Secarik kertas yang membesar

Kekasih yang lahir di bulan kesepuluh.

Saya mendapati kabar bahwa secarik kertas berisi syair usang yang saya berikan padamu sekian tahun yang lalu itu kini tengah membesar. Membebanimu dengan berbagai macam kenakalan, juga kesialan. Saya pun mulai sering bertanya pada diri sendiri: mana yang lebih hangat — berlindung dalam rahim itu atau meringkuk menikmati masa tua bersamamu?

Kekasih yang lahir di bulan kesepuluh.

Sepenggal kabar yang dihidangkan senja untuk saya mengatakan bahwa secarik kertas berisi syair usang yang saya berikan padamu sekian tahun yang lalu itu kini tengah membesar — membelah diri menjadi dua. Mereka menyebutnya kesalahan terindah yang harus dikutuki bersama. Saya pun mulai sering bertanya pada diri sendiri: mana yang lebih indah — melawan kenyataan dengan cinta atau mengamini segalanya bersamamu?

Namun satu hal yang tidak pernah kamu tahu, puan betina: di malam ketika mereka mengatakan itu semua dengan sukacita pretensius yang dipaksakan, saya telah terlebih dahulu sesenggukan dan membenturkan kepala ke meja tulis.

Demi apa pun yang membahagiakan di dunia banal ini, saya telah mencoba sebaik mungkin untuk memahami segalanya, bahkan saya memiliki firasat bahwa saya dan kamu bisa menjadi “Kita” yang luar biasa. Namun setelah jutaan detik yang telah mati, firasat itu sudah tidak empuk lagi. Maksud saya — ini hidup keparat macam apa?

Masih adakah senja yang tersisa untuk “Kita”, sayang? {}

Advertisements

2 thoughts on “Secarik kertas yang membesar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s