah yang semakin menambah beban bagi Bumi. Sebuah kepuasan, kebanggaan, dan keangkuhan jangka pendek untuk memuaskan hasrat konsumtif yang dijebak zaman modern, untuk menjadi korban banalitas kehidupan urban.

Manusia terus berlari mengejar mimpi peradabannya melalui proses produksi dan konsumsi yang tidak ada hentinya, yang sering disalah-artikan sebagai kemajuan zaman. Namun Ray, pada saat yang bersamaan, manusia lupa atau tidak sadar bahwa aktivitasnya itu melahirkan juggernaut, sang kereta raksasa yang tidak hanya semakin membebani Bumi, melainkan juga bakal menabrak dan menggilas apa-apa yang ada di depannya dengan laju superkencang tanpa bisa dikendalikan, apalagi dihentikan.

Pada akhirnya, Rayna kesayangan, kita semua membutuhkan satu langkah nihilistik yang lebih radikal untuk menjadi revolusioner dalam upaya menghentikan setiap perusakan yang menyebabkan kehancuran Bumi, demi memproduksi hal paling penting bagi kehidupan: kebahagiaan sederhana yang bermakna.

Dan jika kamu, Rayna sayang, ketika dewasa nanti ternyata hanya bisa menikmati remah-remah kerusakan Bumi, maka kamu sangat berhak untuk menyalahkan (dan meminta pertanggung-jawaban dari) kami: saya dan segenap manusia dari generasi sekarang ini yang terlampau sombong, ngehek, dan bebal.

Oh iya, semoga luka di hidungmu gara-gara alergi makanan itu mengering. Cepat sembuh, Ray: jangan pernah menyerah kalah oleh apa pun!

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s