Balada untuk rindu yang semakin jalang

/1/

Sedang dirundung mendungkah langitmu, puan betina? Sosokmu tampak membisu dalam sukacita yang saya upayakan.

Mungkin sesekali sore lebih baik tanpa senja. Biar hujan yang ganti memeluknya. Gaduh air yang berebut jatuh bagus untuk tumbuhan di depan rumah.

/2/

Tampaknya rumah telah membiasakanmu pada sesat — menyembunyikanmu dalam labirin dengan altar pemujaan yang begitu banyak dan berbeda-beda bentuknya, sibuk mencairkan padat.

Entahlah. Rumah memang begitu adanya. Saya selalu terlelap di dalamnya, bersama harap yang tidak kunjung mewujud nyata.

/3/

Senyumanmu adalah alasan tanpa nama yang tidak pernah bisa saya jamah maknanya. Langit utara gaduh tentang bangkai tuhan, tentang segala tanya.

Mari mengamini sunyi, sayang. Bintang di langit utara tampak buram. Tanya merupakan alasan bagi kedatangan sebuah kehidupan.

/4/

Kamu tidak akan pernah buram, puan betina.

Saya adalah warna dangkal, bias yang tidak pernah menjelma indah. Jangan mendekat, kamu bisa buta.

/5/

Puan betina, sayang. Saya adalah pesakitan yang dikutuk untuk terus merindu dalam kebekuan nyata. Buta? Biar saja.

Gelap itu menyeramkan. Bisakah kamu melipat jarak tanpa tersandung kelam yang kerap melahap habis setiap kemungkinan?

/6/

Saya adalah metamorfosis setiap denyut nokturnal. Persetan dengan gelap — saya bernafas dan tumbuh dalam hitam pekat yang nakal. Hingga saya menemukanmu sore itu bersama senja yang melodius, setelah pagi melahirkanmu di antara hidup yang terlanjur banal. Semesta menyembahmu!

Kamu tidak lagi bisa membedakan warna, kamu hanya melumat segala rasa di setiap malam. Kamu bersekutu dengan kelam.

/7/

Saya sudah lama buta.

Jika sudah begitu, segeralah pulang. Dingin membunuh saya perlahan, peluk adalah hangat yang selalu saya impikan.

/8/

Saya bakal memajang jutaan peluk hangat dan kecup mesra di teras rumahmu.

Pulang, pulanglah. Saya mulai lelah.

/9/

Kesayangan.

Selamanya. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s