Keruwetan identitas

guilty_girl_basic

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: hanya karena kita tidak mengikuti apa-apa yang menjadi tren saat ini, atau kita tidak memiliki akta kelahiran, atau di dalam dompet kita tidak ada SIM/KTP, bukan berarti kita tidak punya identitas yang pada zaman sekarang ini cuma sekadar label yang ditentukan dan disematkan oleh pasar untuk manusia.

Selamat datang di dunia spektakel!

Rayna, sayang.

Tidak ada seorang hipster yang mau mengakui kehipsterannya. Ketika ada yang secara terbuka mengakuinya, maka dia bakal dicap sebagai pengikut tren, dan ini adalah sebuah tuduhan yang cukup serius bagi seorang hipster. Hal ini dikarenakan bahwa dia merasa fashion dan cara berpikirnya disepelekan serta, pada saat yang bersamaan, dia juga merasa disetarakan dengan Slankers dan pecinta (video bokep) Ariel vokalis grup musik Noah itu.

Ruwetnya identitas semacam ini bisa jadi ada kaitannya dengan asal-muasal hipsterism itu sendiri, Ray. Mereka — kaum hipster itu — dengan sadar telah menjebakkan diri dalam kultur arus-utama dengan mengambil gaya fashion dan beberapa elemen dari gaya hidup gerakan kultur-tandingan zaman dulu — budaya punk, misalnya — namun meninggalkan elemen subversif dari gerakan tersebut. Di Indonesia sendiri, terutama dalam lingkungan perkawanan saya, fenomena hipsterism ini adalah campuran dari berbagai subkultur impor yang mulai menyebar dan berkembang pada awal 2000an. Dalam hal ini, kita — saya, kamu, kalian, dan mereka — merupakan generasi kesekian dari degenerasi berbagai macam kultur-tandingan.

Mediamedia hipster biasanya cuma membahas tentang tren gaya hidup, musik, film, dan fashion yang mengampanyekan ironi dengan pesan bahwa pemberontakan adalah suatu tindakan yang siasia. Hal ini diperkuat dengan semakin berkembangnya industri clothing lokal yang saling berlomba dalam usaha mereka untuk menjadikan identitas pemberontakan sebagai sekadar komoditas barang dagangan yang tujuan utamanya adalah menumpuk profit pribadi. Hal itu, Ray, semakin menggerus identitas subkultur yang telah kehilangan energi subversifnya dan diganti dengan kultur dominan yang mengoleksi berbagai identitas alternatif. Yang paling menakjubkan dari perkembangan ini adalah definisi “keren” telah kehilangan maknanya sejak apa-apa yang disebut “keren” dewasa ini tidak lebih dari sekadar komoditas gaya hidup yang diatur sedemikian rupa oleh korporasi media dan industri clothing. Jahanam betul!

Ray sayang. Sekarang ini kamu dapat melihat sekumpulan anak-anak muda mengenakan kaus bergambarkan Wiji Thukul, Munir, Mikhail Bakunin, Karl Marx, Circle A, Che Guevara, atau bahkan Adolf Hitler lengkap dengan lambang Partai Nazi sekali pun, tanpa pernah mengerti tentang arti yang sebenarnya di balik itu semua. Banyak juga yang mengambil gaya fashion kultur queer tanpa ada keinginan untuk menantang dan melenyapkan homofobia. Merekamereka ini gagal paham tentang perilaku anti-seni dan penghancuran budaya borjuis yang diteriakkan oleh gerakan kultur-tandingan. Lebih mudah menonton V for Vendetta (2005) atau Fight Club (1999) atau Di Balik 98 (2015), menempelkan satu-dua poster bertuliskan protes/pemberontakan di tembok kamar kos dan memajang puluhan buku bertema “berat” di dalam rak buku kamar kos, mengoleksi lagu dari grup musik punk-rock di dalam harddisk laptop, selalu eksis di setiap gigs underground, ketimbang mencoba berpikir “di luar kotak”, melampaui batasan, dan memberi makna pada hidup harian yang semakin banal dan membosankan.

Hipsterism tidak lebih dari sekadar manifesto terkini anak-anak muda yang selalu bermutasi ke dalam bentuk baru di setiap generasi yang ada di Bumi. Namun Ray, hipsterism jelas tidak menawarkan apa-apa selain koleksi imaji dan citra yang telah menjadi komoditas dunia modern hari ini.

Pada awal 2000an memang ada beberapa gelombang radikal dari subkultur punk, namun sayangnya cepat sekali meredup. Sekarang yang tersisa hanyalah merekamereka yang masih ngeyel mempertahankan etos DIY (do it yourself) meski kebanyakan dari mereka juga tidak bisa melarikan diri dari hipsterism dan lingkaran setan kapitalisme. Sekarang ini kamu mungkin sering mendengar banyak band punk yang berkoar-koar dengan lirik yang berisikan kritik terhadap gaya hidup hari ini ketika tampil di atas panggung, sembari berkata bahwa mereka sebenarnya hanya iseng dan mengharapkan profit di balik itu semua. (Bandingkan dengan Joker yang “keisengan” dan “leluconnya” adalah meledakkan sebuah rumah sakit, membakar setumpuk uang, dan mengacaukan tatanan moralitas masyarakat Gotham City.) Para hipster ini pun tertawa karena grup musik punk tersebut mengafirmasi nilai tertinggi dari kaum mereka: ironi. Mereka yang tumbuh dewasa ini dan mengidentifikasi diri mereka sebagai punk adalah mereka yang telah merengkuh sesuatu yang kemarin disebut dengan kontra-revolusioner. Saya jadi ingat lirik dari lagu Semoga Anarki Panjang Umur milik Kastratum (From Bakunin to Lacan): “Deretan band teriak resistance demi profit di panggung!

Saya, kamu, kalian, dan mereka bisa jadi termasuk dalam golongan hipster yang dengan sekuat tenaga menyangkalnya dan sekaligus menyanjungnya sebagai sebuah ironi. Hipster atau tidak, bukanlah inti dari semua ini Ray. Ruwetnya identitas — ditambah budaya konsumtif yang semakin merajalela dan menjijikkan — merupakan bencana yang menimpa generasi kita. Namun yang jelas, kita harus menyadari satu hal ini: bahwa kehampaan hidup yang kita alami tidak dapat diisi dengan koleksi imaji dan citra atau gaya hidup yang seenaknya saja diatur oleh orang lain. Yang lebih penting lagi adalah upaya pemenuhan, pencarian makna, dan pembebasan hidup harian yang lebih dari sekadar identitas alternatif. Sebab hidup bakal menjadi lebih berarti jika ia memiliki makna dan alasan untuk dihidupi.

Hidup harian saat ini sangatlah membosankan, Ray. Kita semua butuh satu langkah nihilistik lagi untuk menjadi revolusioner!

Dengan penuh cinta, dan amarah; tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s