Mengeja harap pada sepotong syair suwung

#Untuk ayah: saya masih berharap kita bisa, untuk sekali saja, duduk berdua bersama dua cangkir kopihitam dan beberapa bungkus kretek favoritmu terhidang di atas meja — saling mengeluh, saling bercerita, saling bercanda; berbicara tentang apa saja dengan cara yang paling sunyi, paling sendiri.

Apakah rambutmu telah sempurna memutih saat jejakmu akhirnya sampai, untuk pertama kalinya, di dimensi entah, tempat di mana miliaran mimpi manusia enggan untuk beranjak melepaskan resah dan lelah?

Apakah langkahmu sempat terantuk kelam — yang kerap melahap habis setiap kemungkinan — di tengahtengah perjalananmu menuju metafora segala makna syair yang tidak terungkap, tempat di mana segalanya mengabadi, tempat bermulanya segala misteri?

Apakah dahimu mulai berkerut pada nasib yang sudah keriput dan ketenangan menenggak sebagian umurmu, lantas kemudian memuntahkan sisanya di atas tumpukan rindu yang telah kisut?

Apakah di sana — tempat di mana rebah mampu menenangkan seluruh gelisah dan amarahmu pada dunia fana hari ini — juga ada kupukupu yang beterbangan mengelilingi senja? Atau hanya ada gelap tanpa apa-apa?

Ayah…

Di sini saya masih mengeja senyap dan harap pada sepotong syair untukmu.

Di sini saya masih menghela angin menuju gagahnya senyumanmu.

Di sini saya masih menanti pelukan selamat tinggal darimu.

Atau janganjangan saya sudah sepenuhnya lenyap dari kenanganmu — tidak lagi menjadi tujuan kepulanganmu?

Ayah … apakah kita telah tiba di titik akhir yang paling getir? {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s