Omong kosong pertambangan

Aksi penolakan pendirian pabrik semen di Rembang.
Aksi penolakan pendirian pabrik semen di Rembang.

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: aktivitas “merusak” itu kini disebut dengan “kemajuan” peradaban.

Rayna, sayang.

Sudah jamak terjadi, ketika ada korporasi tambang yang ingin melakukan eksploitasi, klaim pembenaran yang selalu diajukan adalah perihal upaya untuk menghadirkan kesejahteraan. Kelompok pro-tambang selalu beranggapan bahwa dengan adanya investasi besar-besaran dari korporasi pertambangan, maka dampak otomatisnya adalah daerah yang dieksploitasi bakal mendapatkan penghasilan yang besar pula. Argumen itu akan ditambah dengan penjelasan lain, misalnya bahwa pendapatan yang besar itu akan digunakan untuk membiayai proyekproyek pembangunan — baik itu pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusia di daerah sekitar lokasi pertambangan.

Tidak hanya berhenti di situ saja, Ray. Kelompok pro-tambang, dengan mulut berbusa-busa, bakal meyakinkan siapa saja bahwa kehadiran korporasi pertambangan akan bisa menyebarkan kesejahteraan di sekitar lokasi pabrik melalui serapan tenaga kerja serta kebangkitan ekonomi kawasan di sekitar pertambangan. Bagi mereka, para manusia (jahat) yang pro-tambang itu, korporasi pertambangan juga dianggap mampu memfasilitasi pemindahan teknologi. Korporasi pertambangan yang dianggap memiliki teknologi kekinian bakal mampu melakukan transfer teknologi ke daerah yang akan dieksploitasi — hal ini, oleh kelompok pro-tambang, biasanya disebut dengan “pengalaman pembelajaran bersama”.

Selain lapangan pekerjaan, hadirnya korporasi pertambangan dianggap mampu memberikan manfaat lain kepada masyarakat lokal seperti proyek infrastruktur, kompensasi pembelian lahan, investasi komunitas, dan masih banyak lagi. Hal itu merupakan bentuk “tanggung jawab sosial” dari korporasi pertambangan. Singkat kata, ada begitu banyak argumentasi yang membenarkan “eksploitasi pertambangan demi kesejahteraan”. Dan seluruh argumentasi itu merupakan klise basi yang selalu dihidangkan oleh para kapitalis bangsat dan para pendukungnya untuk melegitimasi upaya perusakan yang akan mereka lakukan. Saya sudah muak dengan itu semua! Dan Ray sayang, semoga kamu nantinya juga tidak percaya dengan aksi tiputipu itu.

Narasi kesejahteraan selalu dihadirkan secara ekonomistik. Daerahdaerah yang dianggap sebagai kawasan kumuh-miskin-memalukan dijadikan sasaran proyek pembangunan, dan eksistensi korporasi pertambangan untuk mengeksploitasi “daerahdaerah miskin” itu merupakan bagian dari proyek pembangunan — bahkan juga dianggap sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Ironisnya Ray, dalam banyak hal, mimpi dan janjijanji indah yang dibawa oleh korporasi pertambangan itu hanyalah sekadar omong kosong belaka.

Pada kenyataannya, pertambangan tidak selalu menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat lokal yang ada di daerah yang dieksploitasi. Sebuah laporan penelitian yang berjudul Digging to Development? A Historical Look at Mining and Economic Development yang diterbitkan oleh Oxfam America menyebutkan bahwa pertambangan memiliki kontribusi yang sangat kecil bagi pendapatan suatu daerah dan tidak memberikan efek positif. Daerah yang dieksploitasi sumber daya alamnya oleh korporasi tambang tidak selalu memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan perkembangan ekonomi yang terjadi di daerah itu — jika ada — bukan karena dampak dari sektor pertambangan. Hal ini berarti klaim dan argumentasi kelompok pro-tambang tentang adanya pertambangan berdampak positif bagi suatu daerah itu tidak relevan, Ray.

Sebaliknya, kehadiran korporasi pertambangan merupakan penyebab terjadinya konflik horizontal maupun vertikal di masyarakat lokal. Contohnya konflik di Zimbabwe, Sierra Leone, Pantai Gading, Liberia, Kongo, dan Angola. Di negaranegara tersebut, pertambangan berlian telah melahirkan konflik sosial yang begitu masif dan tingkat kemiskinan yang ekstrem. Yang lebih parah adalah para pejabat negara dan kapitalis bangsat di sana sengaja memelihara konflik tersebut untuk mengakumulasi modal dan profit pribadi (dan dua tipe manusia itu — pejabat negara dan kapitalis bangsat — harus kamu benci sampai ke dalam tulang, Ray). Konflik tambang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Blood diamonds ini didramatisir dalam sebuah film thriller berjudul Blood Diamond garapan Edward Zwick yang dibintangi oleh Djimon Hounsou, Leonardo DiCaprio, dan Jennifer Connelly pada tahun 2006. (Saya punya file film-nya Ray, nanti kapankapan kita tonton bersama saat kamu libur sekolah.)

Kasus serupa jamak terjadi di seluruh dunia dan selalu mengorbankan masyarakat lokal yang berada di sekitar pertambangan. Di Indonesia, kehadiran korporasi pertambangan — selain menyengsarakan kehidupan masyarakat lokalnya — telah memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Kerusakan lingkungan, seperti sungaisungai yang tercemar dan banyaknya hutan gundul, merupakan dampak dari arogansi korporasi pertambangan. Yang terjadi selanjutnya adalah bencana, seperti yang terjadi di Teluk Buyat akibat pencemaran limbah PT Newmont Minahasa Raya atau di puluhan desa di Porong, Sidoarjo, yang ditenggelamkan oleh Lapindo Brantas Inc. dengan lumpur panas yang baunya sangat busuk. Dua kasus itu — dan masih banyak lagi kasus serupa di daerahdaerah lain di Indonesia — menegaskan bahwa “eksploitasi pertambangan demi kesejahteraan” hanyalah omong kosong! Dan suarasuara kaum sub-altern yang menyerukan penolakan kehadiran pertambangan sengaja tidak didengarkan.

Selain kerusakan alam yang menghadirkan bencana, korporasi pertambangan juga merampas tradisi dan hak masyarakat lokal di sekitar pertambangan untuk menentukan hidup sendiri. Dengan adanya korporasi pertambangan, masyarakat lokal diarahkan untuk meninggalkan tradisi dan cara hidup agraris yang telah sekian lama mereka terapkan menjadi hidup dalam cengkeraman budaya industri. Perubahan sosial-kultural ini — di mana masyarakat lokal yang dulunya hidup baikbaik saja dan bahagia dengan menggarap lahan pertanian — bakal melahirkan sekrupsekrup baru bagi mesin jahanam kapitalisme, di mana masyarakat lokal yang dulunya merupakan tuan dan puan di atas tanah leluhur mereka akan berubah menjadi budak di bawah dominasi para bos brengsek dan kapitalis bangsat pemilik korporasi pertambangan yang hanya mementingkan bagaimana caranya mengeksploitasi demi akumulasi modal dan profit pribadi.

Masyarakat agraris memiliki budaya kehidupan yang khas dan sederhana dengan cara bercocok-tanam, Ray. Hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian sendiri. Tidak jarang pula ditemukan budaya saling memberi dan bertukar hasil panen (barter) dengan tetangga dalam corak hidup masyarakat agraris yang penuh dengan kearifan dan suasana kekeluargaan yang hangat dan khas. Budaya seperti ini bakal terkikis untuk kemudian sama sekali hilang dilibas oleh arogansi dan kekejaman korporasi/industri.

Kamu harus tahu semua itu, Rayna sayang. Saya tidak ingin kamu nantinya hidup dalam sebuah dunia yang sudah tidak menyisakan apa-apa lagi untuk dinikmati. Saya dan kamu harus menolak segala bentuk dominasi korporasi/industri pertambangan di mana saja dan mulai bersolidaritas dengan mereka yang sampai hari ini belum ingin menyerah untuk mempertahankan (tanah) kehidupannya dari ancaman konstan negara dan kapitalisme.

Panjang umur perlawanan!

Dengan cinta dan amarah. Tabik! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s