Di tepian pasrah, menyerah

Di sinilah semua tanya lebur bersama lelah
suara menjadi kerdil dilahap angin
mengambil sepasang mata, menyerah
kamu merapikan syair yang sudah dingin
meletakkan kenangan, sejenak, di tepian pasrah.

Setangkup harapan pecah berserak di lantai jiwa
peluh dan hasrat bercampur menggerayangi telinga
apakah pantai selalu dipenuhi manusia putus asa?

Wahai puan yang menyusun gaduh di dada
menggenapi dimensi doa yang nyaris kedaluwarsa
katakata luka dalam peluk purnama
tentang malam yang telah melupakan rumahnya
perihal pagi yang enggan membagi cahaya. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s