Jangan berhenti bertanya

question-everything

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: semoga kamu bukan termasuk dalam golongan manusia — dengan alasan moralitas — yang suka membunuh imajinasi dan mengebiri hasratnya.

Rayna, sayang.

Membincangkan imajinasi merupakan suatu hal yang selalu menyenangkan. Tidak ada rumus ajaib untuk merangsang dan menghidupi imajinasi yang bakal berujung pada terciptanya kreativitas seorang manusia. Tidak ada penjelasan tunggal yang absolut untuk menggambarkan bagaimana seseorang itu mampu bertindak kreatif dalam segala hal. Namun Rayna sayang, saya setidaknya mencatat adanya kesamaan di antara para manusia kreatif itu: mereka biasanya suka membaca dan sangat bagus dalam hal menyampaikan pertanyaan.

Albert Einstein — suatu hari nanti kamu bakal tahu tentang ilmuwan jenius yang satu ini karena Einstein biasanya menjadi tolok-ukur perihal kejeniusan dan contoh bahwa manusia mampu melakukan hal yang luar biasa dengan otaknya — adalah salah satu dari mereka yang suka bertanya; Socrates dan Stephen Hawking adalah contoh lainnya. Dalam satu kesempatan, Einsten pernah mengatakan bahwa dengan mengajukan pertanyaan maka manusia sejatinya telah berupaya untuk menjaga dan mempertahankan rasa ingin tahunya. Dan, Ray, keingin-tahuan — yang menurut pandangan Einstein adalah sesuatu yang suci — itulah yang pada akhirnya membikin manusia tidak berhenti berpikir. Keberanian untuk bertanya itu membikin para manusia jenius, cenderung “gila”, dan kreatif memiliki cara berpikir yang berbeda dari orang-orang kebanyakan.

Y.B. Mangunwijaya pernah menyinggung ketidak-mampuan murid sekolah di Indonesia dalam mengajukan pertanyaan. Nyaris seluruh murid — semoga kamu tidak termasuk di dalamnya, Ray — tidak suka bertanya, bukan karena mereka sudah paham dengan penjelasan yang diberikan, melainkan karena mereka biasanya tidak tahu apa yang harus ditanyakan dan takut dianggap tidak paham. Ketidak-mampuan untuk bertanya inilah yang nantinya bakal menjadikan kita — saya dan kamu — sebagai manusia yang tidak mampu berpikir kritis dan gagal dalam mengomunikasikan apa-apa yang kita rasakan dan pikirkan.

Ketidak-mampuan untuk bertanya — yang nyaris dimiliki oleh orang-orang di sini, di Indonesia — ini, Ray, bisa dibilang merupakan warisan dari rezim Orde Baru yang memang tidak menyukai pertanyaan. Pemerintahan pada saat itu berhasil membikin masyarakatnya menjadi kumpulan manusia bodoh yang takut untuk mengajukan pertanyaan apa pun. Bagi pemegang otoritas pada saat itu, mengajukan pertanyaan — apalagi terkait kekuasaan dan kebijakan nyeleneh pemerintah — adalah hal tabu yang bisa berujung pada hilangnya nyawa. Kekuasaan adalah hal absolut yang tidak boleh dipertanyakan.

Dalam pandangan penguasa, rasa ingin tahu merupakan suatu hal yang bisa mengganggu ketenteraman kekuasaannya, yang kemudian membikin orang-orang untuk memikirkan sesuatu dan menanyakan apa-apa yang mereka alami dalam kehidupan harian mereka, yang nantinya bisa menyadarkan mereka untuk melihat adanya ketidak-beresan dalam struktur hierarki kekuasaan. Karenanya, setiap pertanyaan bakal dianggap sebagai indikasi ketidak-puasan terhadap kondisi harian yang dimiliki, dan juga indikasi untuk melakukan perlawanan terhadap otoritas yang berkuasa. (Pemegang otoritas menyebut orang-orang yang gemar bertanya itu dengan satu nama, Ray: pemberontak.) Hal menyebalkan ini terjadi di semua level otoritas: baik itu negara, tempat kerja, bahkan keluarga.

Di dunia kerja, para majikan selalu menekankan kepada para buruhnya agar rajin, giat, dan aktif dalam menyelesaikan pekerjaan tanpa boleh mengajukan pertanyaan ini-itu. Buruh yang sering bertanya bisa dianggap sebagai orang yang rewel, punya kecenderungan membangkang, dan tidak bisa bekerja. Dalam setiap kesempatan, para majikan bakal menanamkan sebuah pengertian bahwa mengajukan pertanyaan adalah tindakan berisiko yang bisa mengancam karier para buruh, yang secara perlahan namun pasti diamini dengan khidmat dan penuh kesadaran oleh para buruh. Sementara itu, di lingkungan keluarga juga berlaku hal yang sama. Anggota keluarga yang kerap mengajukan pertanyaan bakal dianggap sebagai orang bawel yang aneh, dan biasanya akan dikucilkan oleh anggota keluarga yang lain.

Sebuah studi pernah menyebutkan bahwa umur empat tahun merupakan masa puncak di mana anak-anak kecil sepertimu, Rayna sayang, aktif bertanya. Menurut studi itu, anak-anak kecil berusia empat tahun mengajukan kurang-lebih 400 pertanyaan kepada orangtua-nya per harinya. Jumlah pertanyaan itu semakin menurun ketika usia anak-anak semakin bertambah, dan seiring berjalannya waktu yang menuntun manusia menuju kedewasaan, mereka pada akhirnya membunuh seluruh hasratnya untuk bertanya dan bergabung dalam kelompok urban untuk merayakan banalitas kehidupan mereka.

(Rayna, sayang. Para manusia jenius dan kreatif itu adalah mereka yang tetap mempertahankan kesenangan bertanya sampai kapan pun. Mereka menjaga semangat anak-anak kecil sepertimu di dalam diri mereka dan tetap menjadi anak-anak kecil dalam hal selalu penasaran dan ingin tahu terhadap banyak hal yang ada di dunia ini. Lantas mereka mengembangkan rasa ingin tahu di dalam diri mereka. Dan dengan itulah mereka akhirnya mampu menciptakan perubahan.)

Manusia berhenti untuk bertanya ketika mereka mengamini stereotip bahwa bertanya adalah sikap yang menunjukkan kebodohan, atau bahwa mengajukan pertanyaan adalah indikasi dia tidak tahu apa-apa. Manusia berhenti mengajukan pertanyaan sebab mereka merasa sombong dan merasa telah mengetahui segalanya yang ada di dunia ini, dan seketika itu pula mereka mulai membunuh rasa ingin tahu mereka dengan cepat, tanpa menyisakan apa pun. Menurut saya, Ray, ini adalah kesalahan pemahaman dan kekeliruan yang dilakukan oleh umat manusia yang merugikan diri mereka sendiri.

Berawal dari frasa paradoks “I know that I know nothing”, Socrates mengembangkan sebuah metode dialektika (Socratic method) yang didasarkan pada pentingnya bertanya untuk merangsang munculnya pemikiran kritis dan imajinasi agar bisa menghasilkan ide-ide brilian. Sama seperti Einstein, Socrates menekankan bahwa manusia harus selalu menjaga dan menghidupi rasa ingin tahu mereka terhadap segala hal untuk melatih cara berpikir mereka. Socrates dikenal sebagai filsuf klasik Yunani yang sering mengajukan berbagai macam pertanyaan kepada lawan bicaranya di alun-alun Kota Athena. Kebiasaan bertanya itu memang menuntun Socrates pada hukuman mati, namun Ray sayang, kebiasaan itu pula yang membikin Socrates menjadi manusia yang cerdas dan bijaksana.

Jadi, Ray sayang, yang kita butuhkan selanjutnya adalah bagaimana kita tahu cara menggunakan pertanyaan sebagai instrumen untuk memulai terjadinya perubahan dalam diri kita, sebab tujuan kita bertanya bukanlah untuk memperumit situasi kita yang memang sudah ruwet sejak awal. Dengan berbagai macam pertanyaan yang kita ajukan, kita bakal melangkah ke jalan pemikiran yang baru dan segar yang menuntun kita kepada kebahagiaan dan sukacita yang tidak purapura.

Para novelis dan cerpenis akrab dengan “metode bertanya” untuk merangsang ide mereka dalam melahirkan sebuah cerita yang menarik untuk dibaca, dan pertanyaan yang biasanya digunakan adalah “Bagaimana jika…?”. Ismail Kadare, misalnya, berandai-andai dengan pertanyaan “bagaimana jika ada seorang Firaun yang tibatiba memutuskan untuk tidak membangun piramida sebagaimana tradisi leluhurnya?” dan dengan pertanyaan itu Kadare mulai menulis cerita hingga melahirkan novel yang puitis, gelap, dan dingin dengan selera humor yang begitu pedas dan cerdas berjudul The Pyramid. Atau Franz Kafka yang mengajukan pertanyaan “bagaimana jika seseorang tibatiba mendapati dirinya berubah menjadi serangga ketika bangun dari tidurnya di pagihari?” untuk merangsang idenya dalam menulis novelnya yang paling terkenal, The Metamorphosis.

Maka dari itu Ray sayang, jangan pernah berhenti untuk bertanya. Kamu perlu mempertahankan rasa ingin tahu yang bisa membikinmu untuk terus mengajukan pertanyaan dan membantumu untuk terus berpikir. Rasa ingin tahu itu pula yang bakal membikin hidup ini menjadi lebih berarti untuk dihidupi dan lebih menarik untuk dijalani dalam setiap proses kemenjadiannya. Karena selalu ada sesuatu di luar apa-apa yang sudah diketahui oleh manusia, yang menjamin isi kepala manusia untuk tidak lupa berotasi.

Persetan dengan pandangan orang lain yang bakal melabelimu dengan sebutan, meminjam istilah masa kini, kepo hanya karena kamu ingin mempertahankan rasa ingin tahu dan konstan mengajukan pertanyaan tentang apa pun yang ingin kamu ketahui. Kepo hanyalah istilah yang digunakan mereka untuk membikinmu menjadi manusia fatalis bodoh, Ray, yang hanya bisa menerima dan menyalahkan nasib tanpa pernah mau untuk mempertanyakannya dan berniat mengubahnya. Karena masa depan belumlah tertulis, dan takdir adalah seperiuk taik kucing bikinan kita sendiri yang harus kita nikmati sendiri.

Rayna, kesayangan. Kehidupan sudah berhenti bagi manusia yang tidak lagi mengajukan pertanyaan dan telah memutuskan untuk membunuh rasa ingin tahunya. Dia sudah tidak memiliki pertanyaan (atau bahkan imajinasi, hasrat, dan harapan) apa pun perihal dirinya, situasinya, dan kehidupannya. Hidup benarbenar berakhir ketika manusia telah mematikan hasratnya untuk bertanya.

Atau, yang lebih buruk dari hal itu, kemampuan bertanya telah betulbetul musnah digantikan hasrat untuk saling menyalahkan dan menghakimi, seperti yang sekarang ini kerap dilakukan oleh kumpulan manusia modern yang katanya beradab itu.

Persenjatai imajinasimu untuk menghadapi dunia jahanam ini dengan bertanya dan membaca, Ray. Serta jangan lupa untuk terus bermain, untuk terus merayakan kehidupan!

Tabik.

NB: kapankapan kita piknik. {}

Advertisements

2 thoughts on “Jangan berhenti bertanya

  1. Rayna, Sayang. Satu-satunya cara agar tidak terperangkap oleh tentakel-tentakel negara yang tidak pernah berhenti mencoba mengontrol habis rakyatnya, adalah dengan merawat kesadaran, berpikir kritis dan menajamkan nurani.
    Selamat bertanya juga selamat membaca, Ray 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s