Pada ingatan tentang sebuah kota, kupukupu, dan senja

Di kota sialan ini saya mencintai kupukupu dan senja. Rindu yang tidak kunjung padam kembali mewujud dalam pergumulan asap rokokputih dan uap kopihitam. Dan perempuan dengan tatapan mata yang teduh beranjak pergi membawa sekoper harapan dan kenangan yang saling bunuh dalam genggaman jari-jemari tangannya.

(Kamu dan kenangan.)

Kerlip bintang di atas sana mengerjap mengingatkan saya pada sebuah potret yang menempel di dinding kamar. Potret tentang cinta dan sebuah ciuman sepasang kekasih yang tidak tuntas karena jantung mereka remuk oleh kemunafikan dan kepalsuan.

(Kenangan dan kamu.)

Sunyi menirukan bunyi rintih hujan yang mendesing di telinga kiri tentang hasrat yang terpasung oleh angkuhnya kenyataan. Kamu kah itu, yang menjelma secercah cahaya mengokupasi jendela kamar yang terbakar? Di kota sialan ini saya masih jatuh dalam pelukan cinta kupukupu dan senja.

Tidak inginkah kamu berdiri dan tersenyum lalu kemudian menjemput kepulangan saya bersama tumpukan rindu yang menggunung di pipi kanan ke tempat yang saya sebut rumah di pojokan jantungmu? {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s