Tentang kebahagiaan: kita tidak hidup dalam sebuah dunia yang ideal

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: jangan terlalu sibuk membahagiakan orang lain hingga lupa untuk menciptakan kebahagiaan bagi dirimu sendiri, kesayangan.

Life will bring you pain all by itself. Your responsibility is to create joy.
— Milton H. Erickson

Rayna, sayang,.

Kehidupan memang sebanal apa yang dikatakan oleh Milton H. Erickson puluhan tahun yang lalu: dia mendatangkan begitu saja segala jenis malapetaka untuk kita. Kehidupan menghadirkan situasi yang buruk bagi kita, kehidupan membikin kita kehilangan orang yang kita cinta. Kehidupan, seperti yang nanti bakal kamu rasakan, memberikan kepada kita pemimpin yang tidak kompeten dan gagal melucu, burung beo yang tidak mampu berkicau, politisi yang sibuk mencitrakan dirinya sebagai sang penyelamat, dan lain sebagainya.

Tidak sampai di situ saja, Ray sayang. Saat ini, ketika manusia baru bangun dari tidurnya, mereka bakal langsung meraih ponsel-cerdasnya, membuka aplikasi media-sosial atau chatting, dan seola-olah menghubungkan diri dengan manusia lain dalam jaringan pertemanan maya. Di sana, di dunia maya yang serbadigital, terdapat banyak sekali keresahan, kemarahan, kegelisahan, dan keluh-kesah yang bisa diikuti dengan sengit, atau cuma sekadar tempat kosong untuk menitipkan komentar “HA! HA! HA!” dengan emoticon tertawa yang dibikin selucu mungkin.

Ray, sayang. Media-sosial menjadikan para manusia lebih berani bersuara dan merasa lebih mampu bertengkar satu sama lain, dan kita — saya dan kamu, sebagai manusia yang menjadi bagian dari peradaban modern yang kian banal itu — bisa mengikuti apa saja yang dibincangkan oleh orang-orang. Mudah sekali untuk menemukan kedunguan yang bisa dicaci-maki di media-sosial hari ini. Beberapa bulan yang lalu, misalnya, Tere Liye membikin kehebohan dengan mem-posting status yang menunjukkan ketidak-pahamannya terkait sejarah kemerdekaan Indonesia di akun Facebook­-nya (yang kemudian dia hapus karena di-bully habis-habisan oleh warga dunia maya). Atau pada bulan Januari 2016 kemarin beredar kabar yang menampilkan kebanggaan Bupati Bangka, Tarmizi Saat, karena berhasil merobohkan masjid dan mengusir warga Ahmadiyah dari wilayahnya.

(Jika kamu menganggap hal itu sebagai hal yang mengerikan, maka besok bakal muncul yang lebih mengerikan, besoknya lagi bakal muncul yang lebih ketimbang “lebih mengerikan”, dst. Saya berharap kamu, Ray kesayangan, bisa menjadi sedikit lebih pintar seiring berjalannya waktu sehingga tidak membutuhkan semua keburukan dunia hari ini. Amen-ra!)

Sejumlah orang mengutuk tindakan Tarmizi dan status Facebook milik Tere Liye itu. Sebagian lainnya malah mendukung dan mengagumi ketegasan sekaligus kedunguan mereka berdua. (Apa lacur ada yang malah bereuforia mendukung dan mengagumi? Hal ini disebabkan oleh mulai munculnya “massa otoriter”: sekelompok massa dengan kondisi psikologis yang otoriter. Gejala seperti ini sudah muncul sejak pertengahan 2000an, Ray. Ada banyak ciri-cirinya, namun yang paling utama adalah perasaan takut [paranoid] berlebihan terhadap “yang liyan” dan begitu mendambakan keteraturan. Mereka — “massa otoriter” itu — menginginkan solusi penyelesaian yang paling sederhana: adanya pemimpin “tegas” yang sanggup menghukum kelompok yang berbeda dengan seberat-beratnya, sekejam-kejamnya. Dan massa dengan kecenderungan otoriter di dalam dirinya itu terus menguat sampai saat ini.) Ini bukan yang pertama, Ray. Dan entah sudah yang keberapa dalam kasus antarkeyakinan, dan seperti yang sudahsudah, kita tidak melihat adanya solusi untuk itu semua. Dengan cara penanganan yang sama seperti dalam kasus serupa sebelumnya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kedunguan yang kerap terjadi sekarang ini tidak bakal berakhir. Tanpa perubahan cara pikir, halhal serupa bakal kembali terulang di masa yang akan datang.

Rayna sayang, sudah saatnya kita mengubah cara berpikir. Namun justru di situlah letak permasalahannya: mengubah sudut pandang dan cara berpikir bukanlah hal yang gampang. Saya dan kamu bakal kesulitan untuk meyakinkan orang-orang dungu macam Tere Liye (bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan orang-orang komunis) dan Tarmizi (bahwa warga Ahmadiyah juga memiliki hak untuk beribadah dan menentukan hidup mereka sendiri dengan tenteram). Tidak gampang untuk meyakinkan sopir bus atau selebritis atau politisi atau gembala domba yang terlampau fanatik bahwa akan lebih menyenangkan dan membahagiakan untuk bergandengan tangan dan hidup berdampingan ketimbang sibuk membenturkan batok kepala satu sama lain hingga semuanya mati dengan kepala pecah.

(Jujur, saya sebetulnya ngeri membayangkan kehidupan seperti apa yang bakal kamu hadapi nantinya melihat tingkah orang-orang di sini, Ray. Mereka suka sekali bermusuhan sampai mati dan masingmasing merasa didukung oleh tuhan [yang telah lebih dulu mereka bunuh dan bangkainya mereka seret ke mana pun mereka pergi]. Pihak yang telah memenangkan permusuhan merasa itu sebagai kehendak tuhan, serta pihak yang kalah pun merasa telah mati di jalan tuhan dan oleh karena itu merasa telah dimuliakan oleh tuhan.)

Sebagai manusia, mereka adalah makhluk yang bebal dan terlampau rumit untuk dijadikan teman. (“Manusia adalah suatu hal yang harus dilampaui!” ujar Zarathustra.) Mereka membikin neraka di Bumi untuk mendapatkan surga (jika memang ada) di langit dengan menjadikan diri sebagai masalah dan malapetaka bagi makhluk hidup lain yang sedang mengupayakan kebahagiaan di Bumi. Seandainya saya memiliki kesempatan untuk berbicara langsung dengan orang macam Tere Liye atau Tarmizi itu, saya tidak bakal repotrepot untuk menyampaikan apa-apa yang tidak bisa dicerna oleh mereka. Itu hanya akan membuang-buang waktu yang teramat berharga, bagi saya dan bagi mereka. Mereka memiliki waktu yang berharga untuk memikirkan target selanjutnya untuk dibenci dan diberantas, sementara saya memiliki waktu yang sangat berharga yang bisa saya gunakan untuk menulis, menonton film, membaca buku, menikmati pagi dengan rokokputih dan kopihitam, bercinta dengan kekasih, dan untuk bergaul dengan para kamerad yang lebih menyenangkan. Saya terlalu sibuk untuk menghidupi hidup ketimbang meluangkan waktu untuk bertemu dan meladeni orang-orang yang parah betul tingkat kegoblokannya.

Rayna sayang, berkawan dengan orang-orang yang menyenangkan adalah salah satu upaya untuk menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri. Bergaul dengan mereka — para kamerad yang menyenangkan itu — memberikan satu pelajaran yang sangat berharga: untuk tidak lupa cara berbahagia di kehidupan yang banal dalam dunia yang semakin tidak baikbaik saja ini.

its-okay-to-be-aloneKehidupan — meski telah menghadirkan keriuhan dan banyak sekali situasi buruk — harus tetap dicintai seperlunya, secukupnya. Amor fati! Toh memang kita sendirilah yang telah menuliskannya untuk kita jalani sepenuhnya. Kehidupan, dengan cara yang konyol dan menyakitkan, tetap memberikan sukacita karena telah mempertemukan saya denganmu, Ray, dan para kamerad yang menyenangkan itu. Hanya ketika situasi terlalu riuh dan banal, saya merasa perlu untuk membebaskan diri dari keriuhan dan kebanalan itu demi menciptakan kedamaian dan kebahagiaan bagi diri sendiri.

Saya sudah terlanjur untuk tidak mengembangkan bakatbakat yang lain macam memasak di dapur, bernyanyi atau memainkan alat musik, mencangkul dan menanam di ladang, keterampilan mengolah bola di atas lapangan hijau, atau berburu untuk bertahan hidup. Maka ketika banalitas dan keriuhan hidup hari ini sudah tidak tertahankan lagi, maka aktivitas yang saya pilih sebagai eskapisme adalah menulis, menonton film, dan membaca sembari menyesap kopihitam dan mengisap rokokputih. Itu adalah kegiatan yang saya sukai, Ray. Dan alangkah meruginya diri ini jika saya tidak mampu mengoptimalkan segala yang saya miliki untuk aktivitas seperti itu.

Menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri adalah urusan kita sendiri, Ray — tidak perlu campur-tangan orang lain, jika hal itu memungkinkan. Dan kamu membutuhkan cara yang efisien dan efektif untuk menghindari kerumunan (manusia dungu), untuk menghindari keriuhan yang menguras akal sehat, untuk tidak tertular banalitas hidup mereka — satu-dua cara untuk menjadikan diri menjadi pribadi yang bahagia di dunia yang sudah penuh dengan kesedihan dan kekejaman ini, Ray.

Ingatlah bahwa hidup bakal selalu memberikan provokasi — melalui ucapan yang tidak menunjukkan secuil empati, melalui berbagai macam tindakan manusia yang kita anggap dungu, melalui perilaku tidak pantas yang seringkali ditampilkan oleh mereka yang kita anggap tolol, dll. — yang memancing kemarahan kita: saya dan kamu. Maka sudah menjadi tanggung jawab personal untuk membikin jantung kita sekuat jati dan berupaya untuk memiliki isi kepala yang tidak lupa berotasi, serta untuk berbahagia.

Penting bagimu, Ray, untuk belajar bagaimana caranya berbahagia. Dan (sepertinya) penting bagi saya, mulai saat ini, untuk memberi tahumu bahwa kita tidak hidup dalam sebuah kemungkinan dunia yang ideal. Ting-a-ling!

Jangan berhenti bertanya dan membaca, serta perbanyaklah bermain. Rayna sayang, jangan lupa untuk berbahagia.

Dan, sekarang ini sudah masuk 2017 ya? Serius? Hajar, Ray!

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s