Kita, pada 31 Maret yang cerah

#Untuk Mbak F: sesekali lihatlah balkon kantor lama kita, tempat kita sering mengulum siang bersama; perasaan kita masih tertinggal di situ.

Sebelum ini, kita hanya percaya pada renyahnya romantisme kehidupan. Ada suka, ada duka. Menemukan sesuatu, kehilangan yang lain. Kemarin tertawa, esok menangis. Harapan mengintip di balik pundak keputus-asaan.

Namun … sesekali kita juga harus paham bahwa harapan bisa saja terlepas, lalu padam. Ketidak-menentuan struktur biner, atau dualisme, itu menjadi bukti bahwa rindu yang (sengaja) ditahan terlalu lama hanya akan meninggalkan satu pesan: kebingungan — kita bingung saat mengalami puncak kerinduan. Siapakah di antara kita yang paling asing? Dan bukankah yang dibutuhkan dalam situasi seperti ini hanyalah pengetahuan dan kenangan? Atau, mungkin, pelukan?

Ini semua cuma bualan, atau mungkin hanya sekadar lelah yang membuncah. Bagaimana pun, “kita” memang pernah ada meski tidak pernah sampai pada 31 Maret yang cerah. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s