Tidak ada surga dan neraka, hanya kamu

Entah sudah berapa lama saya biarkan kamu menari di pelupuk mata. Saya suka melihatmu bergerak menjangkau setiap jarak, dan selalu meninggalkan jejak untuk saya pijak. Kamu tibatiba berhenti melangkah, senyummu tampak lelah. Saya hampiri kelelahanmu yang bersemayam dalam ketenangan tempat peristirahatanmu.

Tidakkah kamu ingin tahu bagaimana rupa surga itu?
Seperti apa?” saya balas bertanya.
Kebahagiaan, keceriaan, kemuliaan, kesenangan, dan tidak ada kematian. Tapi aku ingin mati di sana.
Bagaimana dengan kesedihan, putus asa, kepedihan, tangis air mata?
Sudah dipastikan, itu konstruksi neraka,” jawabmu.
Apalagi yang bisa saya lakukan ketika semua huruf mati? Ketika kamu sudah tidak lagi bersemayam dalam setiap syair yang saya cipta?
Mungkin kamu hanya perlu beristirahat sebentar sebelum akhirnya terpikat lagi, sayang,” balasmu menenangkan.
Cuma kamu yang sempurna, sayang. Tanpa kematian, tanpa surga, tanpa neraka,” bisik saya. Dan kamu pun tersenyum.

Sesaat kemudian, kamu beranjak dari tempatmu, pergi bersama senja yang merah. Bersemayam dalam pangkuan malam tanpa gumam. Saya yang mengurungkan niat untuk mengikutimu memilih berbaring dalam kubur yang penuh lumpur. Menoleransi segala gundah di tepi gelisah. Mengamini segala sakit dari patah-hati.

Pada dekapan kubur, saya tetap menikmatimu dalam diam — bukan surga, bukan neraka, hanya kamu. Harapan saya masih tetap menyala untukmu, puan betina. Mari melangkah pulang, dan kita bakal membikin seisi semesta melirik iri kepada kita. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s