Duaributujuhbelas

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: almanak 2016 sudah resmi masuk keranjang sampah, sayang. Selamat menjalani (dan, semoga, menikmati) 2017! Bulan depan bakal ada perayaan!

Rayna, sayang.

Membikin, untuk kemudian mengumbar, resolusi menyambut kedatangan tahun baru sudah menjadi tradisi bagi orang-orang saat ini. Mereka beranggapan bahwa akhir tahun merupakan momen yang pas untuk berkontemplasi, untuk merenung, untuk mengingat-ingat kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir. Pada awal tahun, mereka mulai membikin resolusi dan janji kepada diri sendiri untuk berubah … dan kebanyakan dari mereka gagal. Harapan untuk menjadi individu baru yang lebih baik dari sebelumnya kembali dinyalakan, meski sepertinya tidak ada yang cukup berani (dan sinting) untuk mencoba menjadi berbeda dari kebanyakan, untuk mencoba keluar dari kawanan domba domestik, untuk mencoba melenceng dari kewajaran dan rutinitas harian yang banal — meski hanya sesekali dalam tempo yang sebentar saja.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh situs Statistic Brain tentang Resolusi Tahun Baru, menyebutkan bahwa cuma 8 % dari peserta survei berjumlah 100 orang yang berhasil memenuhi Resolusi Tahun Baru atau menepati janji kepada diri sendiri yang dibikin pada awal tahun, sementara 92 % sisanya ingkar dan balik lagi ke kebiasaan semula. Statistic Brain memang hanya melakukan riset itu kepada orang-orang Amerika Serikat, namun karena dunia sekarang ini — konon katanya — tanpa batas dan kebiasaan orang lain itu bisa menular, maka sebagian besar dari kita — saya, kamu, dan orang-orang yang ada di sini — ikut-ikutan untuk membikin Resolusi Tahun Baru dan janji kepada diri sendiri untuk berubah. Mungkin ada yang berjanji untuk rajin berolahraga di tengahtengah kesibukan harian yang semakin menggila, atau ada juga yang membikin resolusi untuk segera mengakhiri status kejombloannya dengan meminang sang pujaan jantung yang entah siapa dan berada di mana, atau ada juga yang berjanji untuk tidak malas bersihbersih rumah/kamar kos setiap akhir pekan, dan lain sebagainya. Singkat kata, kita berjanji untuk berubah menjadi individu yang lebih baik sembari berupaya menemukan kembali jati diri kita yang sebenarnya.

Orang-orang begitu bersemangat untuk menjalankan resolusinya masingmasing pada pekan pertama bulan Januari. Gairah itu masih menyala terang sampai pekan kedua. Lantas meredup pada pekan ketiga, dan pada akhirnya mereka mulai merasa tertekan dan tersiksa pada pekan keempat, lalu memutuskan untuk membenamkan diri kembali ke dalam kebiasaan lama ketika memasuki bulan Februari. Pada akhir tahun berikutnya, mereka bakal membikin resolusi dan kemudian gagal lagi. Terus saja seperti itu sampai amoeba lupa caranya membelah diri sendiri. Hasil 8 % yang muncul dari survei Statistic Brain itu merupakan gambaran bahwa orang-orang (dan kita, Ray) sesungguhnya cuma ingin berubah, namun tidak benarbenar memiliki kesanggupan dan keinginan untuk mewujudkannya. Hal itu menjadi bukti bahwa kita adalah makhluk yang punya kecenderungan untuk ingkar janji.

Kita sering meminta agar orang lain menepati janjinya, namun kita tidak sanggup menepati janji kita sendiri — dan itu adalah sebuah ironi, Ray. Dan saya juga termasuk makhluk seperti itu. Saya sering membikin janji kepada diri sendiri (atau resolusi, atau daftar halhal yang ingin saya lakukan dalam beberapa waktu ke depan) yang kerap saya ingkari dan tidak saya lakukan. Konklusi sementara untuk kecenderungan seperti itu: saya (dan orang-orang itu) pada dasarnya enggan dan tidak sanggup untuk berubah sampai kita mampu membuktikan yang sebaliknya.

Kemarin saya cuma bisa diam sembari tersenyum ketika ditanya perihal Resolusi Tahun Baru oleh kekasih saya. Yang terus-terusan muncul di batok kepala saya sebagai resolusi adalah tahun ini saya ingin menghabisi lebih banyak buku bacaan dan mendorong orang-orang di sekitar saya (termasuk kamu, Rayna sayang) untuk lebih gemar membaca buku, serta menikmati hidup. Saya pikir hal itu bisa membikin kita menjadi manusia yang tidak gampang tersulut oleh halhal receh di luar sana, membikin kita menjadi manusia yang memiliki hati sekuat jati dan isi kepala yang tidak lupa untuk terus berotasi.

Setelah ini, Ray, saya berjanji bakal mencoba untuk membaca buku setiap bangun tidur dan sebelum berangkat tidur, atau minimal dua jam per hari — atau setidaknya berakting seolah-olah saya sedang membaca buku dengan khidmat untuk memuaskan batin saya sendiri. Sebisa mungkin saya akan merekomendasikan buku yang telah saya baca kepada kawankawan saya dan memberikan satu buku untukmu, Rayna sayang, sebagai hadiah di setiap perjumpaan kita. Saya ingin mengurangi intensitas bermain ponsel-cerdas agar tidak menjadi kian kumal karena pergaulan dunia maya yang semakin sering menghadirkan berbagai macam ujaran sok kritis yang banal dan penuh kebencian serta membikin frustasi. Selain itu, saya bakal mencoba untuk lebih sering menertawakan banalitas hidup harian saya sendiri dan kekonyolan tingkah-pongah orang-orang saat ini.

Ray, sayang. Pada akhirnya itu cuma resolusi yang sepele, dan saya berharap bisa memenuhi janji kepada diri sendiri. Sekarang ini saya ingin lebih menghargai diri sendiri dan lebih menikmati hidup yang, apa boleh bikin, kian banal.

Yang terakhir, untukmu Ray: jangan pernah menyerah kalah oleh apa pun!

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s