Malam, saat hujan

Mari bicara tentang malam,.

Saat lampu-lampu taman dinyalakan, hitam menyelinap di antara nada-nada kelam yang memenuhi persimpangan jalan. Larik-larik debu sisa tadi siang bergerombol di bawah atap langit, untuk kemudian menyublim tanpa bekas seolah-olah mereka tidak pernah ada. Mungkin begitulah remah-remah roti Aphrodite bernama bahagia.

Malam mencumbu hujan,.

Setangkup pelukan buyar diguyur titik-titik air untuk kemudian jatuh berpeluh gigil. Namun apa yang sesungguhnya kita cari saat hujan, selain uap hangat secangkir kopihitam dan nyala asap sebatang rokokputih? Hanya itu, V. Tidak ada lagi yang lain. Harapan sudah tertinggal jauh di belakang, bersembunyi di pojokan jantung persegi yang selalu mencaci-maki, dan kita selalu terlambat menyadari bahwa mereka telah benar-benar pergi.

Malam tidak pernah memiliki rumah atau tempat singgah. Persis seperti saya yang menahbiskan diri sebagai anak semesta meski asa dan luka seringkali timpang terburai di depan kaki sendiri. Namun tidak pernah ada yang benar-benar terlepas meski terik siang kian mengganas.

Kamu ingat kios kecil di akhir jalan itu, V? Yang gelap dan selalu basah dicumbui rindu? Saya bakal berteduh di sana — hingga malam sempurna mati, menanti pagi menepati janjinya tentang sebuah senyuman untuk dinikmati dalam lindungan mentari. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s