Menuju semesta

/1/

Jangan pernah kamu buka pintu itu.

Pintu dengan lubang kunci yang begitu besar dan berkarat, dengan kesunyian yang mengapit di kiri-kanannya, dengan gagang yang entah sejak kapan berteman dengan debu; biarkan tertutup rapat. Di balik pintu itu tersimpan segalanya, katamu. Segalanya, dan meski saya berhasil menata seluruh ketakutan dengan nafas yang lembut, katamu menambahkan, saya tidak akan bisa menjadi anasirnya.

Tidak ada segalanya di situ. Saya membayangkannya sebagai ruang gelap yang tidak berujung. Meski begitu, saya menuruti perkataanmu: pintu itu tidak pernah saya buka hingga hari ini.

/2/

Foto kita menempel di dinding kamar itu.

Foto seukuran post-card yang menangkap dua sosok bayangan yang begitu larut dalam kebahagiaan: saya tersenyum dan kamu — yang juga tersenyum — menggamit lengan saya sembari memiringkan kepala hingga menyentuh bahu kiri saya — dan jantung kecil berbentuk persegi milik saya.

Senyummu terlihat lebih renyah dan lebih manis ketimbang senyum Mélanie Laurent dalam film Beginners (2010). Saya bakal mengingat kita seperti ini saja, katamu saat menempelkan foto itu di dinding kamar yang mulai kusam di makan waktu. Ah…

/3/

Semua dimulai setelah jam tujuh.

Pesan singkatmu sengaja saya biarkan tetap terbuka di ponsel; saya tidak memedulikan pesanpesan lainnya. Saya datang dua jam lebih awal dengan tas yang hanya berisi dompet, satu bungkus rokokputih favorit, botol air mineral, MP3 Player pinjaman yang sudah saya isi penuh dengan lagulagu Radiohead, dan bertumpuk-tumpuk rindu. Kotabaru masih sepi ketika High and Dry meramaikan kedua kuping saya. Hanya ada satu petugas kebersihan yang saya anggap sebagai Thom Yorke sedang menyamar.

MP3 Player pinjaman itu baru saja selesai memainkan Creep ketika rasa takut tibatiba saja menyergap. Kotabaru menjadi sunyi, rokokputih yang ada di antara jemari mendadak mati; tidak ada suara, tidak ada gerak, saya hanya mendengar bunyi nafas yang tidak teratur.

Semuanya begitu lambat saat sebuah kereta datang. Tanpa penumpang, hanya ada senyum itu … Mélanie Laurent dalam film Beginners … terduduk di sana, di gerbong terakhir. Saya beranjak dari tempat penantian dan mengambil tempat duduk di sebelahmu. Seperti biasa, kamu menggamit lengan saya dan kita mulai tersenyum, sama seperti dalam foto yang kamu pegang di tangan kirimu.

Saya melihat jam tangan yang (entah bagaimana) berhenti di angka tujuh dan sayupsayup terdengar Exit Music (For a Film) dimainkan di kuping dan kepala saya. Kita harus berangkat hari ini sayang, bisikmu. Kita tidak bisa menunggu lagi hingga hari esok.

/4/

Mereka menuju semesta, berdua. Meski tidak akan pernah bisa bertemu akhir yang bahagia.

Ujar senja dalam genggaman Aphrodite yang murka. {}

Advertisements

2 thoughts on “Menuju semesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s