Tengah malam

Yang bisa aku bisikkan hanyalah nafas tersengal-sengal
beradu dengan hasrat yang tidak ingin dipenggal.

Lalu aku jentikkan segala macam mantra dan doa — apa saja
agar tenang menunggu pagi mengantarkan senja.

Sebab, keresahan yang berantakan seringkali berlarian
kadang pula berjalan sembari asyik membunuhi harapan.

Pada tengah malam, dirimu adalah diriku
sibuk menjemur jantung, mengeringkan rindu.

Aku bisa mengukir kebutuhanmu
kamu sanggup memahat keinginanku
tentang setia yang tidak memiliki ujung
tentang rasa yang enggan terpasung.

Pada tengah malam, irisan restu disajikan oleh semesta
untuk mengecupkan asa di antara jutaan tragika.

Kesayangan … adalah “kita”, tanpa mesra, tanpa apa-apa. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s