Perjumpaan

Segalanya hanya upacara yang rutin dan formal: kesedihan.

Mereka telah menata diri masing-masing untuk saling berhadapan,
untuk sekadar menyusun remah-remah percakapan.

Linglung tatap mereka saling menelanjangi,
gemetaran.

Mereka pura-pura melupakan sedih,
namun terlampau sombong untuk merangkul kebahagiaan.

Lantas percakapan melebar namun belum terlalu melantur,
mengunyah waktu yang tergelincir di pinggiran meja makan.

Dengan khusyuk,
mereka mulai menjejali mulut dengan kesunyian.

Bersama memasuki masa lalu yang tertidur pulas,
menenteng penyesalan.

Siap-siap mengikat isi kepala yang terdiam di remang-remang,
harapan.

Tanpa ada sedikit tanda yang dipenggal dalam memorial,
sebagai pijakan.

Lampu telah kehabisan cahaya,
mati perlahan.

Mati,
perlahan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s